Jamur yang tumbuh pada jagung (Sumber gambar: josephmuciraexclusives.com)
Oleh : Muhsin Al Anas*
Penelitian aflatoksin dibagi menjadi empat kluster utama berdasarkan warna, yaitu kluster 1 berkaitan dengan pertumbuhan jamur Aspergillus flavus. Kluster 2 berhubungan dengan tingkat cemaran aflatoksin pada bahan baku dan pakan ternak. Kluster 3 tentang produsen bahan baku (petani) dan daerah asal produk. Kluster 4 merupakan dampak cemaran aflatoksin terhadap produktivitas dan kesehatan ternak (broiler dan itik) serta upaya detoksifikasi.
Belum terdapat studi hubungan tingkat cemaran aflatoksin terhadap sosial-ekonomi di Indonesia, seperti tingkat pengetahuan dan kesadaran peternak terhadap cemaran aflatoksin. Di sisi lain, belum terdapat penelitian tentang kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh cemaran aflatoksin, terutama di industri perunggasan karena ternak unggas memiliki tingkat keracunan yang lebih tinggi terhadap aflatoksin.
Pengetahuan dan kesadaran petani atau peternak di beberapa negara berkembang seperti Vietnam, Tanzania, Ethiopia, dan Kenya masih rendah. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat manajemen penanganan produk pertanian dan pakan terbatas. Alhasil, paparan aflatoksin pada ternak meningkat sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang lebih tinggi, bahkan resiko dikonsumsi oleh manusia akan mengalami kenaikan apabila aflatoksin menjadi residu dalam produk peternakan.
Kerugian ekonomi di Thailand pada bidang pertanian mencapai US$6,9 juta (108 miliar rupiah) per tahun pada tingkat cemaran aflatoksin yang rendah. Sedangkan pada tingkat cemaran aflatoksin yang tinggi mencapai US$100 juta (1,6 triliun rupiah) per tahun. Kerugian ekonomi paling besar secara berurutan ditanggung oleh produsen daging ayam, telur, daging babi, daging bebek, ikan, susu, dan jagung.
Di Indonesia, belum terdapat penelitian tentang estimasi kerugian yang disebabkan oleh cemaran aflatoksin, meskipun Indonesia memiliki risiko yang tinggi terhadap aflatoksin karena merupakan negara berkembang dan beriklim tropis. Selain itu populasi ternak uggas di Indoneisa juga lebih besar dibandingkan Thailand. Berdasarkan data Kementerian Pertanian tahun 2019, populasi ayam pedaging di Indonesia mencapai 3,2 miliar ekor, sedangkan ayam buras dan ras petelur yaitu 311,9 juta dan 263,9 juta ekor.
Baca Juga: Tekan Aflatoksin Pada Jagung dengan Limbah Cucian Kefir
Penelitian yang belum dilakukan secara komprehensif dan masif menyebabkan diseminasi atau penyuluhan hasil penelitian dan teknologi tetang pencegahan aflatoksin masih terbatas. Lebih dari itu, penelitian juga belum multi disiplin atau melibatkan ahli sosial, terutama dalam peningkatan pengetahuan dan kesadaran peternak melalui penyuluhan atau pelatihan. Kondisi ini apabila terjadi terus menerus tentu akan menyebabkan kerugian ekonomi yang semakin besar dan ancaman keamanan pangan akan meningkat.
Penelitian untuk menghasilkan teknologi dalam mencegah risiko aflatoksin pada sektor perunggasan masih memiliki peluang yang besar. Inovasi teknologi yang bisa dihasilkan meliputi anti-jamur, enzim, toxin-binder, dan probiotik. Sementara ini, kebanyakan teknologi tersebut masih didatangkan dari luar negeri (impor). Pengembangan teknologi akan membantu menurunkan kerugian peternak, terlebih apabila dapat diterapkan secara langsung.
Tidak kalah penting, penelitian untuk meningkatkan pengetahuan atau kesadaran peternak melalui pelatihan yang efektif. Data penelitian penulis menunjukkan bahwa pengetahuan dan kesadaran peternak terhadap cemaran aflatoksin masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan peternak yang sebagian besar masih di bawah sembilan tahun (tingkat SMA). Kondisi pendidikan yang rendah akan berdampak pada manajemen peternakan yang terbatas, sehingga risiko cemaran aflatoksin akan meningkat. Melalui pelatihan yang baik, peternak diharapkan menyadari penerapan Good Management Practices (GMP) sehingga dapat melakukan pencegahan peningkatan cemaran aflatoksin pada pakan ternak. Selain itu, peternak juga memahami gejala keracunan pada ternak yang disebabkan aflatoksin, sehingga dapat melakukan tindakan lanjutan.
Upaya peningkatan penelitian tentang aflatoksin menjadi penting, mengingat tingginya risiko cemaran aflatoksin di Indonesia. Kolaborasi berbagai peneliti dengan latar belakang keilmuan yang berbeda menjadi kunci keberhasilan menghasilkan inovasi untuk pencegahan risiko cemaran aflatoksin pada industri peternakan. *Dosen di Fakultas Peternakan UGM dan Koordinator Bidang IV PB ISPI
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2020 dengan judul “Penelitian Aflatoksin di Indonesia Masih Terbatas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153