segala sesuatu yang bisa didigitalisasi di industri kita, akan didigitalisasikan
Mengutip Jakob Stausholm, seorang Chief Strategy, Finance and Transformation Officer dalam sebuah kalimat inspiratifnya mengatakan, “Everything that can be digitized in our industry, will be digitized” yang artinya segala sesuatu yang bisa didigitalisasi di industri kita, akan didigitalisasikan. Tentu hal ini akan berlaku pula di semua industri termasuk industri perunggasan.

Masalah adaptasi teknologi mungkin Indonesia sedikit tertinggal dengan negara lain, namun seperti pepatah bilang bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Berbicara tentang era teknologi digitalisasi, sebenarnya ini bukan hal yang baru untuk industri perunggasan. Ahli teknologi industri pertanian, Prof. Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng saat ditemui Poultry Indonesia di Bogor, Rabu (8/1), mengatakan bahwa Indonesia sebetulnya sudah  mengadopsi teknologi digital sejak lama seperti jam digital, termometer digital, dan lain sebagainya, namun ada perbedaan digitalisasi di zaman sekarang dengan zaman sebelumnya. Masih menurut Yandra sapaan akrab Prof. Yandra, ciri teknologi digital yang maju saat ini adalah terdapat kecerdasan buatan atau juga disebut artificial intelligence (AI), terdapat rantai blok (blockchain), serta terdapat teknologi 5G. Walaupun saat ini masih 4G, dan tidak akan lama lagi akan berganti dengan teknologi 5G.
Yandra menambahkan, bahwa definisi kecerdasan buatan adalah suatu studi tentang ide-ide yang memungkinkan komputer bisa berpikir cerdas. Kecerdasan buatan adalah bagian dari ilmu komputer yang berkaitan dengan desain sistem komputer yang menunjukkan kecerdasan manusia.
Baca Juga: Kerjasama Semua Pihak dalam Teknologi Perunggasan
Yandra yang juga banyak melakukan penelitian di metodologi kecerdasan buatan ini mengatakan, jika berbicara industri 4.0 itu harus ada sentuhan kecerdasan buatan. Berjalannya tren seperti sekarang ini yaitu industri 4.0, kecerdasan buatan sudah digunakan di semua bidang, termasuk di pertanian dan perunggasan.
“Katakanlah kita berbicara suhu ayam di kandang, kandangnya lokasinya jauh dari kita, namun kita bisa baca suhu itu saat ini. Setelah dikontrol, terlalu panas misalnya, maka bisa kita dinginkan dengan pencet tombol saja, dan alat sensor yang di kandang dia bisa langsung menurunkan sendiri, tanpa kita harus ke sana, ini salah satu yang dimaksud kecerdasan buatan,” jelas Yandra.
Ketika lebih detail dijabarkan, Yandra mengungkapkan kecerdasan buatan dapat memberikan rekomendasi kepada manusia bahkan bisa melakukannya sendiri. “Kecerdasan buatan itu terdapat intelijensi di dalam alat. Misal kalau di kandang suhu sekian, tekanan sekian, nanti alat itu yang akan merekomendasikan ke kita harus melakukan apa. Sekarang lebih canggih lagi bahwa alat itu nanti bisa melakukannya sendiri. Semua ini di luar negeri sudah pakai, hal ini dilakukan untuk mencari efisiensi dan kecepatan,” tambah Yandra.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 dengan judul “Kilas Balik Teknologi Digitalisasi Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153