POULTRYINDONESIA, Bogor – Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University kembali melakukan prosesi wisuda Program Sekolah Pemberdayaan Rakyat (SPR) yang ke-8 pada Kamis (6/6) di Gedung Start Up Center, Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi IPB, Bogor, Jawa Barat.
Dalam kesempatan tersebut, 75 individu yang terdiri dari petani, peternak, dan anggota masyarakat berhasil lulus dari program SPR dan melakukan wisuda. Dimana sebanyak 47 orang berasal dari Kabupaten Fakfak (Papua Barat), 9 orang dari Kabupaten Sigi (Sulawesi Tengah), dan 9 orang dari Kota Kediri (Jawa Timur). Proses wisuda ini melibatkan minimal 14 kampung/desa, dengan 12 kampung di antaranya berasal dari Fakfak yang tersebar di 4 distrik (Arguni, Kokas, Tomage, dan Bomberay).
Terkhusus, program SPR di Sigi diadopsi oleh Universitas Tadulako, yang telah menerima inovasi dan lisensi dari IPB untuk menjalankan SPR di wilayah Sulawesi Tengah. SPR IPB merupakan model sosial yang terbuka untuk diadopsi oleh perguruan tinggi lain melalui mekanisme pemberian lisensi (transfer inovasi). Dalam hal ini, IPB dan Universitas Tadulako telah bergabung dalam Aliansi Strategis Pengelola SPR Indonesia (AGISPRINA) dengan komitmen untuk mengembangkan komunitas agromaritim melalui program SPR di seluruh Indonesia. Sampai saat ini, IPB telah mendirikan 75 SPR-1111 (peternakan) di 13 Provinsi dan 23 Kabupaten/Kota, meskipun beberapa diantaranya terhenti karena dampak Covid-19 dan kendala lainnya.
Ketua Panitia Prof Drh Agik Suprayogi yang menjabat Wakil Kepala Bidang Penelitian LPPM IPB menyatakan rasa syukur dan bangganya kepada para wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan program SPR dengan baik. Dirinya turut menyampaikan terima kasih kepada Universitas Tadulako dan tiga universitas lainnya, yaitu Universitas Papua, Universitas Islam Kadiri Jawa Timur, dan Politeknik Negeri Fakfak, atas dukungan mereka terhadap upaya IPB dalam membentuk AGISPRINA.
“Hari ini, kami bersyukur atas kesempatan dari Universitas Tandulako-Palu Sulawesi Tengah untuk mengadakan wisuda bersama dengan satu SPR-1111 Mosangu Masagena dari Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi, sebagai bagian dari kolaborasi dalam AGISPRINA. Kami juga mengakui kemungkinan bagi alumni SPR-IPB untuk diwisuda di Universitas Tandulako atau universitas lain yang tergabung dalam Aliansi tersebut, demi efisiensi dan efektivitas bersama,” ungkapnya.
SPR merupakan pendekatan inklusif untuk mencapai Sustainable Livelihoods (penghidupan berkelanjutan), yang mendukung pembangunan pedesaan/perkampungan dan masyarakat agromaritim untuk mewujudkan kedaulatan pangan (food sovereignity). Ini adalah terobosan besar untuk meningkatkan kapasitas dan posisi tawar (bargaining position) masyarakat agromaritim dalam menghadapi perubahan dan pembangunan wilayah mereka.
Mewakili Rektor IPB University, Sekretaris Jenderal Dewan Guru Besar IPB University Prof Drh Mohamad Agus Setiadi Secara khusus mengatakan bahwa pembangunan SPR di Fakfak merupakan bagian dari Proyek Pengembangan Peternakan dan Ketercukupan Pangan di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat, yang didukung oleh PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim).
“Nantinya diharapkan proyek ini akan melakukan ekspansi bisnisnya untuk mengembangkan kawasan industri pupuk di Fakfak. Program SPR juga diharapkan menjadi bagian dari praktik ESG (Environmental Social Governance) dan GCG (Good Corporate Governance) baik IPB University maupun PT. Pupuk Kaltim,” tambahnya.
Dirinya menambahkan bahwa SPR bertujuan untuk membentuk komunitas lokal yang mandiri dan berdaya saing, mempersiapkan mereka untuk menghadapi perubahan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. “Harapannya, SPR dapat menciptakan masyarakat agromaritim yang inklusif, tangguh, dan adaptif, serta berperan dalam swasembada pangan dan daging nasional, serta sebagai strategi untuk mengatasi kerawanan pangan. Bahkan berpotensi juga sebagai salah satu strategi pemenuhan logistik untuk mendukung program Makan dan Susu Gratis—yang dicanangkan oleh presiden terpilih,” tegasnya.