Pengembangan produk herbal untuk sektor perunggasan di Indonesia memang masih memerlukan usaha dari berbagai pihak secara sistematik.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Senada dengan Sofianna, Prof. Ir. Arnold Parlindungan Sinurat, Ph.D selaku Peneliti Utama Balai Penelitian Ternak (Balitnak), mengatakan bahwa dirinya memang sudah lama meneliti tentang herbal jauh sebelum pemberlakuan pelarangan AGP. Usaha antisipasinya tersebut terhalang oleh pendanaan penelitian yang tidak selalu ada, sehingga penelitian tersebut tidak berkelanjutan dan berdampak pada belum terkomersialisasikannya penelitian tersebut.
Keberlanjutan penelitian ini sangatlah penting mengingat bahwa dengan penelitian tanaman herbal di Indonesia akan berimplikasi pada usaha mengeksplorasi tumbuhan herbal asli Indonesia yang berpotensi untuk dijadikan obat maupun pengganti AGP di perunggasan, serta usaha dalam pelestarian sumber daya genetik tersebut. Jika Indonesia dapat memproduksi produk herbal sebagai imbuhan pakan secara mandiri, maka kemungkinan untuk menurunkan biaya tersebut.
Arnold menuturkan, saat ini biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak untuk imbuhan pakan setelah pelarangan AGP membengkak sampai 8 kali lipat dari sebelumnya. Keterlambatan pengembangan produk herbal menjadi salah satu yang membuat biaya produksi beternak menjadi lebih mahal karena alternatif pengganti AGP tidak kunjung ada. Keterlambatan ini turut dipicu oleh tidak diimplementasikannya undang-undang yang sudah lama berlaku mengenai AGP. Akibatnya peternak yang sudah terlalu terlena menggunakan AGP kelimpungan pasca ditegaskannya peraturan tersebut pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 14 tahun 2017 yang baru efektif pada awal tahun 2018.
Pada akhirnya, untuk memajukan produk herbal untuk sektor perunggasan di Indonesia, tidak bisa hanya mendorong dari satu lini saja. Perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak untuk mau duduk bersama, saling mendengarkan apa yang diperlukan di dunia perunggasan, dan mencari jalan keluar bersama, sehingga sektor yang menjadi penyumbang protein hewani terbesar di Indonesia ini semakin maju dari segi manajemen, kesehatan hewan, maupun kemanan pangannya.
Baca Juga: Menjaga Keamanan Pangan Produk Telur
Hal serupa juga diungkapkan oleh drh. Akhmad Harris Priyadi selaku General Manager Feed PT Menjangan Sakti yang diwawancarai Poultry Indonesia di Jakarta, Selasa (12/11). Harris mengungkapkan bahwa perlu adanya tiga pilar untuk pengembangan produk herbal ini yaitu perguruan tinggi, swasta, dan pemerintah yang bergabung bersama untuk memajukan produk herbal, sehingga peternak bisa memanfaatkan. “Jadi pengembangan produk herbal ini seperti proyek bersama,” jelasnya.
Harris juga berharap pemerintah memberikan bantuan berupa dana kepada peternak untuk pengembangan kandang. Hal tersebut sebagai upaya dalam mendukung sistem budi daya yang lebih baik, karena menurutnya, fungsi dari herbal yang ditujukan untuk menjaga kesehatan ayam tidak akan berjalan dengan semestinya apabila biosekuriti dalam kandang juga masih belum diimplementasikan dengan baik.
Pengembangan produk herbal untuk sektor perunggasan di Indonesia memang masih memerlukan usaha dari berbagai pihak secara sistematik. Hal ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun jika semua pihak yang terlibat berkeinginan kuat, maka bukan hal yang mustahil Indonesia akan menjadi negara terdepan dalam riset maupun produksi produk herbal perunggasan untuk pasar dunia. Esti, Domi
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “ Menyongsong Kemajuan Produk Herbal Perunggasan Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153