Formulasi ransum modern tidak lagi berorientasi hanya pada persentase protein kasar, melainkan pada kecukupan dan rasio asam amino.
Di tengah tantangan industri perunggasan, mulai dari fluktuasi harga bahan baku, risiko penyakit, hingga tuntutan efisiensi, inovasi nutrisi menjadi sangat krusial. Salah satu metode yang mulai dimanfaatkan adalah formulasi pakan rendah protein untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya dan dampak lingkungan.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa penurunan kadar protein kasar (crude protein/CP) dari 17% menjadi 13–15% mampu mempertahankan produksi dan efisiensi pakan serta menurunkan ekskresi nitrogen sekitar 10–15%. Namun, pengurangan protein kasar juga berpotensi menurunkan bobot dan kualitas telur, sehingga keseimbangan asam amino (AA) menjadi faktor kunci dalam menjaga produktivitas dan kesehatan pencernaan ayam.Â
Formulasi ransum modern tidak lagi berorientasi hanya pada persentase protein kasar, melainkan pada kecukupan dan rasio asam amino. Konsep ideal protein menegaskan bahwa apabila seluruh asam amino esensial tersedia dalam proporsi yang tepat, kadar protein kasar dapat diturunkan tanpa mengganggu performa. Strategi ini juga berkontribusi pada penurunan ekskresi nitrogen, sehingga budi daya jadi lebih ramah lingkungan.
Menurut Bregendahl, et al. (2008), pola kebutuhan asam amino ideal untuk ayam petelur (SIDAA) adalah Lys: Met: Trp: Thr: Met + Cys: Arg: Ile: Val = 100: 50: 21: 70: 91: 104: 80: 88. Meski begitu, belum diketahui secara jelas ambang batas optimal penurunan protein kasar dan strategi keseimbangan asam amino dalam pakan rendah protein.Â
Untuk itu, penulis merasa perlu mengevaluasi pakan rendah protein dengan suplementasi beberapa asam amino esensial terhadap performa produksi, kualitas telur, dan kesehatan usus, guna mendukung penerapan strategi nutrisi rendah protein pada ayam petelur secara lebih tepat.
Sebanyak 384 ayam petelur Hy-Line berumur 33 minggu dibagi ke dalam 4 perlakuan dengan 8 ulangan. Masing-masing ulangan berisi 12 ekor ayam dan dipelihara selama 20 minggu. Kelompok perlakuan tersebut antara lain:
-
Kontrol, dengan suplementasi protein 15,91% dan 4 asam amino esensial (Lys: Met: Thr: Trp = 100: 45: 73: 21 [Lys 0.75 %]),
-
LPF, dengan suplementasi protein 14,53% dan 4 asam amino esensial (Lys: Met: Thr: Trp =100: 45: 73: 21 [Lys 0.75 %]),
-
LPS, dengan suplementasi protein 14,58% dan 8 asam amino esensial (Lys: Met: Thr: Trp: Arg: Leu: Ile: Val = 100: 45: 73: 21: 101: 138: 96: 78 [Lys 0.75 %]),
-
LPH, dengan suplementasi protein 13,05% dan 8 asam amino esensial (Lys: Met: Thr: Trp: Arg: Leu: Ile: Val = 100: 45: 73: 21: 101: 138: 96: 78 [Lys 0.75 %]).
Ayam dipelihara dalam kandang tertutup dan lingkungan terkontrol. Selama penelitian, pakan diberikan dua kali sehari (09.00 dan 15.00), air minum diberi secara ad libitum, dan dengan program pencahayaan 16 jam terang 8 jam gelap menggunakan lampu pijar intensitas 15 lux. Disinfeksi dilakukan setiap minggu, kandang dibersihkan secara rutin, dan suhu ruangan dijaga pada 20–22°C dengan kelembapan 50–65%.
Parameter yang diamati meliputi performa produksi, kualitas telur, hormon plasma, morfologi usus, ekspresi protein, kecernaan asam amino, serta mikrobiota usus. Pengecekan ini memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang benar-benar terjadi di dalam tubuh ayam ketika konsumsi protein diturunkan.
Batas Persentase Protein dan Kebutuhan Asam Amino
Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas penurunan protein kasar (CP) memiliki implikasi fisiologis yang jelas. Kelompok LPF (CP 14,53% + 4 AA) mengalami peningkatan FCR dibanding kontrol, yang menandakan bahwa penurunan protein tanpa perluasan keseimbangan asam amino menurunkan efisiensi pakan. Pada kelompok LPH (CP 13,05% + 8 AA), FCR juga meningkat dan diikuti penurunan produksi serta bobot telur. Ini menunjukkan bahwa reduksi protein yang terlalu besar tidak dapat sepenuhnya dikompensasi meskipun pola asam amino telah diperluas.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi:Â https://wa.me/+6287780120754Â atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.










