Permintaan telur biasanya akan meningkat menjelang lebaran (Sumber gambar: https://www.hobbyfarms.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Isu terkait ketersediaan pangan selalu menjadi sorotan menjelang Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) terutama saat Puasa dan Lebaran. Hal tersebut menjadi sorotan karena ketersediaan pangan di pasar merupakan hal yang sangat penting, yang dibarengi dengan kebiasaan tingginya tingkat konsumsi masyarakat pada bulan-bulan tersebut. Apabila tidak diikuti dengan stok pangan yang cukup, maka hal ini akan memicu tingginya inflasi karena harga pangan ikut melambung tinggi.

Kebijakan pembatasan kegiatan di luar rumah yang pada selanjutnya berkembang menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah diterapkan di beberapa kota sangat berdampak kepada bisnis sektor perunggasan.

Akan tetapi, nampaknya pada momen bulan Puasa dan Lebaran tahun ini kondisinya sedikit berbeda. Serangan pandemi COVID-19 membuat Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan serangkaian kebijakan yang secara tidak langsung akan berpengaruh kepada sektor pangan terkhusus perunggasan. Untuk itu, dalam rangka mengantisipasi dampak COVID-19 terhadap ketersediaan daging dan telur ayam ras pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Puasa dan Lebaran (April sampai Mei 2020), Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan perunggasan yakni asosiasi perunggasan (GPPU, GOPAN, PPRN dan PINSAR), Satgas Pangan, Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian di Jakarta, Kamis (19/3).
Baca Juga: Kementan Pastikan Stok Pangan Pokok Asal Hewan Cukup Jelang Lebaran
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diramita, pada forum tersebut menyampaikan bahwa pemerintah bersama pemangku kepentingan harus duduk bersama untuk mengevaluasi kesiapan terkait dampak COVID-19 terhadap keseimbangan permintaan dan penawaran komoditas daging ayam dan telur menjelang HBKN ini.
Berdasarkan data yang dimiliki, Ketut menyampaikan bahwa khusus untuk bulan Puasa dan Lebaran yang jatuh pada bulan April dan Mei 2020, stok daging ayam dan telur konsumsi dalam kondisi aman. Diperkirakan produksi daging ayam ras secara kumulatif periode Maret sampai Mei 2020 mencapai 990.608 ton, sedangkan kebutuhan diperkirakan sebanyak 879.755 ton, sehingga ada neraca surplus sebanyak 110.853 ton. Saat ini, tersedia juga stok akhir Februari sebanyak 98.640 ton, sehingga total stok surplus sampai akhir Mei 2020 diperkirakan mencapai 209.493 ton.
Sementara itu, perhitungan ketersediaan telur ayam ras periode yang sama diperkirakan sebanyak 1.260.071 ton, ditambah dengan stok akhir Februari sebanyak 27.582 ton. Adapun kebutuhan masyarakat sebanyak 1.284.097 ton, sehingga ada surplus kumulatif sebesar 3.556 ton. Dari kedua komoditas perunggasan tersebut stok dapat dikatakan aman. Sandi, Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2020 dengan judul ”Kondisi Perunggasan Mendekati Bulan Puasa”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153