Kondisi cuaca di Indonesia yang tak menentu, perlu diwaspadai oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para peternak. Salah satu pemicunya saat musim pancaroba, dimana sering terjadi peningkatan jumlah penyakit yang menyerang unggas diakibatkan oleh munculnya lalat di kandang. Keberadaannya dapat memicu penurunan produktivitas, meningkatkan tingkat mortalitas dan berdampak kerugian secara ekonomi.

Kebijakan pemerintah dalam pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP), yaitu pembatasan penggunaan antibiotik pada hewan ternak khususnya unggas dan dengan diberlakukannya program Antimicrobial Resistance (AMR) di seluruh dunia telah menjadi tantangan bagi industri perunggasan yang dinamis. Maka dari itu, dalam meminimalisir penyebaran dan pencegahan penyakit pada unggas dapat dilakukan melalui meningkatkan biosekuriti di kandang, karena melalui biosekuriti yang baik dapat menutup pintu masuk  mikroorganisme di peternakan.

Dalam mendukung industri perunggasan agar terlindungi dari ancaman penyakit, PT Novindo Agritech Hutama dan PT Elanco Animal Health Indonesia menyelenggarakan seminar daring bertemakan “Controlling Fly Borne Diseases in AGP Free Era” serta pengenalan produk AGITA 1GB dan AGITA 10 WG melalui aplikasi zoom pada Selasa (1/3).

Dalam sambutannya, drh. Irawati Fari selaku Direktur Utama PT Novindo Agritech Hutama mengatakan bahwa saat ini masyarakat sedang berhadapan dengan situasi Pandemi Covid-19, dimana masyarakat semakin menyadari akan asupan gizi yang baik dan seimbang dalam menjaga imunitas tubuh.

“Kita turut berperan serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi protein hewani khususnya protein asal unggas dalam meningkatkan imunitas tubuh. Dalam memenuhi kebutuhan protein hewani, menjadi tanggung jawab kita untuk menghasilkan produk protein hewani yang sehat dan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Tentunya, hal in menjadi tantangan dan peranan kita untuk meningkatkan produktivitas hewan ternak dan menjaga kesehatan hewan ternak,” ujarnya.

Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan budi daya pemeliharaan yang baik, pemberian nutrisi, peningkatan biosekuriti dan juga menggunakan produk-produk yang terjamin dari segi kualitas serta legalitasnya. Ira menambahkan dengan pembatasan penggunaan antibiotik dan AGP, diperlukan program biosekuriti yang tepat agar mikroorganisme sumber penyakit tidak masuk ke kandang. Insekta merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat mentransmisikan penyakit, termasuk lalat yang banyak sekali ditemukan di kandang. “Elanco Animal Health Indonesia dan Novindo Agritech Hutama berupaya memberikan solusi dalam pengendalian lalat. Diharapkan dapat mencegah hadirnya lalat dan penyebaran penyakit lainnya di kandang dan dapat eningkatkan produktivitas ternak serta mengurangi dan mengendalikan mortilitas ternak yang diakibatkan oleh lalat,” jelas Irawati.

Selanjutnya menurut Eka Purwayaneka Rhamdani selaku Commercial Excellence & Channel Partner Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, turut memberikan sambutannya. Ia mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran para kolega dan peserta seminar daring yang tetap semangat menghadiri kegiatan ini walaupun dalam situasi pandemi. “Elanco Animal
Health Indonesia akan lebih fokus dan berkomitmen untuk terus memberikan informasi dan update terkini melalui kegiatan seminar daring dan edukasi lainnya untuk kemajuan peternakan kita di Indonesia,” tuturnya sekaligus membuka seminar “Controlling Fly Borne Diseases in AGP Free Era”.

