Bisnis perunggasan mempunyai potensi yang besar
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Tidak seperti virus, bakteri, dan protozoa yang bersifat renik. Lalat merupakan sumber penyakit yang terlihat secara kasat mata. Celakanya, lalat ini juga membawa agen patogen tersebut bersamanya, sehingga menjadi sebuah ‘double trouble’ bagi peternak maupun masyarakat yang tinggal di sekitarnya.  Pengendalian dari lalat ini dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Pengendalian secara internal yaitu dengan pengaturan diet pakan yang harus disesuaikan dengan kebutuhan ayam. Jika ayam mengonsumsi pakan dengan kadar protein berlebih, maka amonia yang dihasilkan dalam kotoran akan tinggi.  Dampaknya dapat mengundang lebih banyak lagi lalat untuk datang. Diet pakan yang sesuai juga membantu peternak untuk mengatur biaya produksi agar lebih efisien.
Pengendalian eksternal dilakukan dengan manajemen lingkungan yang baik. Upik mengatakan bahwa kunci dari pengendalian lalat yaitu dengan menerapkan kebersihan kandang yang baik dan benar. Penerapan itu dapat dilakukan dengan membuat lingkungan tersebut tidak nyaman untuk ditinggali oleh lalat. Contohnya membuang secara berkala tumpukan kotoran, menyingkirkan sekam yang basah atau bekas alas kandang yang menumpuk, membersihkan secara teratur pakan maupun minum yang tercecer, dan memperbaiki tempat-tempat yang bocor.
Jika upaya pengendalian lalat sudah dilakukan, namun populasi lalat masih saja tinggi dan sangat mengganggu peternakan, maka langkah selanjutnya yang dapat dilakukan yaitu pengendalian menggunakan insektisida. Sesuai dengan judulnya, insektisida ini merupakan pembasmi serangga. Insektisida yang digunakan untuk lalat ada yang ditujukan untuk membunuh lalat dewasa (adulticidal) dan membunuh larva (larvasidal).
Penggunaan insektisida tersebut dapat dilakukan dengan penyemprotan atau spray yang dipakai untuk lalat dewasa dan larva serta ada juga insektisida bersifat larvasidal yang dicampurkan pada pakan. Sediaan yang biasanya dipakai untuk membunuh lalat dewasa di antaranya golongan pyrethroid sintetik seperti permethrin atau golongan organophosphorus. Sediaan insektisida yang dicampurkan pada pakan ayam yaitu Cyromazine. Aplikasi Cyromazine pada pakan ayam petelur diharapkan sediaan ini yang cenderung cepat di metabolisme dan keluar bersama kotoran, maka kotoran yang mengandung Cyromazine tersebut tidak dapat m
enjadi media perkembangan dari lalat. Walaupun diberikan lewat pakan, Cyromazine ini tidak memiliki efek samping pada ayam tersebut.
Baca Juga: Keuntungan Dari Cemaran yang Hilang Saat Proses Sanitasi
Sama halnya dengan kata ’Lagom’ yang melekat pada pribadi tiap penduduk asli Swedia dan memiliki arti ’tidak sedikit, tidak berlebihan, tetapi pas’, Upik memperingatkan bahwa pemakaian insektisida ini hanya pada saat sangat diperlukan saja, jangan terjadwal, dan harus sesuai dengan label yang tertera pada insektisida tersebut. Label ini berisi kandungan insektisida serta dosis yang dibutuhkan. ”Jangan dilakukan terus menerus, kalau 1-2 kali kan murah dan jangan tejadwal. Kalau pemakaiannya tejadwal itu walaupun lalatnya tidak ada, juga akan disemprot. Hal tersebut akan menimbulkan efek yang tidak baik, seperti resistensi dan cemaran lingkungan,” jelasnya.
Resistensi lalat terhadap insektisida ini berlangsung cukup lama, membutuhkan proses bertahun-tahun hingga lalat tersebut menjadi resisten terhadap insektisida tersebut. Serangga juga memiliki gen resisten yang dapat diturunkan, namun resistesi serangga terhadap insektisida ini bersifat sementara dan hanya bersifat lokal. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dari daerah jelajahnya dan waktu hidup yang pendek.
Pencegahan resistensi ini dapat dilakukan dengan melakukan pengecekan terhadap adanya resistensi terhadap insektisida tertentu dan diadakan adanya rotasi penggunaan dari insektisida yang digunakan. Tambahan lainnya yaitu dilakukannya survaillence atau pengamatan yaitu dengan menandai waktu-waktu tertentu di mana jumlah lalat meningkat dalam peternakan agar pengendalian lalat dapat dilakukan dengan optimal.
Belajar dari vektor pembawa penyakit, salah satunya lalat, maka kesadaran tentang hal mendasar yaitu penerapan higiene dan sanitasi sebagai bagian dari biosekuriti dalam peternakan. Biosekuriti harus menjadi sebuah kesadaran bagi tiap pribadi insan perunggasan maupun masyarakat umum sebagai barier penyakit beserta dengan pembawanya. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi September 2020 dengan judul “Pengendalian Lalat di Peternakan Ayam”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153