View of hens and roosters inside a modern poultry house
Oleh : Prof. Dr. Ir. Nyak Ilham, M.Si*
Brasil sebagai negara eksportir daging ayam dunia, menduduki peringkat pertama, diikuti oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Hingga saat ini, sudah banyak negara yang telah mengimpor daging ayam Brasil. Hal tersebut tak lepas dari kemampuan Brasil sebagai salah satu negara produsen daging ayam terbesar dan telah mencukupi kebutuhan produk unggas bersumber produksi domestik. Bahkan sampai sekarang Indonesia erat dikaitkan dengan importasi daging ayam dari Brasil.

Brasil merupakan eksportir utama daging ayam di dunia, dan saat ini sedang berusaha memasuki pasar Indonesia. Apabila daging ayam dari Brasil berhasil masuk ke pasar Indonesia, maka akan sangat memengaruhi industri ayam nasional.

Jika dilihat dari produksi daging ayam yang telah dicapai, Indonesia juga sudah mampu mencukupi kebutuhan produk unggas bersumber produksi domestik. Oleh sebab itu, masuknya daging ayam Brasil ke Indonesia diyakini akan memengaruhi industri unggas nasional dari hulu sampai hilir. Hal ini tentu akan berpengaruh, karena kemampuan mempertahankan eksistensi industri sangat berkaitan erat dengan daya saing, yang dalam hal ini merupakan daya saing harga yang merujuk kepada aspek biaya dan produktivitas. Kemudian, pada industri perunggasan, biaya pakan memiliki andil yang paling besar dalam aspek biaya produksi.
Dalam tulisan ini, penulis membandingkan daya saing produk unggas nasional dengan produk unggas Brasil dari sisi biaya produksi dan beberapa faktor yang memengaruhinya. Dengan begitu, tulisan ini berisi informasi daya saing produk unggas nasional dibandingkan dengan produk unggas Brasil. Berdasarkan output yang dihasilkan, diharapkan pembaca atau stakeholder perunggasan dapat mengantisipasi dengan adanya impor daging ayam Brasil.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Silva (2019), pada bulan Januari 2017 sampai Juni 2019 kisaran biaya produksi broiler Brasil antara Rp9.530 sampai Rp12.000. Dalam kata lain, produksi broiler Brasil masih jauh lebih murah dibandingkan dengan produksi di Indonesia, yakni dengan rata-rata Rp16.000 per kilogram. Artinya, biaya produksi broiler Brasil setara dengan 65% dari biaya produksi di Indonesia.
Selain harganya yang lebih murah, kualitas daging ayam Brasil juga sudah mengantongi standar internasional. Oleh karenanya, industri ayam nasional harus segera melakukan analisis dan membenahi diri untuk menghadapi persaingan atas masuknya daging ayam impor Brasil. Aspek yang memberi pengaruh penting terhadap daya saing tersebut yakni bahan baku pakan, pengendalian penyakit, adaptasi teknologi, data pengawasan, struktur industri, pola pengusahaan dan rantai pasok. Berikut adalah upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh Indonesia untuk mengantisipasi impor daging ayam Brasil.
Bahan pakan
Murahnya biaya produksi daging broiler di Brasil disebabkan oleh peran bahan pakan. Hal ini dikarenakan Brasil merupakan salah satu negara produsen jagung dan minyak nabati terbesar. Menurut riset Valdesa (2015), pakan unggas di Brasil terdiri dari jagung sebesar 70% dan soybean meal (SBM) 20%.
Pemerintah Brasil, memberikan subsidi kepada produsen jagung. Hal ini tentu memengaruhi biaya produksi jagung sebagai bahan pakan ayam. Selain untuk pakan, jagung di Brasil juga digunakan untuk menghasilkan etanol, sehingga harga etanol juga akan menentukan harga jagung untuk pakan. Untuk meningkatkan produktivitas, Brasil juga menggunakan jagung hasil bioteknologi yang diperkirakan sekitar 10% dari luas tanam yang ada.
Keuntungan dari sektor pakan di negara Brasil adalah komponen jagung dan bungkil kedelai yang besar, yaitu 90% tetapi harganya murah, menyebabkan biaya produksi pakan di Brasil hanya 62,8% dari total biaya produksi. Sedangkan di Indonesia menggunakan bahan pakan jagung dan SBM sebesar 64%, namun rataan komponen biaya produksi pakannya lebih tinggi yaitu 72,1% dari total biaya produksi. Melambungnya komponen biaya pakan pada biaya produksi di Indonesisa ini, menyebabkan tingginya daya saing broiler Brasil.
