Oleh : Ashariah Hapila*
Saat ini masyarakat umat islam di Indonesia telah memasuki Bulan Ramadan selama satu bulan penuh, yang kemudian akan ditutup dengan perayaan Hari Raya Lebaran (Idulfitri). Ramadan hadir dalam pandangan umat islam sebagai bulan yang penuh berkah, hikmah, dan magfirah.
Terjadi gejolak harga yang perlu diredam dan kurva permintaan yang tidak seimbang saat momen Ramadan. Namun, di sisi lain terdapat keberkahan bagi para pelaku bisnis di berbagai sektor.
Sebulan penuh dalam setahun sekali, umat islam menjalankan puasa dalam nuansa yang khusyuk dan hening atas ruwat batin. Berbagai pahala dan ampunan ada di Bulan Ramadan, sebagaimana banyak dibicarakan dalam hadis dan firman-firman yang terdapat pada kitab suci Al-Qur’an.
Hikmah Ramadan dan Kenaikan Harga Pangan
Bulan Ramadan oleh masyarakat Indonesia juga dikenal dengan bulan puasa karena umat islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh dengan mengacu pada kalender hijriah. Istilah puasa sering dipahami dengan menahan untuk tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Suatu keadaan yang justru aneh di setiap bulan Ramadan bahwasanya pengeluaran setiap rumah tangga yang seharusnya bisa dihemat karena puasa sebab hanya makan dua kali sehari, yaitu buka dan sahur, justru malah semakin meningkat. Ibu-ibu yang pada hari biasa tidak memasak daging tetapi karena puasa menjadikan daging sebagai menu utama. Belum lagi, ketika masyarakat membeli takjil yang beraneka ragam untuk melepas dahaga. Ini artinya, ada konsumsi yang bertambah tanpa disadari dan pola hidup yang berubah dalam menyikapi tubuh saat bulan puasa.
Peningkatan konsumsi di Bulan Ramadan dilatar belakangi oleh rasa was-was masyarakat terhadap kesehatan secara personal dengan kata lain adanya kekhawatiran akan kekurangan asupan nutrisi, gizi, stamina ataupun tenaga sebab adanya pola asupan nutrisi yang berubah. Dimana asupan makanan hanya didapat sebanyak dua kali dalam sehari dalam sebulan penuh, sedangkan aktivitas yang padat tidak berubah selama bulan puasa yang juga membutuhkan makanan tambahan selain makanan pokok.
Hal tersebut merupakan siklus tahunan. Siklus tahunan yang senantiasa ditandai oleh sebuah momen, yaitu melambungnya harga kebutuhan pokok khususnya harga pangan dan tidak terlepas dari harga pangan hewani seperti harga daging, ayam dan telur. Hal tersebut diakibatkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Keadaan barang komoditas pada saat Ramadan sangatlah dicari-cari, sehingga mengakibatkan stok barang sedikit dan persediaan pemasok berkurang yang mengakibatkan harga pada bulan Ramadan lebih mahal daripada harga sehari-hari.
Meningkatnya harga pangan di Bulan Ramadan nampaknya telah menjadi indikasi rutin tahunan di Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan (2023) yang menyampaikan bahwa terjadi kenaikan harga pangan di Bulan Ramadan tahun ini khususnya pada komoditas tertentu, seperti harga sayuran dan harga daging, Hal ini membuat para pelaku usaha melihat peluang naiknya kurva permintaan menjelang Ramadan, sehingga mengakibatkan peningkatan harga untuk berbagai komoditas bahan pangan.
Fenomena terkait hal tersebut terjadi di berbagai penjuru Indonesia. Hal ini juga didukung dengan fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia sehingga terdapat euforia dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan yang berdampak pada ketidak seimbangan kurva permintaan dan berimbas pada kenaikan harga bahan pangan di Bulan Ramadan. Sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan boleh Sarmila (2020), melaporkan bahwa kenaikan harga barang komodoti pada Pasar Sentral Tanrutedong pada Bulan Ramadan adalah harga jual berdasarkan harga yang berlaku di pasar dan harga yang diberikan oleh pemasok barang, barang komoditas yang sering mengalami kenaikan seperti minyak goreng, gula merah, bawang merah, bawang putih, telur ayam ras dan cabai.
Kenaikan signifikan perkara harga daging ayam dan telur di Bulan Ramadan dapat dikatakan telah menjadi hal yang lumrah. Menurut penelitian yang telah dilakukan Engkus (2017) bahwasanya ada beberapa hal yang menyebabkan kenaikan harga di Bulan Ramadan antara lain; hukum permintaan dan penawaran (supply and demand), penimbunan barang, kinerja pasokan terganggu dan gaya hidup yang lebih konsumtif. Sebagai contoh permintaan dan penawaran terhadap bahan pangan telur, lazimnya telur termasuk dalam salah satu komoditas sumber bahan pangan pokok yang perkembangan harganya diamati oleh pemerintah. Pemerintah melakukan pengawasan pada komoditas sumber bahan pangan pokok di Indonesia untuk menjaga stabilisasi harga pada bahan pokok di Tanah Air.
