POULTRYINDONESIA, Surabaya – Tantangan realitas pasar serta derasnya arus modal besar yang masuk ke usaha peternakan ayam petelur menjadi sorotan dalam acara Konsolidasi Peternak Layer Nasional bertema “Hati-hati Beternak Layer” yang digelar Rabu (2/7/2025) di sela rangkaian Indo Livestock 2025 Expo & Forum, Surabaya. Dalam forum ini, para peternak menyuarakan pentingnya kebersamaan dan konsolidasi agar tidak tersingkir di tengah gempuran teknologi dan pemain baru yang bermodal besar.
Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) menilai implementasi regulasi perlindungan usaha peternak ayam petelur di lapangan belum berjalan sebagaimana mestinya. Ia mencontohkan Peraturan Badan Pangan mengenai Harga Acuan Pembelian atau Penjualan (HAP) yang sering tidak terealisasi.
“Dalam beberapa waktu terakhir, harga telur di tingkat peternak selalu di bawah HAP, sementara harga pembelian jagung maupun DOC justru melampaui HAP. Terakhir, harga DOC melonjak jauh di atas acuan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, fokus peternak tidak hanya soal peningkatan produksi. “Kita masih rapuh dalam kesatuan memperjuangkan hak usaha kita. Jadi kehati-hatian bukan berarti beternak layer tidak menguntungkan, tapi kalau ke depan tidak terkelola dengan baik dan kita tidak bersatu, maka tidak mustahil kita semua di sini akan tergerus bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Jenny Soelistiyani, Ketua PPN Lampung menyampaikan bahwa semua yang berkumpul disini merupakan orang-orang yang profesinya benar-benar sebagai peternak. Dimana profesi ini menjadi hal yang turun temurun, dan untuk berkembang membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan bisa lintas generasi. Lalu hari ini, di hall pameran terpampang para pemain besar yang membawa kapital besar dan berbagai teknologi yang canggih.
“Di tambah dengan program MBG saat ini dianggap menjadi peluang besar bagi semua pihak. Dan terbukti, hari ini banyak pendatang baru diusaha peternakan layer dengan modal yang besar dengan owner yang bukan peternak, bahkan ke kandang saja tidak pernah. Itulah realitanya hari ini. Untuk itu, forum ini menjadi refleksi bersama bagi kita. Kita sebagai peternak harus memperjuangkan profesi kita, dan berhadapan dengan para investor yang tidak perlu berjuang dari awal. Cukup menggelontorkan uang, tinggal disetting dan produk yang dikeluarkan sama. Bahkan bisa lebih efisien dan banyak,” ujarnya.
Hal ini turut dibenarkan oleh Musbar Mesdi, selaku Presiden Peternak Layer Nasional (PLN). Dirinya mengambarkan bahwa munculnya kandang-kandang closed house layer baru diberbagai daerah ditriggered oleh adanya program MBG. 
“Sebenarnya fenomena ini juga bisa kita amati. Dimana kita harus melihat harga DOC nya. Kalau harga DOC 14 ribu, maka kandang baru sedang masuk. Dan faktanya memang demikian. Kenapa bisa begitu naik? Karena rekim GPS layer kita itu 30 ribu maksimal. Sedangkan kalau mau memenuhi potensi kebutuhan penerima MBG tersebut, rekim GPS layer kita minimal 40 ribu,” kata Musbar.
Guru Besar, Fakultas Peternakan IPB University, Prof Muladno menceritakan bahwa selama pameran mendapatkan dua poin dari para peternak layer. Pertama adalah sebagian peternak layer mempunyai lahan yang luas. Kedua, terdapat beberapa kekhawtiran peternak terhadap ketimpangan teknologi yang ada. Namun, dirinya melihat adanya teknologi justru bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. Sedangkan efisiensi sendiri bisa terwujud apabila populasi ternaknya besar.
“Selama ini saya 13 tahun mendampingi peternak kecil, dan akhirnya berkesimpulan bahwa usaha peternakan dan sumber pakan harus berdekatan. Untuk itu, kenapa lahan-lahan peternak layer ini tidak di tanamin jagung? Ya kalau satu peternak lahannya sedikit, maka peternak harus berkonsolidasi. Memang susah, namun harus dimulai. Pada intinya usaha layer peternak ini harus berjamaah dan berkonsolidasi, sudah tidak bisa berjalan sendiri,” tambahnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Makmun, selaku Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Ditjen PKH sepakat akan pentingnya konsolidasi di peternakan rakyat. Dirinya menekankan, jangan sampai konsolidasi hanya sebatas wacana, tapi harus dalam bentuk gerakan nyata.
“Padahal pendahulu kita dulu sudah mencontohkan, sebagai negara yang baru muncul dan harus berhadapan dengan negara kapitalis mencetuskan konsep gotong royong. Sedangkan di kita, konsep gotong royong hanya berjalan ketika harga sedang buruk dan protes saja, sedangkan di masalah lain belum terlihat. Misal dengan tantangan susah pasar, belum terlihat konsep gotong royong untuk membuka pasar baru, karena kita lebih bangga apabila keberhasilan itu sendiri. Padahal apabila kita lihat pemain-pemain besar itu tidak ada yang tumbuh sendiri. Itulah persmasalahan kita. Jadi kita harus sadar kepercayaan kita dalam hal bisnis itu masih kecil,” paparnya.
Dirinya menambahkan, dari sisi pemerintah seluruhnya siap memproteksi usaha UMKM. Walaupun tantangannya tidak sedikit, hal itu menjadi resiko dan kewajiban pemerintah untuk hadir di usaha UMKM. “Namun teman-teman juga harus kompak dan terkonsolidasi. Saya kira kolaborasi ini harus kita tingkatkan. Karena proteksi dari pemerintah pun berupa kebijakan-kebijakan. Mungkin untuk saat ini kebijakannya sudah kami terapkan, tinggal bagaimana implementasi dan pengawasan perlu kami evaluasi dan tingkatkan,” ucapnya.
Selain dihadiri oleh para peternak layer dari berbagai daerah, konsolidasi ini turut dihadiri oleh Kasan selaku Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Peternakan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI serta Harry Suhada selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH.
Acara konsolidasi ini menjadi pengingat keras bagi para peternak layer nasional bahwa persaingan industri kini bukan hanya soal skala produksi, tetapi juga kekuatan organisasi dan kemauan untuk bersatu. Tanpa kolaborasi yang nyata, posisi peternak kecil akan semakin terjepit.