Cermati prinsip baku penanganan produk daging ayam
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam menjalankan bisnis produk hasil unggas, bekal ilmu bisnis dan pemasaran saja tidaklah cukup. Pebisnis milenial harus juga memahami karakteristik produk hasil unggas yang spesifik ini. Di samping mengandung protein hewani yang sangat baik untuk pertumbuhan dan kesehatan, daging ayam relatif murah dan mudah mendapatkannya. Kandungan proteinnya yang tinggi tersebut, sekaligus juga disukai oleh bakteri perusak, sehingga menjadikan daging rentan terhadap kerusakan. Oleh karena itu, kalangan milenial harus memahami 6 hal dalam dalam menjalankan bisnis berbasis produk hasil unggas.
Pertama, harus memiliki nomor kontrol veteriner (NKV). Untuk menjamin keamanan produk hasil unggas yang beredar di masyarakat, pemerintah telah mewajibkan setiap pelaku usaha yang menjualbelikan produk hasil ternak untuk memiliki sertifikasi nomor kontrol veteriner (NKV). Pada prinsipnya, sertifikasi NKV merupakan kegiatan penilaian pemenuhan persyaratan kelayakan dasar sistem jaminan keamanan pangan dalam aspek higiene-sanitasi pada unit usaha pangan asal hewan yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang di bidang kesmavet. Dengan demikian, produk hasil unggas yang ber-NKV berarti sudah terjamin keamanannya dan layak untuk diolah lebih lanjut.
Kedua, halal dan thoyib. Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam maka sudah sewajarnya jika pebisnis milenial proaktif untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut. Ketiga, menjaga higiene dan sanitasi. Pebisnis milenial perlu memahami tentang prinsip penanganan produk hasil unggas yang baik. Pada prinsipnya, sebelum menangani, mempersiapkan dan mengolah produk daging, badan dan pakaian pekerja sudah bersih untuk menghindari terjadinya pencemaran kontaminan ke dalam daging yang akan diolah.
Baca Juga: Peluang Bisnis Produk Hasil Unggas untuk Milenial
Keempat, cermati teknik penyimpanannya. Titik kritis keamanan produk hasil unggas dipengaruhi oleh adanya kontaminasi mikroba, fisik, dan kimia. Terlebih lagi daging ayam termasuk kategori bahan makanan yang bersifat perishable atau mudah rusak, sangat rentan terkontaminasi bakteri akibat tingginya kandungan gizi yang ada di dalam daging.
Kelima, cermati teknik penyajiannya. Ketika dihidangkan di meja atau rak displai, jangan diletakkan masakan berbahan daging ayam pada suhu ruang lebih dari 4 jam. Hal itu untuk menghindari zona berbahaya yakni pada suhu 4-60oC dimana pada rentang suhu tersebut, bakteri perusak akan berkembang biak secara signifikan. Untuk memperpanjang umur simpan masakan, dapat disimpan dalam kulkas, dengan mempertahankan suhunya pada suhu di bawah 4oC.
Keenam, waspadai manipulasi produk. Demi efisiensi harga, kadangkala pebisnis milenial mencari pasokan alternatif daging ayam dari suatu sumber yang belum dikenali. Menghadapi hal itu, waspadai kemungkinan adanya manipulasi produk hasil unggas oleh penyuplai nakal yang bisa berakibat merugikan pebisnis milenial.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2020 dengan judul “Peluang Bisnis Produk Hasil Unggas untuk Milenial”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153