Bagi konsumen, stabilisasi harga merupakan hal yang penting karena menyangkut pada kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Adanya fluktuasi harga terutama pada sumber bahan pangan pokok akan menimbulkan permasalahan baik secara mikro ataupun makro. Namun, ketika momen tertentu pada hari besar keagamaan seperti Bulan Ramadan, level harga telur baik di pasar tradisional ataupun pasar modern secara universal mengalami kenaikan harga dan kenaikan harga tersebut umumnya tidak dapat dihindari. Perihal tersebut telah terjadi di pasar tradisional yang berada di daerah Jawa Timur. Jawa timur sebagai salah satu penghasil telur terbesar di Indonesia pun tak dapat mengelakkan adanya pembengkakan harga di Bulan Ramadan.
Interpolasi harga pangan mengakibatkan pengeluaran yang bertambah, maka dari itu melemahkan kapasitas daya beli masyarakat, terutama bagi penduduk miskin dan berpendapatan rendah. Sementara bagi penduduk miskin, kenaikan harga pangan akan memperparah derajat kemiskinannya. Kenaikan harga pangan tersebut biasanya akan terus terjadi sampai tiga kali fase kenaikan. Fase pertama, saat tiga hari menjelang puasa. Dalam fase ini masyarakat akan berbondong-bondong membeli kebutuhan pangan, baik untuk jualan ataupun memenuhi kebutuhan. Fase kedua, saat lima hari menjelang Idulfitri. Kenaikan harga pada fase ini disebabkan oleh banyaknya pembelian dari masyarakat yang biasanya digunakan untuk mempersiapkan stok pangan hingga lebaran. Fase ketiga, fase sesudah lebaran. Pada Fase ini biasanya para penjual atau petani tidak menjual kebutuhan pangan sehingga terjadi kelangkaan pangan.
Sehingga, untuk meredam gejolak rutin terhadap kenaikan harga pangan terutama daging ayam dan telur tersebut, diperlukan tindakan sebagai antisipasi oleh stakeholder terkait, yaitutu instansi pemerintahan dalam hal ini mencakup Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Badan Pangan Nasional. Seperti memastikan pasokan bahan pangan yang tersedia cukup dan menghapus hambatan dalam rantai distribusi. Sehingga, tidak ada alasan harga bahan pokok melonjak karena besarnya permintaan sudah dipenuhi dengan antisipasi pasokan yang seimbang.
Bulan Ramadan dan kesejahteraan peternak
Di satu sisi, terjadi gejolak harga yang perlu diredam dan kurva permintaan yang tidak seimbang. Namun, di sisi lain terdapat keberkahan bagi para pelaku bisnis di berbagai sektor. Berkah atau kebaikan yang diperoleh di Bulan Ramadan adalah keuntungan bagi para pelaku bisnis seperti pedagang petani bahkan hingga jasa transportasi tak terlepas dari pelaku usaha peternakan. Melalui keuntungan bagi para pelaku bisnis secara tidak langsung datangnya Bulan Ramadan telah ikut andil dalan meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Kemudian, di akhir Bulan Ramadan, kita juga akan menyaksikan umat islam menyambut datangnya Hari Raya Idulfitri yang tentunya, juga akan mendatangkan keuntungan bagi pelaku bisnis di berbagai sektor bidang. Seperti para pelaku usaha bisnis di bidang transportasi yang melayani para pemudik dari berbagai penjuru yang kuantitas jumlahnya hingga jutaan orang. Bahkan tidak hanya pada arus mudik namun juga arus balik pasca lebaran ketika tiap pemudik yang menggunakan jasa transportasi harus bertolak kembali ke tempat tinggalnya, tempat bekerja, sekolah dan hal serupa setelah melakukan silaturahmi Idulfitri.
Khusus, bagi para petani dan peternak akan kebanjiran berkah yang sangat banyak sebab lumrahnya perayaan Idulfitri tidak akan sempurna kenikmatan yang dirasakan tanpa adanya berbagai jenis hidangan yang berasal dari daging ayam dan telur. Sehingga bagi pelaku usaha peternakan momen Idulfitri sejatinya membawa profit yang menguntungkan bagi pelaku usaha peternakan termasuk petani ataupun peternak.
Inilah sisi lain Bulan Ramadan yang mengandung berkah dan terdapat limpahan kebaikan didalamnya sebab tidak hanya menjadi kesempatan bagi umat muslim untuk meningkatkan ibadah dan ketaqwaannya kepada Tuhan tetapi lebih dari itu, Bulan Ramadan telah turut andil mendatangkan rezeki yang berlimpah bagi seluruh umat manusia dan meningkatkan kesejahteraan bagi para pelaku usaha di berbagai sektor bidang. *Mahasiswi Pascasarjana Fakultas Peternakan IPB University
Artikel ini merupakan rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...