POULTRYINDONESIA, Purwokerto – Penggunaan teknologi di industri peternakan semakin tak terhindarkan. Industri peternakan memerlukan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas baik di hulu maupun hilir, sehingga keberadaannya memainkan andil dalam upaya memenuhi ketahanan pangan hewani dan peningkatan mutu produk. Dalam mewujudkan pengembangan teknologi, tentu dibutuhkan kolaborasi aktif antara pemerintah, lembaga penelitian, dan swasta.
Hal tersebut dikemukakan dalam Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (STAP X) yang diprakarsai oleh Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Fapet Unsoed, dengan tema “Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Peternakan Lokal Untuk Menghadapi Era Sociaty 5.0”. Seminar dilaksanakan secara hybrid di Ruang Seminar Fapet Unsoed serta secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (20/6).
Ketua Panitia Acara, Dr. Ir. Agus Susanto, M.Sc.agr, IPU, menyampaikan bahwa seminar ini merupakan program rutin tahunan Fapet Unsoed yang telah berjalan sejak tahun 2013. Pelaksanaan seminar dengan konsep hybrid dipilih atas dasar keinginan untuk menyediakan tempat diskusi selebar-lebarnya kepada para peserta. Terlihat peserta datang dari berbagai daerah di wilayah Indonesia dengan jumlah lebih dari 200 partisipan.
“Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan merupakan wadah bagi para akademisi, profesional, dan praktisi dalam bidang peternakan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hasil penelitian terbaru dalam bidang pengembangan peternakan,” ucapnya.
Baca Juga: Industri Pakan Hadapi Tantangan Ketersediaan Bahan Pakan
Hal senada disampaikan oleh Dekan Fapet Unsoed, Prof. Dr. Ir. Triana Setyawardani, MP, IPU, yang mengatakan bahwa tujuan dari seminar ini dapat menjadi referensi penting bagi kalangan pelaku usaha peternakan dalam pengembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani Indonesia,
“Dengan adanya seminar nasional ini, kita berhadap dapat mendorong sinergi yang lebih besar antara ilmu pengetahuan teknologi industri peternakan dengan kearifan lokal yang ada. Dengan demikian, kita dapat menciptakan langkah-langkah yang nyata untuk meningkatkan daya saing, kesejahteraan peternak, dan berkelanjutan di sektor peternakan,” katanya.
Mewakili Rektor Unsoed, Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyati, MP, IPU. menyampaikan aspirasi setinggi-tingginya kepada Fapet Unsoed atas terselenggaranya seminar nasional yang secara konsisten sudah dilaksanakan berturut-turut selama 10 tahun terakhir. Ia menegaskan, seminar ini tidak hanya beroritenasi kepada hewan ternaknya saja, melainkan juga terhadap sumber daya manusia, produk yang dihasilkan, dan pemasaran sosial ekonominya.
“Di era society 5.0, saat ini pelaku usaha di bidang peternakan sudah banyak yang melakukan usahanya dari konvensional ke organik farming, dan kondisi tersebut memunculkan beberapa peluang di sisi off farm seperti obat herbal. Kemudian, di sisi on farm juga memiliki peluang seperti bagaimana caranya dapat beternak dengan seefisien mungkin,” tegasnya.
Pemaparan materi semijar pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.Sc.Agr., IPU selaku Rektor Unsoed. Melalui rekaman video, dirinya menjelaskan bahawa berdasarkan pengelaman penilitian yang dilakukan,  penguatan peternakan untuk menghadapi era ke depan sudah seharusnya dilakukan dengan pendekatan sistemik. Artinya, dilakukan oleh multi stakeholders seperti akademisi, perbankan, dinas, dan peternak. Ketika semuanya bisa bersinergi, maka akan muncul kepercayaan yang harus dibarengi dengan kreativitas.
“Untuk menghadapi tantangan ke depan, ada yang namanya adaptive management, salah satu contoh yaitu bagaimana berjualan hewan ternak juga didampingi oleh SPG (Sales Promotion Girls) seperti jualan mobil mewah. Hal ini merupakan sebuah inovasi yang tentunya merupakan bagian dari strategi pemasaran dan terbukti bisa berhasil,” paparnya.
Selanjutnya, Ir. Syafri Afriansyah, MBA selaku Head of Human Capital for Poultry Business PT Charoen Pokphand Indonesia, menjelaskan materinya mengenai prospek penerapan IoT (Internet of Things) pada industri peternakan. Teknologi ini merupakan wujud dari pengembangan industri 4.0, dimana peternak dapat mengawasi dan mengontrol kondisi dalam kandang melalui gadget. Dengan IoT, interaksi antara peternak dengan ternak akan diperkecil, sehingga mengurangi risiko dari penyebaran penyakit.
Baca Juga: Medion Kembali Meraih Penghargaan Wajib Pajak
“Pada prinsipnya, model dari IoT adalah untuk monitoring data yang ada di kandang seperti temperatur, kelembapan, lighting, dan ammonia. Lalu terhubung juga dengan manajemen budi daya dengan pengaturan pemberian pakan, sistem penyediaan air, dan lingkungan. Jika dianalogikan dengan dunia olahraga, maka IoT diibaratkan seperti atletik atau induknya olahraga, dimana IoT dapat menghubungkan semuanya melalui internet”.
Masih dalam acara yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. Ir Nasrullah, M.Sc dalam materinya banyak memaparkan mengenai kondisi makro sub sektor peternakan. Dirinya meyakini bahwa usaha di sub sektor peternakan merupakan hal yang menjanjikan, juga menjadi industri yang bergairah khususnya untuk generasi muda. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan yang signifikan jika meninjau dari lapangan usaha, investasi, dan KUR di industri sub sektor peternakan.
“Untuk lapangan usaha, year on year sub sektor peternakan tumbuh 7,4%, Kemudian, investasi dalam sub sektor peternakan tumbuh positif 478% untuk PMA (Penanaman Modal Asing) dan 53% untuk PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri). Dari serapan KUR di bidang peternakan terjadi peningkatan yang signifikan. Untuk KUR tahun 2022 menaik 2,16% dari tahun 2021. KUR peternakan ditambah dengan mix farming tahun 2022 menaik 24% dari tahun 2021,” jelasnya.