
Oleh: Tony Unandar*
Peternak yang budiman, tiba saatnya jangan acuh terhadap debu kandang. Dari analisa hasil beberapa penelitian lapang yang paling “gres” pada peternakan ayam modern, ternyata debu kandang yang terlalu pekat di sekitar ayam tidak saja mengakibatkan beberapa dampak negatif terhadap penampilan ayam yang dipelihara, tetapi juga terhadap kinerja sistem ventilasi dan kesehatan karyawan kandang. Dan tentu saja, disadari atau tidak, ujung-ujungnya debu kandang jelas dapat mengganggu efisiensi sistem ventilasi, produktivitas karyawan serta merampok “kocek” (baca: keuntungan) Anda.
Deskripsi debu kandang
Debu kandang ayam adalah materi partikulat yang umumnya terdiri dari komponen feses kering, pakan, bulu ayam, ketombe bulu, bahan litter serta mikroorganisme kontaminan (Ellen HH et al., 2000). Debu kandang kadang juga mengandung bahan anorganik yang berasal dari komponen bangunan kandang, misalnya serbuk pecahan semen, kapur, bahkan serbuk kayu akibat adanya rayap. Karena bentuknya tidak beraturan, maka partikel-partikel yang membentuk debu kandang dapat menjadi media atau tempat menempel berbagai jenis bakteri, partikel virus ataupun spora jamur (Radon K et al., 2002; Lee SA et al., 2006).
Jika kondisi kandang penuh dengan debu, maka baik reaksi pasca vaksinasi maupun gangguan pernapasan akan menjadi langganan pada ayam yang ada.
Ukuran partikel debu kandang sangatlah penting dan bermakna. Partikel-partikel debu yang besar alias kasar umumnya berada atau beterbangan di dekat sumbernya, sedangkan partikel debu yang halus atau kecil bisa tetap dalam udara untuk jangka waktu yang relatif lama (airborne) serta terbawa angin dalam jarak yang relatif jauh dari sumbernya. Partikel debu halus inilah yang dapat terhirup via sistem pernapasan baik oleh ayam ataupun manusia yang berada di dalam kandang tersebut, dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan dengan derajat keparahan yang variatif. Tergantung jenis komponen pembentuk debu kandang dan lamanya terpapar terhadap debu kandang tersebut (Kirychuck S et al., 2003; Rylander & Carvalheiro, 2006). Dalam konsentrasi tertentu, kepekatan debu halus dalam kandang dapat diidentifikasi seperti adanya kabut, sehingga mengganggu penglihatan.
Baca Juga: Kenali Bahaya Penyakit Saluran Pernapasan
Terkait dengan sistem pernapasan, debu kandang dapat dikategorikan sebagai partikel yang bisa terhirup (inhalable particles) atau partikel yang bisa terhisap (respirable particles). Partikel yang bisa terhirup adalah partikel yang cukup kecil (diameter rata-rata 10 mikron) untuk terhirup oleh sistem pernapasan. Namun umumnya partikel tipe ini akan mudah terperangkap pada permukaan selaput lendir (mukosa) pada saluran pernapasan atas seperti di sekitar tulang turbinatum hidung, laring atas, batang tenggorok (trakea) atau bahkan permukaan bronkhus primer. Sedangkan partikel yang bisa terhisap umumnya berukuran diameter 2,5 mikron atau lebih kecil (David B et al., 2015), sehingga bisa mencapai sistem pernapasan bagian bawah seperti paru-paru (parabronkhus) atau bahkan kantung hawa (airsac). Debu kandang yang bisa terhisap (respirable particles) inilah yang sangat mengganggu sistem pernapasan ayam, terutama jika menempel pada mukosa parabronkhus dan dapat mengurangi penyerapan oksigen saat proses pernapasan terjadi (Michel & Hounnic, 2003).
Kondisi lingkungan dan penampilan ayam modern
Roura, pada tahun 1991, melakukan pengamatan terhadap perbedaan penampilan ayam broiler pada lingkungan yang relatif bersih (tidak berdebu, udara cukup segar dan ventilasi baik) dengan lingkungan kandang yang kotor (berdebu pekat, kadar amonia tinggi dan ventilasi jelek). Pengamatan dilakukan selama 14 hari, yaitu mulai ayam berumur 3-17 hari. Hasilnya seperti tertera pada tabel terlampir.
Tabel 1. Pengaruh lingkungan terhadap penampilan broiler selama 14 hari pemeliharaan
Kondisi Kandang: |
ADG(gr/ekor/hari): |
Efisiensi pakan(daging/pakan): |
Kadar IL-1 (unit): |
Bersih |
12,65a |
0,66a |
0,21a |
Kotor |
12,10b |
0,54b |
0,49b |









