Unggas merupakan penyumbang konsumsi protein hewani terbesar di Indonesia
Sektor perunggasan di Indonesia memegang peranan penting dalam penyediaan protein hewani untuk masyarakat. Bagaimana tidak, sebanyak 65 persen protein hewani disumbangkan oleh industri perunggasan terutama dari komoditas daging ayam maupun telur. Hingga tahun 2019, sektor perunggasan dari hulu ke hilir telah menyumbangkan perputaran uang yang mencapai US$29,5 miliar atau setara dengan Rp428 triliun. Angka tersebut tentu akan terus bertambah mengingat konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia juga kian meningkat setiap tahunnya.

Di tahun ini banyak sekali kejadian yang perlu diungkap kembali untuk menyegarkan ingatan akan beberapa rangkaian peristiwa di dunia perunggasan. Turunnya harga ayam hidup, kelebihan produksi (oversupply), pemangkasan telur tertunas (HE), hingga optimisme yang berhasil dibangun oleh industri obat hewan.

Jika mengacu pada data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, bahwa sampai dengan bulan November 2019, realisasi jumlah populasi DOC broiler di Indonesia mencapai 3.143.593.845 ekor atau setara dengan 3.488.709 ton. Tentunya dengan data populasi yang terus meningkat maka konsumsinya pun juga meningkat. Peningkatan konsumsi daging ayam ini didukung oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi yang baik.
Menurut Arief Daryanto, Ph.D selaku Dekan Sekolah Vokasi IPB sekaligus Tim Analisa Supply dan Demand Perunggasan yang berada dibawah komando Dirjen PKH, menyebutkan bahwa industri perunggasan memang masih bisa dibilang optimis untuk tumbuh pada tahun 2020. Menurutnya, sepanjang 2019 memang terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi yang ada di masyarakat, oleh karena itu sebaiknya para stakeholder ini harus lebih memfokuskan pada sektor hilir ketimbang sektor hulu.
Baca Juga: Daging Sebagai Sumber Protein yang Baik
Menanggapi permasalahan yang terus berulang tersebut, Arief memiliki cita-cita agar bagaimana komoditas daging ayam itu sebaiknya dijual secara minimal dalam bentuk chilled atau frozen. Tujuannya, yaitu agar masa simpan daging ayam tersebut bisa tahan lebih lama. Karena menurutnya, selain lebih aman jika dilihat dari sudut pandang kesehatan dan lingkungan, juga dapat mengatasi permasalahan harga.
Para pelaku industri perunggasan juga perlu berhati-hati dalam mengelola bisnis ini. Pasalnya, bisnis perunggasan ini merupakan bisnis yang sangat sensitif karena menyangkut pemenuhan pangan masyarakat. Selain itu adanya tantangan penyakit juga harus lebih diperhatikan. Pandangannya harus digeser dari yang sejauh ini kuratif harus menuju ke arah preventif. Akan tetapi jika dilihat ke depannya, bisnis perunggasan di Indonesia masih memiliki masa depan yang cerah jika dikelola dengan baik.
Sinergi berbagai pihak
Dalam implementasi berbagai aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, Chandra Gunawan selaku Sekretaris Jenderal GPPU, mengutarakan bahwa National Stock Replacement dan Tim Ahli bentukan pemerintah sepanjang 2019 sudah baik, namun masih diperlukan konsistensi dalam penerapan kebijakan tersebut. Chandra juga berpendapat bahwa dalam membangun iklim perunggasan yang kondusif, perlu adanya sinergi antarsemua stakeholder yang terkait dengan perunggasan. Hal tersebut diperlukan agar semua pihak dapat satu suara dalam arah pembangunan perunggasan yang dapat memberi manfaat bagi semua pelaku. Menurutnya, itu bisa dilakukan dengan duduk bersama semua pihak terkait dan mengembalikan fungsi sesuai tugas kerjanya masing-masing.
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Chandra memberi masukan kepada pemerintah agar dapat juga memberikan bantuan finansial kepada para peternak, sehingga nantinya yang diuntungkan adalah para peternak. Bantuan finansial tersebut bisa berupa pinjaman untuk memperbaiki kualitas kandang agar dapat lebih efisien dalam menjalankan usahanya. Domi, Chusnul
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2020 dengan judul “Kilas Balik Situasi Perunggasan 2019”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153