Lalat di peternakan
Pada seminar daring kali ini menghadirkan Prof. drh. Wasito M.Sc, Phd yang membahas mengenai “House Flies: Vector Borne Diseases”. Dalam persentasinya Prof. Wasito menyebutkan bahwa sangat diperlukan kontrol pada lalat dengan melakukan sistem good biosecurity. Banyak para peternak yang belum menyadari akan pentingnya menggunakan produk-produk yang bagus untuk melakukan kontrol terhadap lalat di kandang.

Keberadaan Musca domestica atau lalat banyak sekali dijumpai di berbagai lingkungan termasuk dalam peternakan unggas, ruminansia, babi, maupun di sektor perikanan, rumah tangga dan pasar basah. Keberadaannya sulit untuk dibasmi karena memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan didukung oleh lingkungan yang tidak bersih. “Lalat sangat menyukai tempat yang berair dan kotor. Selain itu, lalat pun menyukai feses, bahan yang mudah busuk, darah, susu dan gula sebagai sumber makanannya,” jelas Wasito.

Masih banyak yang menganggap bahwa lalat tidak akan memberikan pengaruh buruk bagi ternak. Namun, Prof. Wasito menjelaskan bahwa suatu wilayah yang terkena outbreak penyakit dalam waktu yang berdekatan, hal yang perlu dikendalikan adalah keberadaan lalat dilingkungan  tersebut. “Hal ini pernah terjadi, dimana satu wilayah tersebar beberapa peternakan sapi, kambing, ayam dan adanya beberapa kolam ikan. Wilayah tersebut telah terjangkit penyakit yang sama yaitu tuberkolosis. Sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut, hal yang pertama harus dilakukan adalah pembasmian lalat yang ada di wilayah tersebut,” jelas Wasito.

Lalat dapat menyebarkan lebih dari 100 jenis virus penyakit, bakteri, protozoa dan parasit. Prof. Wasito menyebutkan beberapa penyakit yang sering kali dialami ternak seperti Myasis,
Tuberkolosis, Antrax pada ruminansia, Disentri, Leprosy dan Newcastle Disease (NDV), serta Avian Influenza (AI) pada unggas yang kerap terjadi diakibatkan oleh transmisi penyakit dari sumber ke ternak yang disebarkan oleh lalat.

Selain itu, bakteri yang dapat berpindah melalui lalat di antaranya E.coli, Salmonella spp.’ Aeromonas spp. dan Campylobacter spp, dengan mengendalikan lalat dapat menekan
penyebaran penyakit pada peternakan dan pada nantinya akan mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik untuk menangani penyakit-penyakit tersebut.

Lalat sebagai vektor mekanis dan biologis penyebaran penyakit telah dibuktikan melalui serangkaian penelitian yang telah dilakukan saat kasus Flu Burung terjadi di Indonesia. Prof. Wasito menceritakan bahwa telah dilakukan penelitian biakan lalat selama 6 periode dan ditemukan hasil bahwa pada telur, larva dan pupa terdeteksi H5N1 atau flu burung.
Dalam mencegah munculnya penyakit di kandang, Prof. Wasito menegaskan untuk selalu disiplin dalam melakukan kontrol lalat secara keseluruhan, karena hanya terlihat 20% saja lalat dewasa yang berada di lingkungan kandang, sedangkan 80% lainnya masih berbentuk telur, larva dan pupa. “Jadi dalam membasmi lalat harus secara menyeluruh, tidak bisa hanya lalat dewasa saja. Apabila masih bersisa, lalat akan tetap muncul dan munculnya penyakit akan tetap berulang,” tegasnya.

Lalat dalam jumlah besar dapat berdampak negatif pada kegiatan peternakan unggas termasuk penurunan kinerja produksi: peningkatan risiko biosekuriti, lingkungan kerja yang buruk peningkatan biaya untuk pengendalian lalat, peralatan yang rusak, peningkatan biaya pembersihan di antara flock. Keberadaan lalat dalam jumlah besar dapat menyebabkan
stres pada unggas dan secara drastis dapat mengurangi konsumsi pakan sehingga mengurangi produksi daging dan telur. Selain itu, keberadaannya dapat menyebabkan bercak pada bangunan dan peralatan, pada perlengkapan lampu (mengurangi tingkat penerangan), dan pada telur (potensi penularan patogen ke delam telur yang baru diletakkan). Hal ini dapat mengurangi daya beli konsumen dan mengurangi nilai pasar.

