Konsep terpadu One Health
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebanyak 60 hingga 70% penyakit infeksius yang menyerang manusia ditularkan dari hewan. Penyakit ini melibatkan mikroba dari manusia, hewan, dan lingkungan, sehingga tindakan seperti prevensi, medikasi, dan rehabilitasinya harus melibatkan berbagai sektor. Berangkat dari hal tersebut, CENTROVETS-OHCC Universitas Syiah Kuala Banda Aceh bekerja sama dengan USAID, SEAOHUN, dan INDOHUN, menyelenggarakan webinar dengan tema ”Prevention of Potential Zoonoses Agent Through Application of Biosecurity in Farm and Live Poultry Market”, yang dilaksanakan secara virtual via Zoom, Sabtu (28/7).
Acara ini dihadiri oleh Prof. dr. Agus Suwandono, MPH, Dr.PH. selaku perwakilan koordinator INDOHUN, drh. Teuku Reza Ferasyi, M.Sc., Ph.D selaku Dekan FKH/Koordinator Centrovets-OHCC Universitas Syiah Kuala, dengan pembicara drh. Desianto Budi Utomo, PhD selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak, drh. Tri Satya Putri Naipospos, MPhil, PhD. Selaku Ketua Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan Karantina Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dan Prof. Dr. drh. Darmawi, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UTU sebagai moderator.
Baca juga : One Health Conference Revolusi Sains dan Teknologi Terkini
Pada sambutannya, Agus menyampaikan sebagai asosiasi perguruan tinggi bidang kesehatan di Indonesia, Indonesia One Health University Network (INDOHUN) berkomitmen untuk terus aktif mengatasi masalah kesehatan pada hewan dan manusia, serta meningkatkan kerja sama multisektoral. Teuku Reza juga turut menyampaikan bahwa isu One Health bukan hal yang baru, namun masih perlu terus diterapkan dan dikembangkan untuk meningkatkan keamanan.
Dalam presentasinya Desianto membahas penjaminan keamanan pangan from farm to table harus diikuti dengan penerapan biosekuriti yang baik dan benar.
”Biosekuriti merupakan investasi untuk mencari keuntungan lebih banyak di masa depan. Manfaat biosekuriti pada peternakan dapat berupa peningkatan performa (perbaikan FCR), penurunan kejadian penyakit, dan penurunan angka kematian. Biosekuriuti bisa diterapkan dengan mudah jika paham prinsipnya, seperti biosekuriti 3 zona. Masing-masing zona memiliki prosedur yang berbeda dan setiap karyawan dan orang yang berada di area kandang harus mematuhi peraturan tersebut,” jelasnya.
Desianto juga menyampaikan bahwa dibutuhkan dukungan SDM dan perubahan perilaku serta budaya peternak untuk melancarkan penerapan biosekuriti. Penerapan biosekuriti dapat dimulai dari persiapan kandang, pencucian peralatan kandang, hingga pengendalian lalu lintas kandang yang meliputi lalu-lintas manusia, hewan, peralatan dan kendaraan yang masuk dan keluar peternakan.
Dalam kesempatan yang sama, drh. Tri Satya Putri Naipospos, M.Phil, Ph.D. yang akrab dipanggil Tata juga menyampaikan materinya mengenai strategi penerapan biosekuriti dengan pendekatan One Health di Indonesia. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Tata, di tengah pandemi COVID-19 yang melanda, sebagian besar dunia mulai menyadari pentingnya biosekuriti.
”Biosekuriti merupakan konsep holistik yang memiliki relevansi langsung dengan keberlanjutan pertanian, aspek kesehatan masyarakat dalam arti luas, dan perlindungan lingkungan, termasuk keragaman biodiversitas,” ujar Tata.
Konsep biosekuriti di era modern mengalami pengembangan terus-menerus karena muncul sebagai isu yang paling mendesak yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Untuk memperkuat sistem biosekuriti nasional, maka penerapan biosekuriti tingkat lokasi (peternakan, kompartemen) perlu diperkuat juga dengan penerapan di tingkat wilayah, seperti di pasar hewan, RPH, laboratorium dan sebagainya.
Tata menyampaikan bahwa ancaman biosekuriti adalah muncul dan menyebarnya penyakit infeksi baru (emerging infectious disease), yang disebabkan oleh faktor antropogenik, genetik, ekologi, sosio-ekonomi dan iklim. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan holistik untuk menangani masalah ini. Penerapan biosekuriti dapat dijalankan lebih efektif apabila memanfaatkan keuntungan dari pendekatan One Health yang lebih koheren yang menyinergikan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan.