Mayoritas S=sistem perkandangan di Indonesia masih menggunakan opened house
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec selaku Dekan Sekolah Vokasi IPB University mengatakan bahwa dari sisi produksi Indonesia masih belum mampu menerapkan prinsip ‘economies of scale’ dalam arti peningkatan produksi dengan penurunan biaya produksi. Kondisi ini terjadi akibat adanya faktor pendukung lain yang masih terabaikan oleh pelaku di sektor perunggasan. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka industri ini tidak akan memiliki daya saing, produktivitas, maupun daya tahan yang tinggi. Produsen unggas sangat menyadari bahwa tanpa peningkatan daya saingnya, maka cepat atau lambat mereka akan kehilangan pasar mereka kepada pesaing regional maupun internasional yang harganya jauh lebih kompetitif.
Berbicara mengenai fluktuasi harga yang terus-menerus terjadi di Indonesia, Arief mengatakan bahwa fluktuasi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, contohnya yaitu ketersediaan bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai. Harga jagung melambung tinggi akibat ditutupnya keran impor jagung, sementara permintaan terhadap jagung terus meningkat. Arief menambahkan, industri perunggasan merupakan industri biologis yang rentan terhadap serangan penyakit. Seperti di negara lain misalnya, kontrol penyakit ini dilakukan dengan sebuah regulasi yang melarang pemasaran ayam dalam bentuk hidup, sehingga produk yang boleh dipasarkan yaitu dalam bentuk beku.
Baca Juga : Mentan Harga Live Bird Ayam Ras Harus Sesuai Acuan dalam 7 Hari
Permasalahan yang dihadapi dalam penerapan sistem rantai dingin ini yaitu bagaimana mengubah preferensi masyarakat yang lebih memilih hot carcass (daging baru sembelih) untuk berubah ke daging beku. Kebanyakan masyarakat di Indonesia lebih cenderung memilih penjual ayam yang pemotongannya dilakukan pada saat itu juga. Perlu peran serta pemerintah untuk memberikan promosi bahwasanya kualitas maupun kuantitas dari daging beku sama halnya dengan hot carcass.
Ancaman perunggasan nasional
Kekalahan Indonesia atas Brasil dalam sidang di World Trade Organization (WTO) menjadi ancaman serius yang perlu diperhatikan. Brasil yang merupakan salah satu produsen ayam terbaik di dunia, terus berupaya untuk meningkatkan daya saingnya. Tak heran jika saat ini Brasil telah mengekspor produk unggasnya ke lebih dari 150 negara dan termasuk 5 negara pengekspor daging ayam beku terbesar menurut World Top Export (WTEx) tahun 2016 dengan total US$5,9 miliar.
Brasil merupakan eksportir sekaligus produsen daging ayam dengan biaya produksi yang paling rendah, disusul oleh Amerika Serikat yang nilai produksinya tak berbeda jauh dengan Brasil. Biaya pakan dalam hal ini memberikan pengaruh signifikan terhadap keseluruhan biaya produksi karena pada negara yang memiliki biaya produksi yang rendah, persediaan bahan pakan utama seperti jagung dan bungkil kedelai melimpah dan didapatkan dengan harga yang murah.
Brasil memang jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan biaya produksi peternakan ayam (broiler) di Indonesia yang ada diangka Rp17.000 per kilogramnya. Selisih harga yang sangat signifikan ini sudah seharusnya menjadi perhatian bersama agar industri perunggasan nasional dapat berbenah diri agar tidak kalah bersaing dari produk perunggasan asal luar negeri, terutama dari negara seperti Brasil. Usaha dalam peningkatan daya saing ini perlu didukung oleh upaya dari segala pihak yang terlibat dalam industri perunggasan untuk menciptakan iklim usaha perunggasan yang kondusif. Esti
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Gambaran Umum Sektor Perunggasan Nasional”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153