Penyakit AI dan Antimicrobial Resistance menjadi tantangan bagi kesehatan unggas kedepannya
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Penyakit AI bisa dikatakan akan selalu hadir di peternakan ayam. Menurut Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BBLitvet) saat Poultry Indonesia temui di Bogor, Selasa (12/11), menjelaskan bahwa penyakit pernapasan diprediksi masih akan muncul pada tahun 2020, baik infeksi virus, bakteri maupun parasit. Indi menggarisbawahi bahwa penyakit AI H9N2 harus tetap diwaspadai, karena sifat virusnya yang bisa sebagai donator dan juga bisa sebagai penerima donor. 
Penelitian di BBLitvet sendiri, menyimpulkan bahwa penyakit AI H9N2 single infection saja sudah bisa menurunkan produksi telur, meskipun tidak ada kematian, apalagi jika double infection, hal ini tidak hanya menyebabkan morbiditas yang tinggi namun mortalitasnya juga akan tinggi, sehingga peternak akan sangat kesulitan untuk bisa mengatasi itu. “Saya khawatir akan banyak virus reabsortan flu burung, jadi AI H9N2 tapi di dalamnya H5N1. Penyakit yang beredar itu sekarang agak susah diatasi karena memang kadang infeksinya hanya H9N2 namun kadang juga mix, dan vaksinasi juga memang harus mengikuti, ini yang menyulitkan, apakah vaksinnya sudah berisi H9N2 saja, atau vaksin yang di dalamnya terdapat  H9N2 dan H5N1,” jelas Indi.
Kekhawatiran akan adanya AMR
Setelah melakukan penelitian tentang bakterial, Tim BBLitvet menemukan banyak kasus yang berhubungan dengan Antimicrobial Resistance (AMR). Indi melihat, kalau dilihat kejadian AMR di lapangan ternyata sudah sangat mengerikan. Namun sejauh ini masih dalam tingkatan pembahasan saja belum sampai kepada tindakan apa yang perlu dilakukan.
Baca Juga : Waspada Ancaman Bencana Kemanusiaan Akibat Resistensi Antibiotik
Dr. drh. Susan M. Noor, MVSc yang merupakan Kepala Laboratorium Bakteriologi BBLitvet, mengatakan bahwa penelitian untuk AMR ini sudah banyak lembaga yang melakukannya, namun ternyata sampai saat ini masih di masing-masing lembaga. Sedangkan jika dibiarkan begitu saja, industri peternakan ini menjadi salah satu komoditas yang berperan dalam terjadinya resistensi pada manusia, sampai pada akhirnya pemerintah juga sudah melakuakan pembatasan tentang penggunaan AGP di peternakan.
“Kita menemukan E. coli itu masih banyak di broiler dan dengan tingkat resistensi yang tinggi. Penelitian kita menemukan penggunaan ampisilin yang pertama paling tinggi, di mana kita tahu bahwa ampisilin ini memang dari dulu menghawatirkan. Kedua adalah kolistin, dan kolistin itu sebenarnya antibiotik pilihan terakhir untuk pengobatan pada manusia tetapi malah ditemukan di hewan, ini yang sedikit bikin miris,” keluh Susan.
Susan menjelaskan, bahwa beberapa faktor yang bisa yang bisa menyebabkan AMR di antaranya yang pertama adalah dari produk hewan yang terkontaminasi bakteri yang resisten, kedua dari feses hewan tersebut, dan yang ketiga dari cemaran lingkungan dari penggunaan fertilizer untuk sayuran dan buah-buahan, yang semua ini saling berhubungan. “Kita terus kembangkan penelitian-penelitian herbal, dan sejauh ini masih ditemukan penelitian dari bakteriofaga, untuk E. coli O157H7 dan hasilnya cukup bagus untuk melisiskan E. coli. Harapannya ini nanti bisa masuk industri,” tambah Susan.
Saat ini AMR itu masih menjadi ancaman yang serius di Indonesia. Upaya-upaya juga terus dilakukan untuk mencari pengganti AGP. Lembaga-lembaga penelitian nantinya juga diharapkan bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi dan bisa menghasilkan sesuatu yang bisa diaplikasikan. Harapannya dengan ini bisa menyadarkan semua pihak, mulai dari pelaku industri, masyarakat, dan juga pemerintah untuk bersatu dalam memerangi resisten terhadap penggunaan antibiotik yang tidak bertanggungjawab.  
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Prediksi Penyakit Unggas 2020”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153