PT Kemin Indonesia
menggelar seminar daring
bertajuk Kemin Science
Education Series dengan
menggandeng dua universitas
terkemuka yakni Universitas
 Gadjah Mada Yogyakarta dan
Universitas Brawijaya Malang.
Dalam acara yang digelar
pada dua kesempatan terpisah
tersebut, yaitu di tanggal 21
dan 23 November 2020, Kemin
membawa tema besar “Bringing
Science to Practice”, yang
menandakan bahwa Kemin ingin
senantiasa berinteraksi dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk diaplikasikan di dunia industri.
drh. Hartono Sunardi selaku Country President PT Kemin Indonesia dalam sambutannya mengungkapkan bahwa dengan terlaksananya kegiatan tersebut, Kemin sebagai perusahaan multinasional di bidang nutrisi ingin berbagi pengetahuan dan pengalamannya sejak 1961 bersama para akademisi dan para mahasiswa di universitas sekaligus berharap mendapatkan manfaat dari penerapan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi di industri dan praktek di lapangan.
“Saya selaku perwakilan dari Kemin merasa sangat senang acara seperti ini bisa terlaksana. Saya berharap kolaborasi
ini akan terus berjalan ke depan, agar kita bisa berbagi ilmu pengetahuan yang ada diperkuliahan dengan praktik ilmu di lapangan,” ujarnya.
Hartono berujar, Kemin juga berharap kepada mahasiswa untuk bisa lebih jauh mengenal dunia industri di luar kampus, karena bagaimana pun, menurut Hartono, para mahasiswa
ini lah yang nantinya akan menjadi penerus para pelaku di dunia industri. “Terlebih industri peternakan sangat luas, semuanya harus membuka mata dan terus belajar supaya tahu perkembangan yang ada,” ujar Hartono.
Clostridiosis pada unggas dan penanganannya
Dalam Webinar sesi pertama, Sabtu (21/11), Kemin menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada untuk membahas tentang keberadaan Clostridiosis pada peternakan unggas dan alat yang efektif untuk mengidentifikasi
dan mendiagnosa penyakit tersebut. Dalam seminar yang mengangkat tema “Clostridiosis in Poultry and Effective Tools to Mitigate The Disease”, Kemin menghadirkan dua pembicara yang sudah ahli di bidangnya, yaitu Dr Alex D Leon selaku Head of Technical Services Kemin Animal Nutrition and Health Asia Pasific dan Ms. Ong Hwee Ching selaku Associate CLS Manager Kemin Animal Nutrition and Health Asia Pasific.
Alex mengatakan bahwa penyakit Necrotic Enteritis (NE) yang ditandai dengan adanya peradangan pada mukosa usus, dapat bersifat akut dan
kronis. Kerusakan usus ini tentu akan menyebabkan konversi pakan atau nutrisi yang diserap oleh ayam menjadi jelek sehingga ayam tidak akan mencapai IP (Indeks produksi) yang diharapkan. Terlebih penyakit NE merupakan penyakit yang bisa bersifat klinis dan subklinis, sehingga keberadaanya sangat menyulitkan untuk diidentifikasi secara akurat. Oleh karena
itu menurut Alex sangat penting untuk mengetahui status, baik secara jumlah maupun jenis Clostridium perfringens yang ada ditubuh ayam, sehingga bisa mengidentifikasinya secara lebih akurat.
Berdasarkan konsentrasinya di dalam tubuh, jika jumlah Clostridium perfringens bernilai <104 CPU/g maka bakteri ini tidak akan menggangu kinerja usus, dan masih dikategorikan normal dan baik untuk usus. Jika konsentrasinya bernilai 104-6 CPU/g maka yang terjadi adalah Necrotic Enteritis subklinikal di mana seolah ayam (host) tidak terjadi gejala apa pun namun terjadi gangguan pada performa ayam. Sementara itu jika konsentrasinya bernilai 107-9 CPU/g ayam akan menunjukkan berbagai gejala klinis mulai dari dehidrasi, depresi, tidak mau makan dan minum, dan sampai mengakibatkan kematian.
Menurut Alex terdapat interaksi yang kuat antara host (ayam), Clostridium perfringens dan mikrobiota usus sehingga faktor yang harus diperhatikan adalah kesehatan saluran pencernaan, kekebalan tubuh yang baik, adanya kemungkinan ancaman patogen yang bisa menyerang, dan juga keberadaan mikrobiota usus sebagai fungsi penghalang, karena memang mikrobiota adalah bagian integral dari kesehatan usus.
“Selain kualitas air minum yang harus diperhatikan, biosekuriti yang tentu menjadi kunci, serta kita perlu membuat iklim yang baik di usus dengan berbagai mikrobiom. Untuk mengkondisikan mikrobiom dalam usus terjaga dengan perubahan warna hitam sudah terjadi kurang dari 6 jam, bisa diindikasikan terjadi infeksi Necrotic Enteritis Sub-Klinikal,” jelas Ong Hwee.
