Perang antara Ukraina dan Rusia tidak bisa dipungkiri berimbas pada inflasi global. Karena adanya kenaikan harga minyak dan barang-barang lainnya, kemungkinan masyarakat global akan lebih memilih sumber protein yang terjangkau, yaitu daging ayam dan telur.
Oleh : drh. Istianah Maryam Jamilah, MVS.*
Terganggunya pasokan bahan pakan unggas dan produk asal unggas dari Rusia dan Ukraina ke berbagai negara menyebabkan harga pasar dan logistik yang tinggi. Di sisi lain, perang Ukraina dan Rusia juga membuka peluang ekspor unggas dari negara-negara seperti Inggris, Brasil, Thailand dan Cina.
Invasi militer Rusia ke Ukraina secara signifikan telah mengganggu berbagai lini pasar global, termasuk pasar unggas dunia.
Perang Rusia dan Ukraina memberikan dampak negatif terhadap pasokan pangan dan energi dari dua negara yang sedang berseteru ke Uni Eropa. Hasil pertanian seperti biji-bijian termasuk jagung serta karkas unggas dari Ukraina ke Eropa menjadi terputus karena perang yang terus berlanjut. Pengurangan impor jagung dan daging unggas dari Ukraina berdampak pada kenaikan harga pakan unggas dan industri makanan di Uni Eropa. 
Menurut laporan European Commission, Ukraina menyumbang 10% dari perdagangan jagung dan gandum dunia di tahun 2021. Ukraina juga merupakan salah satu penyuplai daging unggas terbesar di Eropa, setelah Inggris Raya, Brazil, dan Thailand.
Namun, gangguan transportasi dan logistik di Ukraina akibat perang serta gangguan logistik pelabuhan di Laut Hitam telah berdampak pada kapasitas Ukraina untuk mengekspor jagung dan daging broiler ke Eropa dan negara-negara lainnya. Suplai jagung yang berkurang ditambah gangguan dan di rantai logistik berimbas pada kenaikan harga karkas broiler di Eropa.
Selain itu, pembatasan ekspor minyak dari Rusia ke berbagai negara juga menyebabkan tingginya biaya transportasi dan logistik antar negara, sehingga perang diperkirakan akan mengganggu stabilitas harga perdagangan unggas global. 
Ukraina dan Rusia berkontribusi cukup besar (5%) dalam perdagangan daging unggas dunia. Bahkan, Ukraina menempati peringkat ke delapan, eksportir unggas dunia tahun 2021. Untuk itu, ketika ekspor unggas kedua negara ini terganggu akibat perang, maka kesempatan bagi negara-negara eksportir daging unggas lainnya untuk mengisi kekosongan ini terbuka lebar. 
Terhentinya ekspor daging unggas dari Ukraina ke Eropa nampaknya menjadi angin segar bagi industri perunggasan di Inggris, Thailand, Brasil dan China. European Commission juga menyatakan bahwa Eropa akan melakukan impor tambahan dari Inggris, Brasil, Thailand, dan China untuk menggantikan impor daging unggas dari Ukraina di tahun 2022. Diperkirakan akan ada kenaikan impor unggas ke Uni Eropa sekitar 1,5% di tahun 2022 akibat permintaan dan harga daging yang tinggi di Eropa.
Perang antara Ukraina dan Rusia tidak bisa dipungkiri berimbas pada inflasi global. Karena adanya kenaikan harga minyak dan barang-barang lainnya, kemungkinan masyarakat global akan lebih memilih sumber protein yang terjangkau, yaitu daging ayam dan telur. Konsumsi yang cenderung meningkat di tengah perang antara Ukraina dan Eropa memberikan kesempatan besar bagi industri perunggasan untuk memperluas ekspansi ekspornya.
Di Eropa sendiri, tahun 2022 ini akan kedatangan banyak pengungsi dari Ukraina. Para pengungsi perang dari Ukraina yang tersebar di Eropa juga diperkirakan akan lebih memilih sumber protein asal unggas yang lebih terjangkau daripada sumber protein hewani lainnya seperti daging sapi. Melihat kondisi di Eropa dan kondisi inflasi global, permintaan daging unggas dan konsumsi unggas dunia tahun 2022 diperkirakan meningkat. *Koresponden Poultry Indonesia di New Zealand, Alumni Massey University New Zealand
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2022 dengan judul “Kondisi Perunggasan Dunia di Tengah Perang Ukraina dan Rusia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153