Atasi lalat dengan Agita
Berdasarkan pemaparan dari Nataila Cintya Hariyani, DVM selaku Technical Specialist Bioprotection PT Elanco Animal Health Indonesia dalam persentasinya mengenai “Agita Differential Used” menyebutkan bahwa penyakit unggas dapat berpindah secara
mekanis pada bagian tubuh lalat atau melalui area yang disinggahi lalat yang disebabkan oleh kotoran dan buangan dari pencernaan lalat pada bangunan, peralatan dan pakan.

Maka dari itu, dibutuhkan Integrated Pest Management (IPM) dalam mendepopulasi lalat beserta siklus hidupnya. Tahapan yang dapat dilakukan dalam IPM ini untuk melihat tantangan lalat di kandang termasuk yang beresiko rendah atau tinggi, melihat potensi penyebaran penyakit oleh lalat, dan menilik metode yang dapat digunakan berdasarkan waktu, tempat, dan efektifitasnya.

“Keberadaan lalat ini memiliki efek ekonomi dan lingkungan, jadi kita pun harus benar-benar menggunakan metode yang sesuai agar konsep “One World One Health” dapat berjalan dengan baik,” jelas Cintya. Terdapat 4 metode yang dapat dilakukan dalam mengurangi dan membasami lalat di kandang, yaitu dengan menggunakan metode lingkungan, metode fisikal, metode biologikal (dengan menggunakan insektisida) dan metode kimia.

Metode yang paling mudah dan sering digunakan adalah dengan menggunakan metode kimia dengan penggunaan produk Agita dari Elanco Animal Health Indonesia. Agita terdiri dari 2
varian, yaitu Agita 1 GB dan Agita 10 WG. Keduanya memiliki kandungan kimia yang sama, yang membedakan adalah dari segi bentuk penyajiannya.
“Pada Agita 1 GB, berbentuk granul dengan warna kuning yang bekerja sebagai racun yang akan menempel di badan dan alat hisap lalat. Sedangkan Agita 10 WG merupakan sediaan yang digunakan sebagai spray ataupun dicairkan,” jelas Cintya.

Pada tabel 1, dapat dilihat perbedaan komposisi bahan aktif yang terkandung pada Agita 1GB dan Agita 10 WG, hal ini dipengaruhi oleh cara pengaplikasian yang berbeda, namun keefektifan dan hasil yang didapatkan dalam membasmi lalat tetap sama.  “Peternak dapat menggunakan salah satu maupun keduanya untuk diaplikasikan, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang terjadi di kandang. Penggunaan Agita 1 GB biasanya di tempatkan pada sebuah wadah atau nampan yang disimpan di tempat yang aman dari jangkauan ternak dan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Apabila lalat sudah terlalu banyak, dapat diganti dengan tempat baru. Sedangkan Agita 10 WG dapat digunakan
dengan disemprotkan ke tembok ataupun lantai, atau di pulas pada tempat-tempat yang sering kali dihinggapi lalat,” terang Cintya.

Cintya pun menambahkan dalam periode pemeliharaan ayam, penggunaan Agita dapat dikombinasikan dengan penggunaan Larvadex untuk membasmi larva pada periode tertentu. Dalam program kontrol lalat, tidak hanya lalat dewasa saja yang harus dibasmi. Namun, pada fase telur, larva dan pupa pun perlu untuk di berikan penanganan agar keberadaanya hilang secara menyeluruh dan tidak berkembang biak kembali. Adv