Ong Hwee mengatakan banyak sekali manfaat dari
alat tes diagnostik tersebut. Alat tersebut bisa memberikan informasi yang real-time kepada pelanggan, sehingga tidak terjadi penundaan keputusan medik. Kit yang mudah dibawa ke lapangan tersebut, tentu akan menghindari degradasi baik bisa kita dapatkan dengan
menambahkan organic acid,essential oils, phytobiotics,prebiotics, dan probiotics.Dengan memasukkan
mikroorganisme yang baik
pada tubuh, tentu akan
memberikan manfaat yang
bagus untuk tubuh ayam dan
memang penyakit NE ini berinteraksi dengan para mikrobiom, sehingga dengan memperhitungkan jumlah mikrobiom serta keseimbanganya dalam tubuh ayam, menjadi cara yang tepat untuk mengontrol penyakit NE dalam peternakan kita,” kata Alex.
Berbicara probiotik, Alex memperkenalkan salah satu probiotik, yaitu probiotik Bacillus subtilis PB6 dalam CLOSTATTM yang merupakan probiotik yang terbukti bisa mengendalikan NE. Lebih jauh Alex mengatakan di dalam Bacillus subtilis PB6 ini terdapat Fengycin yang mampu menghambat kolonisasi Clostridium perfringens dan mampu mengurangi racun yang dikeluarkan Clostridium perfringens, serta terdapat juga Surfactin yang mampu merusak dinding sel dari bakteri Clostridium perfringens. Berbagai penelitian sudah dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa probiotik Bacillus subtilis PB6 CLOSTATTM mampu memberikan dampak yang bagus dengan menyeimbangkan jumlah mikrobiom dalam tubuh ayam, sehingga mampu menghadang infeksi bakteri Clostridium perfringens penyebab NE.
Senada dengan Alex, Ong Hwee yang juga sebagai pemateri seminar tersebut mengatakan bahwa Kemin siap memberikan pelayanan kepada para pelanggannya berupa Customer Laboratory Services (CLS). CLS ini dapat membantu pelanggan untuk memahami, mengatur, serta mencapai kualitas pakan dan bahan pakan yang lebih baik, dengan menggunakan teknik analisa menggunakan peralatan yang canggih. Tak hanya itu, Ong Hwee juga memperkenalkan salah satu alat penguji keberadaan bakteri Clostridium perfringens yang bisa digunakan untuk memperkuat diagnosa di lapangan.
Kits tersebut mampu mendeteksi dan memperkirakan tingkat infeksi dari Clostridium perfringens. Prinsip alat deteksi cepat ini adalah dengan mendeteksi hasil metabolit Clostridium perfringen dengan reaksi kimia yang ditandai dengan perubahan warna pada media. Waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya perubahan warna tersebut merupakan indikasi jumlah dari bakteri Clostridium perfringen yang bisa diinterpretasikan sebagai tingkat keparahan infeksi.
“Protokol kerjanya dengan melakukan swab pada area kloaka, yang kemudian dimasukkan ke dalam media agar dan diinkubasi dalam inkubator mini dengan suhu 42 0C selama 6 jam, kita bisa mendeteksi fase klinis dan subklinis dari NE. Jika kualitas sampel karena transportasi dan dengan waktu deteksi 6 jam saja tentu memberikan suatu kemudahan bagi penggunanya.
“Dengan mudahnya alat kit ini dibawa ke lapangan, ini juga memperlancar pekerjaan kita agar kita tidak perlu melakukan pengujian di laboratorium yang mungkin menggunakan izin yang cukup rumit,” kata Ong Hwee.
Menjaga saluran pencernaan tanpa antibiotik
Kesehatan saluran usus memang selalu menjadi topik hangat pembahasan di industri perunggasan. Terlebih dengan pembatasan penggunaan antibiotic growth promoters (AGP) seolah semua stakeholders perunggasan harus memutar otak, yakni mencari alternatif terbaik untuk membuat saluran pencernaan usus tetap terjaga. Lebih menariknya lagi, ternyata kesehatan saluran pencernaan tidak hanya bisa dilihat dari sudut pandang kesehatan saja, namun bisa dilihat juga melalui nutrisi dan manajemen pemeliharaan.
Oleh karena itu, pada webinar sesi kedua yang diselenggarakan Kemin bersama Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Senin (23/11), Kemin mengusung tema “Assisting Gut Function without Antibiotics” yang di dalamnya membahas mengenai kesehatan saluran pencernaan dilihat dari sudut pandang nutrisi. Pada seminar tersebut menghadiran pembicara ahli yaitu Dr. Rick Carter selaku Technical Services Manager Kemin Animal Nutrition and Health Asia Pacific.
Melihat berbagai kasus Antimicrobial Resistance (AMR) pada manusia terkait produk-produk asal hewan khususnya unggas, Rick mengatakan bahwa tentu ini menjadi masalah serius yang harus dipikirkan. Menurutnya penggunaan antibiotic secara tidak bijaksana merupakan tindakan yang tidak efektif dan justru hanya menambah biaya produksi yang harus dikeluarkan.
“Sebagian besar orang mungkin khawatir ketika penggunaan antibiotic sebagai AGP dilarang, padahal sebenarnya kita bisa mengatasinya dengan pendekatan “holistik” yang lebih baik, seperti biosekuriti dan higienitas yang ketat, komposisi nutrisi yang tepat, sistem produksi yang benar, program vaksinasi yang terarah, dan juga manajemen pemeliharaan yang baik. Oleh sebab itu, dengan pendekatan “holistic” yang memadai akan bisa membantu produktivitas ternak tanpa harus mengunakan antibiotik,” tutup Rick. Adv