Dinamika penyakit unggas sepanjang 2025 menunjukkan bahwa tantangan bukan hanya soal patogen yang semakin adaptif, tapi juga bagaimana manajemen kandang harus semakin responsif.
Sebagai industri biologis yang sangat bergantung pada kesehatan dan performa ternak, tantangan penyakit dalam usaha budi daya unggas tidak dapat diabaikan begitu saja. Serangan penyakit yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat bukan hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi usaha, stabilitas pasokan, hingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak.
Risiko penyakit unggas tidak hanya sebatas mengancam performa produksi, tetapi juga membawa risiko bagi kesehatan masyarakat sebagai konsumen akhir. Beberapa penyakit bersifat zoonotik sehingga dapat menular ke manusia dan berpotensi memicu epidemi. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian serta kecemasan di kalangan konsumen dan pelaku usaha, sehingga menuntut penanganan yang cepat, tepat, dan terpadu untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Tantangan ini diperparah oleh perubahan iklim yang mengakibatkan pergeseran pola persebaran penyakit serta meningkatkan kemungkinan munculnya patogen baru yang lebih kuat dan resisten terhadap upaya pengendalian. Dimana sepanjang tahun 2025, kondisi cuaca yang tidak menentu memperburuk dinamika kesehatan unggas. Fluktuasi suhu yang ekstrem, curah hujan tinggi, serta perubahan kelembapan yang drastis menciptakan perubahan iklim mikro di dalam kandang. Situasi ini memicu efek domino yang memengaruhi kerentanan unggas terhadap penyakit bakterial, viral, parasit, hingga gangguan metabolik. Dampaknya dapat terlihat secara langsung pada performa produksi, mulai dari pertumbuhan yang terhambat pada ayam pedaging hingga penurunan produksi telur pada ayam petelur.
Berdasarkan laporan dari berbagai narasumber di lapangan, serangan penyakit unggas sepanjang tahun 2025 didominasi oleh penyakit pernapasan dan infeksi yang menyebabkan turunnya produksi. Penyakit seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Chronic Respiratory Disease (CRD), CRD Kompleks, Colibacillosis, serta Coryza masih menjadi ancaman serius bagi sektor perunggasan. Penyebaran penyakit tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi lingkungan dan agen infeksius hingga aspek manajemen, seperti kepadatan kandang yang tinggi, kurang tepatnya penanganan unggas sakit, serta penerapan biosekuriti yang belum konsisten.
Selain ancaman dari agen penyakit itu sendiri, faktor internal seperti perubahan respon kekebalan unggas akibat stres lingkungan turut memperburuk kondisi. Tantangan di lapangan juga semakin berat karena penerapan biosekuriti yang belum merata, akses terhadap tenaga kesehatan hewan yang belum optimal, serta pemahaman peternak yang masih bervariasi terkait pengendalian penyakit berbasis manajemen dan teknologi.
Melihat tren yang terjadi sepanjang 2025, proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa risiko penyakit unggas masih berpotensi meningkat. Perubahan iklim yang makin ekstrem, meningkatnya kepadatan populasi unggas, serta pola produksi intensif dapat memperbesar peluang penyebaran penyakit. Potensi mutasi virus seperti yang kerap terjadi pada virus flu burung dapat melahirkan varian baru yang lebih mudah menyebar dan berpotensi menginfeksi manusia, sehingga meningkatkan ancaman terhadap kesehatan global. Penggunaan antibiotik dan vaksin yang tidak tepat juga dapat memicu resistensi antimikroba, yang pada gilirannya menambah kompleksitas pengendalian penyakit di lapangan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.











