Oleh : Sugeng Wahyudi*
Tak bisa dipungkiri bahwa perunggasan Indonesia merupakan sektor industri yang strategis dengan peran besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani yang terjangkau, dan berkontribusi nyata terhadap pendapatan negara hingga banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Namun sebelum berkembang seperti saat ini, perunggasan dulunya adalah usaha tradisional yang ditopang oleh para peternak kecil yang tersebar dari berbagai daerah. Dengan perkembangan tersebut, harapannya sektor ini tak hanya bertransformasi menuju ke industri yang lebih modern saja, namun juga membawa kesejahteraan yang lebih dapat dinikmati oleh masyarakat dan pelaku usaha di dalamnya.
Namun sepertinya kenyataan yang berjalan di lapangan berbanding terbalik 180 derajat. Faktanya praktik bisnis yang berjalan saat ini justru melahirkan gap yang begitu besar antara pelaku usaha budi daya, terkhusus broiler, sehingga melahirkan persaingan usaha yang tidak fair. Dimana antara pelaku usaha kecil, menengah, besar dan sangat besar berlaga pada satu medan pertempuran yang sama. Alhasil banyak permasalahan klasik yang terus terjadi dan mengalami pengulangan saja.
Kondisi peternak broiler mandiri
Saat ini, bahkan dalam beberapa tahun ke belakang iklim usaha budi daya broiler di peternak mandiri kecil ini tidak baik. Dimana acapkali peternak dihadapkan pada kondisi harga jual yang berada di bawah biaya produksi peternak. Sedangkan untuk harga sapronak, baik DOC maupun pakan kecenderungannya mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Sejatinya harapan peternak mandiri sederhana yaitu harga jual livebird (LB) bisa berada di atas BEP, sehingga masih terdapat margin keuntungan yang diperoleh. Bagi peternak, harga LB rendah pun tidak masalah, hanya harga inputnya juga harus turun. Begitupun ketika harga input naik, maka harga LB juga diharapkan naik. Namun saat ini yang terjadi, harga input terus mengalami kenaikan, sedangkan di sisi output atau harga LB tidak selalu mengikuti hal tersebut. Ini menjadi pertanyaan besar yang harus dicarikan solusi jawabannya.
Terkait harga LB yang tidak selalu bisa mengikuti harga inputnya, oversupply seringkali dianggap menjadi faktor penyebab. Namun penulis melihat persoalan yang terjadi di lapangan tidak sesederhana hal tersebut. Apabila dilihat secara makro, dengan jumlah penduduk lebih dari 273 juta jiwa dan tingkat konsumsi yang masih rendah dibandingkan dengan negara lain, Indonesia dianggap menjadi pasar potensial bagi perunggasan. Maka tak heran apabila banyak perusahaan asing yang melakukan investasi besar di Indonesia karena melihat prospek tersebut. Akhirnya investasi yang mengalir ke perunggasan juga besar, tak terkecuali di usaha budi daya. Sebenarnya ini merupakan hal yang bagus untuk perkembangan industri perunggasan nasional. Namun yang menjadi kontradiktif dan cilaka adalah perusahaan besar tersebut diberikan perlakuan yang sama oleh negara, seperti perlakuan negara kepada para peternak mandiri kecil yang secara kekuatan jelas tidak seimbang.
Ketika peternak mandiri dimainkan di medan yang sama dengan perusahaan besar, tentu peternak akan kalah. Mereka datang membawa sumber daya yang sangat besar, dengan berbagai usaha mulai feedmill, obat, bibit, teknologi kandang hingga hilirisasi, melawan peternak mandiri kecil yang hanya usaha untuk mencari makan. Dengan kondisi harga ayam hidup (LB) rendah pun, boleh dibilang perusahaan besar ini masih untung. Tinggal berapa persen untungnya, karena semua input mereka ada. Sedangkan kita, untuk balik modal saja susah.
Kemudian apabila dilihat dari efisiensi produksi, sebenarnya para peternak mandiri tidak kalah dengan perusahaan besar. Dengan catatan kondisi atau situasi yang sama. Peternak juga bisa melakukan pemeliharaan dengan efisien, sesuai dengan guide book yang ada. Misal 30 hari dengan FCR 1,5 bobot 2 kg, bahkan bisa lebih baik. Tapi masalahnya tetap saja, para perusahaan besar secara konglomerasi mendapatkan harga input yang lebih rendah dari pada kita. Katakan pakan mereka (pabrik besar) mungkin hanya mendapatkan harga Rp7.000,00 – 7.500,00/kg dan DOC antara Rp5.000,00-5.500,00./ekor Sedangkan di jual ke kami dengan harga pakan Rp8.500,00-9.000,00/kg dan DOC Rp7.500,00/ekor. Akhirnya HPP LB perusahaan besar hanya sekitar Rp17.000/kg dan peternak mandiri sudah di atas Rp20.000/kg. Lantas cukup dengan harga LB di pasar Rp18.000,00/kg, peternak seperti kami akan rugi dan susah bertahan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com