Kandang ayam dengan sistem free range yang bertingkat serta terdapat space umbaran akan membuat ayam lebih sejahtera (Sumber : www.theguardian.com)
Oleh : Mochammad Fahmi Habibi*
Dengan lahan yang cukup terbatas, yaitu sekitar 40.000 km2, negara ini mampu memproduksi sekitar 665.000 ton telur dan 1.200.000 ton daging ayam setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena terdapat inovasi teknologi dan strategi penempatan lokasi industri perunggasan dari hulu ke hilir. Selain itu, profil perusahaan perunggasan di Negeri Kincir Angin ini merupakan bisnis keluarga yang dijalankan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Perang dunia kedua memberikan dampak negatif kepada ketersediaan pangan di semua negara di dunia, salah satunya adalah Belanda. Bencana kemanusiaan tersebut membuat petani dan peternak memproses lahan pertanian dan peternakannya secara modern untuk mengoptimalkan produksinya. Hasilnya, Belanda saat ini adalah salah satu negara di Uni Eropa yang memiliki efisiensi yang cukup tinggi di industri peternakan, khususnya di bidang perunggasan

Perusahaan menjadi sektor yang maju karena selama bertahun-tahun kolaborasi antara peternak, universitas, institusi penelitian, dan industri menghasilkan output teknologi yang selalu up-to-date bagi industri perunggasan. Bahkan, sebelum perang dunia pertama, pemerintah Belanda sudah menginisiasi program edukasi dan konsultasi untuk peternak yang memiliki masalah di lapangan serta yang menginginkan inovasi. Sehingga, pengetahuan perunggasan dari peternak-peternak di Belanda sudah cukup mumpuni karena terbiasa dengan perubahan dan inovasi.
Namun, dengan tingginya produktivitas industri perunggasan di Belanda justru menjadi bumerang tersendiri karena isu-isu kesejahteraan hewan (animal welfare) dan sustainabilitas mulai muncul ke permukaan. Efek samping dari sistem produksi intensif yang konvensional adalah animal welfare yang terkesampingkan yang berdampak pada tingginya eksploitasi unggas tanpa adanya penanganan pemeliharaan yang baik. Selain itu, cemaran lingkungan, penyebaran penyakit, dan penggunaan lahan yang diakibatkan oleh industri perunggasan menjadi permasalahan lain yang perlu diselesaikan.
Di sisi lain, ada suatu titik di mana penerapan praktik animal welfare pada industri perunggasan menjadi suatu masalah baru bagi konsep sustainabilitas yang digaungkan oleh banyak pihak di Belanda. Sebagai contoh pada industri broiler di mana menggunakan ayam yang secara genetik lebih lambat pertumbuhannya, atau disebut dengan slow growing breed.
Pengaplikasian praktik ini dimaksudkan agar ayam yang dipelihara bisa hidup lebih panjang. Namun, dampak yang dihasilkannya adalah penggunaan energi, air, dan pakan yang akan selalu bertambah. Selain itu, cemaran limbah ke lingkungan, seperti amonia, karbon dioksida, debu, dan bau, juga akan terakumulasi lebih besar. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu tantangan yang dialami industri perunggasan di Belanda.
Penerapan animal welfare pada industri perunggasan di Belanda
Karena semakin berkembangnya industri peternakan setelah perang dunia kedua, sejak tahun 1960-an, Pemerintah Belanda sudah mulai membuat peraturan-peraturan yang memperhatikan kesejahteraan hewan. Kemudian, di tahun 1990, di dalam parlemen Uni Eropa, negara ini menjadi pionir untuk implementasi regulasi animal welfare di kawasan tersebut, termasuk menerapkan prinsip 5 freedom untuk hewan.
Hingga pada tahun 2008 terdapat peraturan yang cukup mengubah wajah industri perunggasan di Belanda, yaitu ayam harus dipelihara secara free range dan tidak boleh lagi hidup di dalam kandang battery. Hal ini dimaksudkan agar ayam bisa hidup sesuai dengan tingkah laku alaminya. Semua praktik regulasi ini diawasi oleh negara dan bagi yang melanggarnya akan bisa dilaporkan kepada otoritas keamanan pangan dan polisi.
Baca juga : Perkembangan Industri Telur di Taiwan
Selain itu, ada sistem kontrol lain yang cukup ketat dalam mengkritisi regulasi ini yaitu Non-Goverment Organization (NGO) yang berfokus pada animal welfare yang bernama The Dutch Society for the Protection of Animals (SPA). NGO ini akan memberikan peringkat 1 sampai 3 bintang bagi peternak yang menerapkan regulasi kesejahteraan hewan secara optimal.
Semakin banyak bintang yang diperoleh, bisa dipastikan bahwa suatu peternakan memiliki sistem produksi yang animal-friendly. Dalam praktiknya dalam industri perunggasan, sejak tahun 2007, organisasi ini sudah mengampanyekan penggunaan broiler yang lambat pertumbuhannya, dan dipelihara dengan space yang cukup, penyediaan material bedding dan pencahayaan yang cukup, serta penyediaan halaman umbaran.
Peningkatan permintaan pada peternakan dengan sistem pemeliharaan animal-friendly juga datang dari retail-retail yang ada di Belanda. Saat ini, semua supermarket yang ada di Belanda hanya menerima produk-produk unggas (khusus daging dan telur) yang berasal dari peternakan yang animalfriendly. Sebenarnya hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi peternak unggas di Belanda, mengingat regulasi ini akan mengubah sistem produksi mereka secara signifikan, tetapi pada akhirnya peternak tetap diberikan pilihan untuk menjalankan bisnis prosesnya. *PhD student in Animal Nutrition, Wageningen University and Research, serta Dosen di Fakultas Peternakan UGM
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2022 dengan judul “Penerapan animal welfare pada industri perunggasan di Belanda”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153