POULTRYINDONESIA, Jakarta – Agregator dalam dunia transportasi seperti Gojek, Grab dan sejenis, sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. Hal ini memberi inspirasi pada dunia peternakan untuk menerapkan konsep agregasi di dunia peternakan.

“Kita sangat terinspirasi dengan adanya Gojek yang dibutuhkan didunia transportasi, dan kami berharap platform Ayoternak dibutuhkan di dunia peternakan,” terang dr Abbi AP Darmaputra, Founder Ayoternak, dalam Farmsco E talk dengan tema Teknologi IoT masa depan Sektor Peternakan di Indonesia, yang berlangsung secara daring baik Zoom maupun Youtube, Senin ( 26/).

Abbi menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara integrator dan aggregator. Integrator adalah sistem serupa dan membesar, bekerja dan bersaing di wilayah yang sama dengan konsumen dan bergerak meningkatkan neraca perusahaan secara aktif dan berperan dominan dalam supply chain yang biasanya murni sebuah bisnis.

Sedang agregator adalah tidak berbisnis yang serupa dengan pembelinya, atau pemakai layanannya, bekerja memberikan nilai tambah secara teknologi, terhadap bisnis yang sudah ada, memudahkan pengguna dalam supply chain. Contoh aggregator yang sangat dikenal adalah Gojek dan Grab.

Platform aggregator peternakan di Indonesia ini diharapkan mampu mendisrupsi pasar secara umum. Dengan konsep ini akan mengubah disrupsi dengan inovasi,yang nantinya akan menimbulkan evolusi yang menetap termasuk perubahan industri.

“Sebab, Indonesia adalah lumbung pangan terbaik di Asean dengan jumlah lahan terluas, potensi terbanyak, keragamannya terbaik. Namun, saat ini sayangnya dunia peternakan sulit dijalankan oleh orang awam. Aggregator tidak membuat usaha baru. Namun lebih memfasilitasi yang sudah ada seperti peternak mandiri, kelompok ternak, koperasi ternak, poultry shop, peternak modern, rumah potong ayam, bakul ayam, supplier ovk, trader sapronak dan yang lain,”pungkasnya