POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebagai upaya pengembangan bisnisnya, PT Kimia Farma Tbk berkolaborasi dengan PT Nutricell Pacific. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antar kedua pihak dan perjanjian kerja sama antara kedua anak usahanya, yang dilakukan di kantor pusat PT Kimia Farma Tbk, Gambir, Jakarta, Selasa (14/2).
Ruang lingkup nota kesepahaman yang terjalin antara Kimia Farma dan Nutricell Pacific meliputi pengembangan produk dan layanan kesehatan hewan, aktivitas pemasaran dan distribusi produk kesehatan hewan termasuk obat-obatan. Hal ini tentunya akan meningkatkan hilirisasi produk kesehatan hewan dan meningkatkan nilai tambah bagi kedua perusahaan tersebut. 
Dalam sambutannya, David Utama selaku DIrektur Utama PT Kimia Farma Tbk, mengatakan bahwa Kolaborasi ini merupakan wujud optimalisasi end-to-end business yang dimiliki Kimia Farma. Ia mengungkapkan bahwa kolaborasi ini merupakan pertama kalinya Kimia Farma bergerak untuk pengembangan produk kesehatan hewan.
“Keahlian Nutricell adalah kesehatan hewan, buat saya itu menarik sekali karena Kimia Farma belum pernah merujuk kepada kesehatan hewan. Fasilitas Kimia Farma cukup lengkap, kami memiliki 49 jaringan distribusi yang tersebar di seluruh Indonesia, memiliki 10 pabrik, kemudian di penelitian kami juga memiliki Litbang, ritelnya juga punya, labnya juga punya, bisa dikatakan kami memiliki semuanya. Saya berharap, MoU yang ditandatangani ini bisa segera terealisasi,” papar David.
Baca Juga: CPI Gelar Forum Temu Ramah Penerima Beasiswa
Selanjutnya, Chief Executive Officer PT Nutricell Pacific, Suaedi Sunanto menyampaikan hal yang serupa dengan David. Ia menyambut baik kolaborasi yang menjadi langkah awal menuju kerja sama yang menguntungkan bagi kedua pihak. Ia menjelaskan mengenai peran industri obat hewan sebagai penunjang berlansungnya industri peternakan, khususnya usaha budi daya ternak. Melalui MoU ini, Suaedi berharap dapat mengembangkan suatu produk baru bersama Kimia Farma.
“Mulai tahun 2007, industri peternakan dianggap sebagai salah satu penyumbang terbesar resistensi antibiotik. Kami melihat bahwa 82% produksi anti bakterial itu digunakan oleh industri peternakan. Sampai saat ini, penggunaan produk anti bakterial untuk pemacu pertumbuhan peternakan itu adalah sesuatu hal yang dianggap tidak elok dan itulah yang menjadi dasar mengapa kami dari industri obat hewan harus berbenah. Yang saya lihat menarik dari Kimia Farma adalah bagaimana mereka mengembangkan produk-produk yang dasarnya bahan-bahan alami yang itu kami yakin bisa dilakukan untuk pengembangan produk-produk yang selanjutnya,” kata Suaedi.
Pada kesempatan yang sama telah dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), sebagai anak usaha Kimia Farma dengan PT Nutricell Inovasi Strategis yang merupakan anak perusahaan Nutricell Pacific. Dalam hal ini, KFSP berkecimpung pada bidang manufaktur bahan baku obat dan high function chemical. Ruang lingkup yang terjalin antar keduanya dalam bentuk sinergi produksi bahan baku obat dalam negeri yang dimiliki oleh KFSP.
“Kolaborasi antara Kimia Farma dan Nutricell Pacific merupakan dukungan terhadap program strategis pemerintah dalam pengembangan produk dalam negeri, yang akan berdampak pada peningkatan nilai TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) di tengah kebutuhan obat hewan yang masih cukup tinggi melalui impor,” tambah David.
Kimia Farma dan Nutricell Pacific bertekad dengan terlaksananya penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama ini akan mengembangkan end to end business Kimia Farma di sektor kesehatan hewan, serta mendukung program strategis pemerintah dalam meningkatkan kemandirian produk dalam negeri.