Komoditas ayam ras pedaging (broiler) saat ini sangat besar kontribusinya untuk memenuhi kebutuhan protein di Indonesia. Berdasarkan data dari OECD FAO, konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2023 sebesar 8,37 kilogram per kapita per tahun. Data tersebut menunjukan bahwa konsumsi daging ayam di Indonesia terus mengalami pertumbuhan meskipun masih dibawah rata rata konsumsi daging ayam dunia. 

Mengabaikan kepadatan kandang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap performa produksi broiler dan keberhasilan usaha secara keseluruhan.

Broiler dapat menghasilkan daging banyak dalam waktu yang singkat sehingga sangat potensial untuk dijadikan komoditas unggulan untuk memenuhi kebutuhan protein di Indonesia. Meskipun demikian, tentunya ada kekurangan dari broiler yang dapat mempengaruhi performanya yaitu cenderung rentan terhadap serangan penyakit dan stres. Maka para peternak harus ekstra dalam pemeliharaan broiler sehingga produktivitas produksi dapat dioptimalkan.
Pentingnya kepadatan kandang 
Kepadatan kandang (density) dalam peternakan mengacu pada banyaknya jumlah broiler yang ditempatkan dalam suatu area kandang. Density adalah aspek penting dalam manajemen pengelolaan pemeliharaan broiler, yang berdampak pada kesejahteraan, kesehatan, dan produktivitas broiler. Kepadatan kandang merupakan salah satu faktor penyebab stres yang diindikasikan dengan perubahan pola makan dan beberapa perubahan perilaku pada ayam. 
Woro dkk. (2019) menyatakan bahwa semakin tinggi kepadatan kandang maka ruang akan semakin sempit, pergerakan ayam sangat terbatas sehingga suhu tubuh naik dan menurunkan konsumsi pakan. Hal ini memungkinkan semakin rendah pula bobot badan ayam. Kandang yang terlalu penuh akan menyebabkan lebih banyak persaingan untuk mendapatkan makanan, air minum dan oksigen. Ayam yang kalah saing akan kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.  Dalam persaingan ini akan ada ayam yang menang dan kalah sehingga menyebabkan pertumbuhan tidak seragam.
Dalam sebuah diskusi dengan Poultry Indonesia, Ahmad Shokhibul Khizzudin selaku Supervisor Farm di Sreeya Sewu Farm Cimaung menjelaskan bahwa menurut hematnya, density adalah perbandingan antara populasi ayam dengan luas kandang. “Tujuan dari density adalah untuk mengatur agar tidak terjadi over populasi. Resiko penyakit dan stres bisa jadi sangat tinggi apabila tidak mengatur kepadatan kandang dengan benar,” ujarnya secara daring pada Jumat (23/2).
Menurut Ahmad, untuk menentukan tingkat kepadatan kandang dapat dilakukan dengan cara menghitung jumlah ayam dibagi dengan luas kandang. Tetapi rumus tersebut tidak baku. Biasanya peternak tetap harus memperhatikan kondisi teknis lainnya seperti jenis kandang yang dipakai, bobot awal DOC dan kondisi cuaca saat pemeliharaan.

 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com