POULTRYINDONESIA, Bogor – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga telur ayam ras di tingkat peternak, menyusul laporan anjloknya harga telur di beberapa wilayah Jawa Timur. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah cepat agar harga tidak jatuh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).
“Saya kemarin dihubungi ada harga telur jatuh di Jawa Timur. Saya bilang, beli saja dan tidak boleh lebih rendah dari harga HPP. Jadi harus di atas HPP,” tegas Dadan dalam pernyataannya pada peresmian Rumah Susu Unit Sentul, Selasa (21/4/2025).
Menurut Dadan, koperasi akan diberdayakan untuk menyerap kelebihan pasokan telur dari peternak, dan telur-telur tersebut kemudian akan disalurkan ke dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kita tidak menginginkan dan tidak mengizinkan terjadinya penurunan harga di bawah HPP. Langsung kita serap. Jadi siap-siap saja, yang kelebihan telur dan harganya turun, kita akan kirimkan koperasi untuk menyerap produk itu,” ujarnya.
Dalam upaya menjaga keseimbangan pasar, Dadan menjelaskan bahwa ketika harga telur turun, intensitas konsumsi dalam program MBG akan ditingkatkan. Jika sebelumnya konsumsi telur dalam program MBG dilakukan dua kali dalam seminggu, maka akan ditingkatkan menjadi setiap hari.
“Biasanya telur seminggu dua kali, begitu harga turun kita akan suruh masak setiap hari saja biar terjamin. Dan ketika masak telur, ajaibnya banyak orang berpikir Rp10.000 itu tidak cukup untuk apa-apa. Tapi ternyata, kalau kita masak telur dengan sayur, buah, dan nasi, biayanya hanya Rp6.000,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, dengan harga telur Rp30.000 per kilogram, biaya makan bergizi bisa sangat efisien. Bahkan dengan tambahan segelas susu seharga Rp2.700, total biaya masih di bawah Rp10.000 per anak. “Jadi telur dan susu ini nanti akan kita bilang satu paket yang harus diberikan pada anak-anak. Ini penting untuk pemenuhan gizi mereka,” imbuhnya.