Suasana diskusi AMPI Talks
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Jalannya program makan bergizi gratis (MBG) disambut dengan suka cita oleh berbagai stakeholders perunggasan nasional. Pasalnya, program MBG ini diharapkan dapat menjadi penyeimbang ekosistem perunggasan, yang saat ini tengah mengalami kondisi surplus produksi. Hal ini menjadi bahasan hangat dalam acara AMPI Talks, yang mengangkat topik terkait “Kesiapan Sektor Peternakan Mendukung Program Makan Bergizi Gratis” di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Kamis (5/12).
Dalam sambutannya, Dr. Jerry Sambuaga, Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan diskusi rutin yang dilaksanakan setiap 2 minggu sekali. Dirinya menyebutkan bahwa pada edisi sebelumnya telah dibahas terkait judi online dan pinjaman online, ketahanan pangan dan swasembada beras, dan dilanjutkan terkait peternakan.
“Tentunya hal ini menjadi salah satu kiat-kiat kami untuk ikut serta bagaimana berdiskusi tentang kebijakan publik, termasuk juga upaya dalam mengawal pemerintahan Bapak Prabowo dan Mas Gibran,” tambahnya.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ir. Panggah Susanto, MM., menyampaikan bahwa perunggasan menjadi penyumbang pangan protein hewani yang dominan untuk negara Indonesia. Dan dengan penduduk yang besar, Indonesia menjadi market yang sangat menggiurkan bagi bisnis perunggasan ini. Dirinya pun melihat bahwa sektor ini sudah lama mampu berswasembada, bahkan dalam kondisi surplus produksi.
“Dari sisi peternakan, mungkin sektor ini bisa dikatakan paling maju dan ketersediaannya saya pikir sudah siap untuk mendukung program MBG. Hanya saja, dalam hal kompetisi para pelaku nya, saya pikir harus diperhatikan lagi. Dulu waktu zaman presidennya Bapak Soeharto, pemain besar itu tidak diperbolehkan untuk masuk budi daya, semua hanya diizinkan untuk bermain di hulu dalam produksi bibit atau pun pakan. Dan selebihnya harus dibagi-bagi ke peternak kecil. Memang dari kemajuan produksi akan lebih lambat, namun dalam hal pemerataan kesempatan bagi peternak kecil itu bagus,” jelasnya.
Dirinya melanjutkan, setelah era reformasi hal tersebut diubah dan para pemain besar diperbolehkan untuk masuk ke ranah budi daya. Akhirnya banyak perusahaan besar yang masuk dan mendominasi. Menurutnya di antara para pemain kecil, peran petani independen yang tidak terikat pada perusahaan unggas yang lebih besar telah menurun tajam. Berdasarkan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia), jumlah petani independen telah menurun dari 100.000 petani pada tahun 2008 menjadi 6.000 petani hari ini, sesuai dengan penurunan pangsa pasar petani independen dari 70% pada tahun 2008 menjadi 18% pada tahun 2016.
“Sedangkan bagi peternak yang gabung dengan pemain besar, yang banyak dapat keluhan bahwa hidupnya kira-kira tertakar. Dan ini menjadi rawan dari ketergantungan. Hal ini tentu harus diperbaiki, takutnya kedepan lama-lama menjadi situasi yang tidak kondusif,” tambahnya.
Hal senada diutarakan oleh Dr. drh. Agung, M.Si, selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Menurutnya apabila berbicara terkait MBG, maka seluruh komponen bangsa harus dapat mengambil bagian. Dan apabila di subsektor peternakan dan kesehatan hewan momentum ini menjadi hal yang sangat luar biasa dan harus terus dimanfaatkan, karena apabila berbicara menu makanan, komoditas peternakanlah yang sangat penting. Terlebih pada daging dan telur ayam yang secara ketersediaan dan harga relatif cukup terjangkau. Dan untuk komoditas daging ayam dan telur, kondisinya saat ini telah surplus produksi, sehingga sangat mempunyai kemampuan untuk mendukung MBG.
“Di sisi lain, masalah utama di perunggasan adalah kompleksnya rantai pasok di komoditas perunggasan ini. Dimana rantai pasok komoditas ini panjang, dan aktornya banyak. Kemudian dari segi persentase populasi para pelakunya itu sangat tidak seimbang. Ada yang kecil, menengah, besar, hingga sangat besar di ekosistem perunggasan ini. Hal ini diperparah dengan arena pasarnya sama. Dengan kondisi ini, tentu aktor yang tidak punya kapital kuat akan kalah. Ini terbukti dari semakin berkurangnya jumlah peternak mandiri. Saya pernah menyampaikan ke Dirjen PDN, untuk diatur dan memisahkan pasar antar pelaku budi daya perunggasan ini. Dimana yang kecil bisa bermain di pasar tradisional, sedangkan yang besar harus masuknya ke pasar ritel dan modern. Namun ternyata respon dari Dirjen PDN kala itu adalah pembatasan pasar bagi pelaku usaha itu tidak bisa. Karena dari aturannya tidak diperkenankan,” ujar Agung.
Dan untuk saat ini, Agung menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan data para peternak mandiri kecil by name, by addres ke Badan Gizi Nasional (BGN). Harapannya tata kelola ini bisa diatur, dimana dalam program MBG bahan pangannya akan diambil dari koperasi atau bumdes. Untuk itu, dirinya mengajak para peternak untuk mengawal koperasi yang nantinya ditunjuk, agar mengambil bahan pangannya dari para peternak di sekitar target sasaran. “Kalau ini bisa diterapkan, maka saya melihat bahwa pemisahan arena antara peternak mandiri kecil dan pemain besar bisa dipisahkan,” tambahnya.
Dalam kesempatan ini, turut hadir dan memberikan pandangan terkait situasi perunggasan, Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung, Ir. Jenny Soelistiani, M.M., Sekjen Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, serta Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), drh. Muhlis Wahyudi.