Kemudian, berbicara mengenai bahan pakan lokal Indonesia, sumber bahan pakan yang ada selain jagung adalah ketela pohon, bungkil inti sawit (BIS), CPO, dan dedak padi. Khusus bungkil inti sawit, CPO, dan ketela pohon tersedia cukup banyak, namun saat ini penggunaannya masih terbatas. Hingga saat ini, riset penggunaan BIS untuk pakan broiler masih terus digencarkan oleh para peneliti di Indonesia, contohnya yaitu Palm Kernel Oil (PKO) yang memiliki daya cerna lebih baik.
Selain bungkil inti sawit, sebenarnya Indonesia juga memiliki bahan pakan sumber protein yang berpotensi menggantikan bahan pakan impor. Bahan pakan tersebut adalah tepung maggot BSF yang memiliki kadar protein sebesar 40-50%. Namun hingga saat ini tepung maggot BSF belum diproduksi secara komersial mengingat harga nya yang relatif mahal yaitu mencapai Rp30.000 per kilogram. Selain masalah harga, kuantitas maggot BSF juga patut ditanyakan untuk sebagai pengganti pakan sumber protein impor.
Pola pengusahaan dan rantai pasok
Tidak berbeda dengan Indonesia, peternak di Brasil kebanyakan menggunakan pola usaha kemitraan antara peternak sebagai plasma dan perusahaan sebagai inti. Hanya saja, skala usaha kemitraan di Indonesia masih relatif kecil jika dibandingkan dengan di Brasil. Padahal fakta mengatakan bahwa makin besar skala usaha maka makin efisien pula usaha yang dilakukan.
Selain mengenai bahan pakan, salah satu keunggulan dari Brasil adalah terkait rantai pasoknya yang terbilang pendek. Di Brasil, peternak langsung menjualkan ayam hidupnya ke rumah potong ayam, yang mana masih dimiliki oleh perusahaan inti. Produk yang berasal dari rumah potong ini nantinya akan didistribusikan dalam negeri dan diimpor ke luar Brasil.
Kemudian di Indonesia sendiri, memiliki rantai pasok yang lebih panjang dibandingkan dengan Brasil. Mulai dari peternak ke tempat pemotongan ayam melalui agen, distributor dan ke pengecer ayam hidup di pasar. Hal lumrah yang sering terjadi adalah para pedagang ini yang mengatur harga jual di tingkat konsumen, sehingga adakalanya harga di konsumen tetap tinggi bahkan meningkat, sementara di tingkat peternak, terutama peternak mandiri, harga ayam justru turun. Untuk itu, perhatian terhadap rumah potong ayam juga penting karena merupakan titik temu antara penawaran dan permintaan.        
Data dan pengawasan
Sampai saat ini, data mengenai populasi ternak, jumlah peternak dan pelaku usaha perunggasan dari hulu sampai hilir masih belum tersampaikan dengan baik. Padahal seharusnya kebijakan yang baik harus berjalan dan bergandengan dengan ketersediaan data yang akurat. Efek dari ketidakakuratan data ini seringkali mengakibatkan momen kelangkaan pasokan daging ayam saat menjelang HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) dan sering pula terjadi surplus pasokan di pasar.
Pengawasan pelaku usaha sejak dari penetasan dan pabrik pakan hingga dijual ke pasar dan sampai digunakan oleh peternak perlu dilakukan. Selama ini peran tenaga Wasbitnak (pengawas bibit ternak) dan Wastukan (pengawas mutu pakan) pada industri unggas belum berjalan sebagaimana mestinya. Kejadian di lapangan, ada keluhan kualitas pakan dan DOC yang peternak beli tidak sesuai standar. Seperti pakan yang diberikan tidak menambah berat badan sesuai yang diharapkan, tetapi hanya menambah pertumbuhan bulu.
Untuk meningkatkan efektivitas pengawasan usaha peternakan, pengembangan sistem informasi sebagai sarana pencatatan laporan ternak secara digital dapat mengurangi tenaga yang dibutuhkan secara signifikan, mempercepat pengolahan informasi ternak dan mengurangi kesalahan pengolahan informasi. Perangkat lunak komputer dapat dijadikan alternatif untuk mengintegrasikan proses manajemen dan pengawasan pada perusahaan peternakan. *Peneliti Ahli Utama pada Badan Riset dan Inovasi Nasional
Tulisan ini merupakan bagian dari artikel rubrik Riset majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153