drh. Muhammad Munawaroh, MM yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) kini telah resmi menyandang gelar doktor (Dr) setelah berhasil menyelesaikan sidang Ujian Tahap II (Terbuka) dengan lancar dan komisi penguji menyatakan puas atas hasil penelitian disertasi dan temuan barunya tersebut.
 
Ujian Tahap Akhir atau Ujian Tahap II (Terbuka) dilaksanakan secara daring pada hari Kamis, 21 Januari 2021 dipimpin oleh ketua sidang Prof. Dr. drh. Mirni Lamid, MP (Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga) dan dihadiri oleh Promotor, Ko- Promotor, Ketua Program Studi S3 Sains Veteriner, Prof. Dr. drh. Lucia Tri Suwanti,MP serta komisi penguji antara lain Prof. Dr. drh. Setiawan Koesdarto, M.Sc., Prof. Dr. drh. Widjiati, M.Si, Prof. Dr. Ir. Sri Hidanah, MS, Prof. Dr. drh. Pudji Srianto, M.Kes, Dr. drh. Eka Pramyrtha Hestianah, M.Kes, Dr. drh. Hani Plumeriastuti, M.Kes dan Dr. drh. Mufasirin, M.Si.
 
Berdasarkan hasil ujian tersebut, drh. Muhammad Munawaroh, MM merupakan Doktor ke-13 lulusan Program Studi S3-Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
 
Dalam disertasi doktoral yang berjudul “Karakterisasi Fragmen Gen VP1 Pada Feline Panleukopenia Virus (FPV)” di bawah bimbingan promotor Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam dan Ko-Promotor Prof. Dr. drh. Aulianni’am, DES, Munawaroh melakukan penelitian tersebut karena di lapangan ditemukan banyak kasus kucing setelah divaksinasi kadang masih dapat terserang virus panleukopenia.
 
Baca Juga :  PDHI Mendapatkan Kado Istimewa di Hari Ulang Tahunnya
 
Menurut Munawaroh, dengan tingginya populasi kucing di Indonesia dan nilai ekonomi kucing sebagai hewan piaraan terutama untuk kucing ras, serta keprihatinan akan tingginya kasus infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV) pada kucing yang mencapai 25-90%, maka permasalahan FPV masih menjadi hal yang menakutkan bagi para dokter hewan dan penghobi kucing.
 
“Atas dasar itulah saya berpikir bagaimana kemudian untuk menyelesaikan masalah tersebut, diperlukan sebuah penelitian apakah vaksin yang digunakan selama ini masih bisa memberikan proteksi atau tidak setelah kucing mendapatkan vaksinasi,” ujarnya.
 
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, ada beberapa temuan baru di antaranya adalah ditemukanya sekuens nukleotida pada gen VP1 pada lokasi C5T, A95G, A173G dan G435T serta ditemukan pula perubahan pada asam amino dari translate basa nukleotida (A50T dan G115V) pada fragmen VP1.
 
“Kesimpulan penelitian yakni VP1 dimungkinkan dapat dikembangkan sebagai vaksin sub unit terhadap infeksi FPV di Indonesia,” jelasnya.
Temuan lain dari penelitian yang dilakukan oleh Ketua Umum PB PDHI tersebut adalah pemetaan kekerabatan (philogenetic tree) dari FPV yang menginfeksi kucing di RSH FKH UB.
 
“Saya berharap hasil penelitian ini dapat dikembangkan sebagai pijakan awal untuk pengembangan vaksin maupun kit diagnostik yang berbasis dari isolat lokal sehingga akan tercapai kemandirian bangsa Indonesia di bidang vaksin dan kit diagnostik untuk penyakit-penyakit pada kucing,” katanya.
 
Selain itu, Munawaroh juga berpesan kepada kolega dokter hewan di seluruh Indonesia bahwa saat ini masih sangat terbatas sekali ketersediaan tenaga dokter hewan ahli bergelar doktor di Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap bahwa jejaknya tersebut bisa diikuti oleh dokter hewan yang lain. Adv