Perubahan iklim yang ekstrem terbukti memengaruhi pola budi daya perunggasan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus para peternak supaya dapat melakukan program biosekuriti dan sanitasi yang baik dengan didukung program vaksinasi yang tepat.
Kemunculan Avian Influenza (AI) menjadi ancaman karena dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar, mulai dari kematian ayam, penurunan produksi telur, hingga risiko terjadinya infeksi sekunder. AI merupakan penyakit viral yang menyerang sistem pernapasan, pencernaan, reproduksi, dan saraf pada berbagai spesies unggas. Sampai saat ini, virus AI dikenal dengan dua jenis, yaitu High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang bersifat ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang bersifat kurang ganas. HPAI yang beredar di Indonesia adalah AI subtipe H5N1 yang menyebabkan kematian tinggi pada unggas, sedangkan LPAI yang beredar di Indonesia adalah AI subtipe H9N2. Kedua jenis AI ini sama-sama menimbulkan kerugian bagi peternak.
Kekhawatiran terjadinya outbreak AI dirasakan oleh Kelvin, pemilik sekaligus generasi penerus dari peternakan Tangkil Farm asal Cicurug, Sukabumi. Ia menceritakan bahwa peternakan layer yang dikelolanya telah ada sejak tahun 1998 silam. “Lebih dari 20 tahun lalu, orang tua kami telah mengembangkan peternakan layer mulai dari 2.000 ekor dan sampai saat ini terus berkembang,” ucap Kelvin.
Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi sekarang ini menimbulkan kekhawatiran akan munculnya outbreak AI. Hal itu dirasakan oleh Kelvin karena peternakannya pernah mengalami outbreak AI saat terjadi perubahan cuaca. “Sekitar 1 hingga 2 tahun lalu, peternakan kami pernah mengalami outbreak AI. Saat itu kondisi perunggasan memang sedang tidak baik, cuaca sedang tidak bagus, ternyata ada ayam yang terkena AI dan akhirnya menular ke ayam lainnya,” terangnya.
Kelvin menyebutkan jika terlihat beberapa gejala yang muncul pada ayamnya. “Pada peternakan kami, yang pertama kali terlihat adalah kondisi telur yang tidak bagus, seperti kondisi telur berwarna putih. Selain itu, tingkat produksi dan feed intakenya pun menjadi turun, serta yang paling parah adalah kematian mendadak,” ujarnya. Kerugian penurunan produksi telur yang dialaminya mencapai 20% dan terjadi penurunan populasi sebanyak 5-10%. “Kerugian yang kami alami cukup tinggi, produksi telur pun turun dalam waktu yang cukup lama serta kenaikan produksi menjadi perlahan dan tidak signifikan. Kami pun berdiskusi dengan rekan sesama peternak, kemudian mereka merekomendasikan penggunaan Medivac AI H5N1 & H9N2 dari Medion. Kami pun mencobanya dan ternyata cocok.”
Saat muncul gejala, Kelvin menghubungi Medion dan dengan sigap personil Medion datang untuk memeriksa lebih lanjut. Setelah dilakukan pemeriksaan pada ayam yang bergejala, hasil diagnosanya adalah terinfeksi AI. Saat itu dilakukan penanganan berupa vaksinasi pada ayam yang kondisinya cukup baik, sedangkan ayam yang kondisinya parah dilakukan pengafkiran. Setelah itu, ia merasa jika kondisi ayamnya jauh lebih baik dalam mengontrol penyakit AI. Kelvin pun mengingatkan bahwa kemunculan penyakit AI tidak melihat umur sehingga dapat terjadi pada berbagai umur ternak. “Bila ada satu ayam terkena AI, perlu diwaspadai karena penyebarannya akan sangat cepat,” jelas Kelvin.
Lebih lanjut, Kelvin menyarankan agar peternak dapat melakukan seleksi, pemberian obat, dan vaksinasi menggunakan Medivac AI H5N1 & H9N2. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah perlu meningkatkan kebersihan kandang dengan melakukan biosekuriti yang ketat dan melakukan desinfeksi kandang lebih sering agar hasil vaksinasi lebih optimal.
Kendalikan penyebaran Avian Influenza
Pengalaman terjadinya outbreak AI membuat Kelvin semakin memperhatikan program vaksinasi di peternakannya. Ia menambahkan jika peternakannya terbilang berjauhan dengan kandang lain. Akan tetapi, kondisi iklim yang tidak menentu dan adanya burung-burung liar yang tidak dapat dikendalikan kerap menjadi pencetus munculnya kasus HPAI ataupun LPAI. Maka dari itu, pengendalian penyakit AI dibutuhkan dengan melakukan program vaksinasi Medivac AI H5N1 & H9N2 yang homolog dengan isolat lapang.
Pemberian dosis Medivac AI H5N1 & H9N2 dapat diberikan sebanyak 0,5 ml per ekor ayam dewasa dan untuk revaksinasi dapat diberikan dengan dosis yang sama. “Penggunaan Medivac AI H5N1 & H9N2 pada peternakan kami terbukti membuat produksi layer kami menjadi stabil dan risiko kematiannya menurun. Medivac AI H5N1 & H9N2 terbukti dapat bekerja dengan sangat optimal,” ujarnya.
Kelvin juga menuturkan bahwa pelayanan yang diberikan oleh Medion sangat baik dan profesional. Selain itu, produk yang diberikan terbukti kualitasnya dan bermanfaat bagi para peternak. Kelvin berharap semoga Medion bisa tetap berkembang mengikuti permasalahan yang terjadi di lapangan sehingga tetap dapat membantu peternak di Indonesia. Adv