POULTRYINDONESIA, Malang – Antimicrobial Resistance (AMR) yang terjadi pada peternakan unggas baik broiler maupun layer terbilang masih tinggi.
Hal ini seperti disampaikan oleh Prof. Dr. drh. Mustofa Helmi Effendi, DTAPH, Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga dalam studium generale yang diadakan oleh FKH Universitas Brawijaya dan bekerjasama dengan AFKHI dan FAO dengan tema “Resistensi dan Penggunaan Antimikroba di Indonesia” pada Sabtu, (19/2) via aplikasi Zoom.
Baca juga : PTC #6: Biosekuriti Sebagai Tindakan Preventif
Menurut Helmi, yang paling penting menjadi catatan adalah masih tingginya adanya AMR di broiler.
” Memang untuk layer atau petelur masih ditemukan adanya AMR. Namun, di broiler ternyata jauh lebih tinggi, hal ini sesuai dengan penelitian yang kami kerjakan,” tugasnya.
Ia juga mengaku telah melakukan penelitian perihal AMR di sentra peternakan unggas di Jawa Timur, yakni di Blitar dan hasilnya ternyata cukup mencengangkan, dari sejumlah pantauan pada tingkat kecamatan terdapat berbagai macam prosentase terjadinya AMR. Kisarannya sebesar 16%, 22%, 35% bahkan ada yang 46%.
“AMR yang ada berdasarkan penemuan ESBL, yakni melalui Extended Spectrum Beta Lactamase yang dihasilkan oleh bakteri Escherichia coli,” tegasnya.
Ia melanjutkan bahwa tidak cukup resisten dari satu obat antibiotik. Namun, menurut penelitian yang ia lakukan ternyata sudah mengarah pada MDR atau Multi Drug Resistance, yakni resisten terhadap tiga obat antibiotik atau lebih.
“Kami semakin yakin adanya AMR serta MDR pada unggas karena data secara molekuler juga memberikan konfirmasi yang sama,” terangnya.
Oleh karena itu lanjutnya, sudah saatnya pihak Dinas Kesehatan setempat bekerjasama dengan pihak Dinas Peternakan melakukan kolaborasi dan komunikasi untuk menyelesaikan masalah ini.
“Sebab, masalah ini pada prinsipnya hanya bisa diselesaikan dengan kolaborasi dan komunikasi dengan pendekatan one health,” pungkasnya.