POULTRYINDONESIA, Denpasar – Pandemi tidak terlepas dari penyakiti infeksi baru karena 60% penyakit pada manusia bersumber dari penyakit zoonosis ataupun dari hewan. Literatur menyebutkan 75% penyakit baru yang baru muncul pada manusia bersumber dari hewan. Resistensi antimikroba (AMR) merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan dan ketahanan pangan.
Baca juga : Menghindari Resistensi Antibiotik dengan Menjaga Kesehatan Saluran Cerna
Berangkat dari hal tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana bersama dengan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia, Kementrian Pertanian dan FAO menggelar studium generale atau kuliah umum bertema “Materi Pengayaan Kontrol Penyakit Zoonosis, Penyakit Infeksi Baru dan Terbarukan, Kesehatan Unggas, AMR/AMU dengan Pendekatan One Health”. Acara yang diselenggarakan secara daring melalui Webex, Sabtu (19/3) ini membicarakan mengenai zoonosis, penggunaan antimikroba serta peran FAO dalam lintas batas penyakit hewan.
Sambutan pertama diawali oleh Prof. Dr. drh. I Nyoman Suartha, M.Si selaku dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana menyebutkan sangat penting memberikan pemahaman sejak dini kepada masyarakat dan mahasiswa mengenai penyakit zoonosis dan bahaya penggunaan antibiotika.
Dilanjutkan sambutan oleh Luuk Schoonman DVM, PhD sebagai Country Team Leader FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Disease (ECTAD) Indonesia menyebutkan kolaborasi ECTAD Indonesia dan AFKHI mendukung sebelas Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia untuk meningkatkan dan memperkaya materi tentang isu-isu global seperti zoonosis dan resistensi antimikroba serta penggunaannya dalam kesehatan unggas melalui pendekatan One Health.
Sambutan oleh Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si selaku Direktorat Jendral PKH dan keynote speaker sekaligus membuka acara. Beliau mengatakan bahwa tahun 2016 dirilis sebuah laporan global review terkait dengan perkembangan resistensi antimikroba dimana pada tahun 2050 menyebabkan kematian 10 juta jiwa per tahun dan Asia menjadi hotspot kematian tertinggi Resistensi antimikroba dapat dikatakan silent pandemic. “Berdasarkan berbagai laporan tercatat bahwa 2,5 miliar kasus zoonosis setiap tahun mengakibatkan 2,7 juta kematian pada manusia,” lanjut Nuryani.
Prioritas One Health meliputi Penguatan system pemantauan, surveilans dan pelaporan untuk mencegah dan mendeteksi munculnya penyakit hewan, mengembangkan kapasitas koordinasi dan pertukaran informasi, memperkuat infrastruktur kesehatan hewan, meningkatkan kapasitas sector pangan dan pertanian untuk memerangi dan meminimalkan risiko AMR serta mempromosikan keamanan pangan di tingkat nasional dan internasional.
“Hampir 20% dari produksi hewan global hilang karena penyakit sehingga vaksinasi memastikan kesejahteraan yang lebih baik, menekan kasus penyakit dan kematian, membuat sumber daya lebih efisien dan mengurangi kebutuhan untuk penggunaan antibiotik,” pungkas Nuryani.
Masih dalam acara yang sama, narasumber Dr. drh. Agustina Dwi Wijayanti, MP selaku Kepala Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada membahas AMR-AMU dan kaitannya dengan Poultry Health. Beliau mengatakan penggunaan antimikroba yan tidak tepat (misuse) dan masalah penyebaran mikroba resisten menyebabkan tingkat kesembuhan yang semakin kecil pada pasien.
Pada unggas, terjadinya resistensi antimikroba yang paling sering di karenakan oleh penggunaan antimikroba sebagai imbuhan pakan dalam dosis sub terapi dan untuk mengatasi infeksi sekunder serta antimikroba tidak sesuai dosis terapi dan tidak dilakukannya evaluasi terapi. “Obat-obatan antimikroba yang paling sering digunakan pada unggas adalah neomycin dan penicilin G digunakan untuk growth promotor, kesehatan hewan dan produksi telur,” kata Agustina.
Penggunaan antimikroba berkaitan dengan peresepan. Pada unggas, persepan ditujukan ke hewan populatif yang memiliki struktur resep sedikit berbeda dibandingkan resep individu. Peresepan ini digunakan karena pemberian obat yang paling rasional pada ternak unggas hanya melewati pakan dan air minum.
“Dalam mengatasi AMR-AMU menuju One Health adalah dengan kita menurunkan penggunaan antibiotik. Laporan tahun lalu dari organisasi di Eropa mengatakan bahwa penggunaan antimikroba sudah mulai turun,” pungkas Agustina.