POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri perunggasan nasional merupakan salah satu
ujung tombak agribisnis Indonesia yang sangat penting, baik di masa lalu, saat ini, maupun
di masa depan. Perunggasan merupakan salah satu agribisnis yang komplit, karena sudah
terintegrasi antara hulu, on-farm, dan hilir.
Perkembangan industri perunggasan bukan
hanya berdampak pada sektor ini semata, tetapi juga menarik dan mendorong industri lain
yang terkait. Maka dari itu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan webinar dengan Judul ‘Kinerja Industri Perunggasan 2024 dan Strategi Inovasi Kedepan’.
Dalam pemaparannya, Dr. Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan
BRIN, menyatakan pentingnya kolaborasi antara riset, inovasi, dan pengelolaan industri
perunggasan. Ia menekankan bahwa pengelolaan kinerja industri ini perlu didukung oleh teknologi modern untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan memitigasi risiko lingkungan.
“Unggas seperti ayam dan telur merupakan sumber protein utama yang mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, tantangan seperti efisiensi pengelolaan dan keberlanjutan rantai pasok harus diatasi melalui riset terapan dan sinergi stakeholder,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Nyak Ilham selaku Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN memaparkan data tren konsumsi dan produksi unggas di Indonesia. Ia juga menyebutkan pentingnya regulasi yang harmonis untuk memastikan pertumbuhan industri tetap inklusif bagi peternak kecil dan menengah.
“Konsumsi ayam ras dan telur terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Namun, daya saing produk lokal
menghadapi tekanan dari harga produksi yang lebih tinggi dibandingkan negara lain. Kita
harus fokus meningkatkan efisiensi, terutama pada rantai produksi dan distribusi,” ungkapnya.
Masih dalam acara yang sama, Victor Stefano, Research Analyst Danareksa Sekuritas, Pengamat Publik Peternakan dari BRI Sekuritas, memberikan sorotan pada performa perusahaan perunggasan publik. Ia juga menyoroti inisiatif pemerintah melalui program makan bergizi gratis yang dapat menyerap surplus produksi dan mendukung keseimbangan pasar.
“Selama 2024, harga ayam hidup menunjukkan perbaikan akibat pemangkasan produksi mandiri oleh perusahaan besar. Meski demikian, oversupply masih menjadi masalah yang berpengaruh pada margin profitabilitas,” jelasnya.