Suasana konferensi pers Indonesia International Poultry Conference
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Indonesia dengan penduduk 267 juta orang merupakan pasar yang sangat besar bagi industri perunggasan beserta industri turunannya. Konsumsi produk perunggasan juga diprediksi akan mengalami pertumbuhan di atas 5%, karena peningkatan pendapatan penduduk Indonesia yang semakin membaik.
Menurut Bambang Suharno, selaku Indonesia International Poultry Conference Committee, dalam konferensi pers yang diadakan di Resto Cerita Rasa Cilandak, Jakarta Selatan, Jum’at (21/2), menyebutkan bahwa saat ini Indonesia meruapakan negara yang sangat baik untuk investasi di bidang perunggasan karena terus mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Indonesia adalah produsen telur nomor 7 dan broiler nomor 10 di dunia pada saat ini.
“Sebagai pemain unggas terbesar di kawasan ASEAN, Indonesia membutuhkan forum internasional yang diselenggarakan setiap tahun untuk membahas masalah yang terjadi pada industri ini. Negara kita memiliki potensi untuk terus tumbuh, berbeda dengan beberapa negara di Asia lainnya yang industri perunggasannya mengalami stagnansi,” ujarnya.
Atas dasar itulah, masih menurut Bambang, Indonesia International Poultry Conference (IIPC) yang pertama ini akan digelar di Kota Solo, Jawa Tengah, pada hari Kamis-Sabtu, 2-4 April 2020. Kota Solo dipilih karena merupakan pusat kebudayaan jawa dengan berbagai keunikannya.
Alfred Kompudu, perwakilan FAO ECTAD Indonesia yang hadir dalam konferensi pers tersebut, juga urun suara mengenai kondisi ini. Menurutnya, dengan semakin meningkatnya jumlah populasi unggas khususnya ayam modern setiap tahunnya, pemahaman akan biosekuriti juga perlu ditingkatkan supaya produktivitas tetap terjaga. “FAO dijadwalkan menjadi salah satu narasumber pada konferensi ini, semoga acara nanti bisa berjalan dengan lancar,” ucapnya.