Bagi Khrisna, dunia perunggasan adalah industri yang tak akan pernah padam. Berbeda dengan cita-cita semasa belia, hidup justru membawa ia menjadi profesional di bidang ini.

Di masa mudanya, Khrisna Putra Ramadhan bercita-cita menjadi pilot. Dunia aviasi yang identik dengan ketelitian, kedisiplinan tinggi, dan teknologi penerbangan, memikat pria kelahiran Bandung ini kala itu. Sayang, impiannya harus dikubur dalam-dalam saat duduk di bangku SMA. 

Kondisi penglihatan Khrisna yang kian memburuk menjadi titik balik. Di usia yang bahkan belum genap 20 tahun itu, minus matanya sudah mencapai -10 di kiri dan -9 di kanan. Kondisi itu menjadikannya gagal memenuhi syarat, bahkan sekadar untuk menjalani operasi lasik karena risiko yang terlalu tinggi. Impian menjadi pilot pun pupus seketika.

‘Meski ke langit akan menjemur, jika hari tak panas tak juga kering’, pepatah ini mungkin cocok menggambarkan kedudukannya kala itu. Bait ini menggambarkan kalau memang bukan nasib, betapa pun usahanya tetap juga tak akan berhasil. Alih-alih tenggelam dalam keterpurukan, Khrisna segera membalik arah dengan pertanyaan sederhana. “Bidang apa yang bahkan 20 tahun lagi tetap relevan?” Jawabannya jatuh pada bidang pangan, seperti pertanian dan peternakan.

Bahkan dengan fenomena kian menjamurnya AI (Artificial Intelligent) yang dapat menggantikan beberapa profesi karir, ia yakin betul bidang ini mustahil sepenuhnya tergantikan oleh teknologi, khususnya dalam hal tenaga kerja. Konsep ini lah yang menuntunnya ke bidang studi sarjana peternakan di Universitas Padjadjaran.

“Sewaktu memilih jurusan kuliah dengan jalur undangan, teman-teman saya dengan nilai yang bagus dan stabil akan memilih jurusan yang banyak peminatnya. Jadi saya yakin yang memilih peternakan pasti mayoritas kecil. Dan memang benar, Alhamdulillah saya diterima,” ceritanya saat berbincang online bersama Poultry Indonesia, Jumat (17/10).

Mulai Menjajaki Profesi Perunggasan

Karier profesional ia mulai di Sinta Group, perusahaan keluarga yang bergerak di bidang budi daya broiler. Setelah hampir 6 tahun Khrisna mendedikasikan diri sebagai supervisor yang mengelola satu flok ayam, ia mulai dipercaya naik menjadi manager farm berkat performa stabil yang berhasil dicetak selama beberapa tahun.

“Selama 3 tahun terakhir sebagai supervisor, IP (Index Performance) saya stabil terus. Mungkin itu yang membuat manajer saya percaya, hingga akhirnya saya dipercaya memegang satu unit farm dengan populasi 90 ribu ekor,” kenang calon Bapak yang sedang menunggu anak pertamanya ini.

Sebagai manager baru, Khrisna memimpin 9 orang teknisi kandang. Tantangan datang silih berganti. Pada periode awal, ia bahkan dihadapi oleh deflesi hingga 20%. Namun, setelah melakukan perbaikan manajemen kandang, biosecurity, maintenance, dan pembacaan data yang lebih teliti, ia bangkit dengan IP menembus 443. Sebuah prestasi gemilang dalam kariernya.

Dari pengalaman ini, ia belajar bahwa setiap kandang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ia pun menyadari, apabila terjadi anomali, deteksi dini harus segera dilakukan sebelum masalah membesar.

Meski kariernya tengah menanjak, Khrisna tidak ingin berhenti di zona nyaman. Ia merasa ruang akselerasi di perusahaan keluarga terbatas, dan ingin memperluas wawasan. Bak gayung bersambut, kesempatan itu datang ketika Aviagen, perusahaan genetika unggas global, membuka lowongan. Setelah proses seleksi yang panjang, ia akhirnya resmi bergabung pada Maret tahun ini

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com