Penyakit Newcastle Disease (ND) sudah ditemukan sejak tahun 1926 ketika pertama sekali diidentifikasi di Indonesia, Inggris dan juga Korea. Penyakit ini masuk dalam kategori penyakit yang memberikan dampak kerugian ekonomi terbesar pada dunia perunggasan terutama broiler dan juga layer. Penyakit ND disebabkan oleh virus Newcastle (NDV) yang masuk dalam family Paramyxoviridae, subfamily Avulavirinae, genus Orthoavulavirus. Berdasarkan virulensinya, menurut the World Animal Health Organization (OIE). Virus ND dibagi menjadi virulent (vNDV) jika memiliki nilai intracerebral pathogenicity index nya ≥ 0,7 (2.0 highest ICPI) dan dikategorikan sebagai low virulence (loNDV) jika kode genetik protein F virus tersebut mengandung multiple asam amino dasar dan phenylalanine di posisi 117 dan biasanya digunakan sebagai virus vaksin.
Di negara dengan tantangan ND tinggi, tingkat mortalitas dan morbiditas mencapai 100 %. Gejala klinis berupa lesu, sesak nafas, diare, dan kadang-kadang menunjukkan gejala syaraf seperti torticollis (leher melintir) dan ataxia (masalah kordinasi alat gerak). Saat dilakukan bedah bangkai, akan ditemukan perdarahan berat pada beberapa organ seperti proventiculus, cecal tonsils, duodenum dan otak. Indonesia masuk ke kategori negara dengan tantangan ND tinggi. Hal ini terbukti dari hasil temuan tim Veterinary Services Ceva Animal Health Indonesia di tahun 2021.
Di negara dengan tantangan ND rendah, sering sekali ditemukan transmisi ND strain lentogenic yang tidak terkendali terutama di area peternakan dengan kepadatan tinggi. Akibatnya sering sekali ditemukan gejala pernafasan karena adanya peradangan pada trachea dan dapat diperparah dengan beberapa kondisi di farm seperti kepadatan, level amonia, sekam basah, dan ventilasi yang kurang baik. Sebagai akibatnya, uniformity akan rendah dan akan muncul infeksi sekunder seperti E. coli yang memperparah kondisi ayam. Hal tersebut akan berujung dengan meningkatnya penggunaan antibiotik dan penurunan kualitas daging saat panen.
Kenapa masih ditemukan kasus ND ?
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini sudah semakin berkembang konsep biosekuriti, peraturan perdagangan internasional dan nasional, laboratorium yang mendukung teknik diagnostik dan monitoring hingga implementasi program vaksinasi, namun penyakit ND masih menjadi salah satu penyakit unggas yang memberikan dampak kerugian ekonomi tertinggi.
Beberapa negara seperti negara bagian Eropa Barat, USA, dan Brasil, telah berhasil menurunkan kasus ND dan bahkan sudah tidak ditemukan lagi penyakit ND. Sehingga saat ini di negara tersebut berstatus sebagai penyakit dengan tingkat resiko Epizootik. Program vaksinasi dilakukan, jika ditemukan gejala klinis ringan yang disebut dengan “low challenge areas”.
Berbeda dengan negara Amerika Latin, Eropa Timur, Middle East dan Asia yang masih berstatus Enzootik dengan ditemukannya kejadian kasus ND yang cukup tinggi tanpa bisa dihindari. Di negara tersebut, program vaksinasi masih menjadi kunci keberhasilan untuk melindungi unggas dari gejala klinis dan dampak kerugian ekonomi yang disebut dengan “high challenge areas”
Burung liar, peternakan rakyat, operasional peternakan skala kecil dan pasar ayam hidup tradisional menjadi salah satu faktor penyebaran virus ND dan hal ini jugalah yang menjelaskan kenapa sampai sekarang virus ND masih terjadi di beberapa belahan dunia termasuk di Indonesia.
Seperti apa program vaksinasi yang baik dan seperti apa program vaksinasi saat ini ?
Di negara endemik penyakit ND, DOC memiliki maternal antibodi (MAB) yang tinggi yang memengaruhi kerja dari vaksin ND “live” ataupun vaksin ND “killed” yang diaplikasikan di hatchery. Sampai di titik terjadinya netralisasi vaksin oleh MAB, maka akan mencegah kerja dari vaksin yang diberikan di hatchery.
Vaksinasi di farm memiliki banyak kelemahan dan tidak bisa diandalkan. Ada beberapa faktor seperti, kurangnya pengetahuan pekerja di farm, terlalu banyak waktu untuk persiapan dan aplikasi vaksin, kualitas air untuk vaksinasi air minum yang disebabkan adanya residu desinfektan di air.
Vaksin live yang menjadi tulang punggung vaksinasi ND di broiler menyebabkan reaksi post vaksinal di saluran pernafasan bagian atas yang juga menjadi penyebab menurunnya kecepatan pertumbuhan dan ayam menjadi rentan terhadap resiko mikroba patogen lainnya seperti E. coli.
Ketiga faktor tersebut menjadi kelemahan program vaksinasi sehingga tidak heran jika di negara dengan “high challenge areas” masih banyak ditemukan farm yang terlihat gejala klinis ND yang sering dilaporkan. Meskipun sudah melakukan program vaksinasi ND yang sudah baik di hatchery ataupun di farm.
Namun demikian, vaksinasi ND menjadi salah satu cara terbaik untuk pencegahan penyakit ND di negara Indonesia, namun tingkat kesuksesannya masih jauh dari program eradikasi penyakit.
Kenapa Vectormune ND® ?
Masuknya teknologi baru yaitu vektor vaksin di Indonesia menjadi sebuah harapan untuk menurunkan kasus ND di Indonesia. Namun di sisi lain ada banyak pertanyaan, keragu-raguan. Oleh sebab itu, kami telah melakukan banyak sekali riset, trial dan monitoring dengan berbagai peneiliti independen dan perusahaan integrasi di Indonesia untuk mengetahui dan memahami potensi dari produk ini.
Onset of immunity
Respon kekebalan yang dihasilkan oleh Vectormune ND® (IgG, IgM, dan IgA) dapat dideteksi di ayam “spesific patogen free” diumur 9-12 hari setelah divaksinasi (Rauw et al, 2012). Respon imun terhadap vaksin Vectormune ND® tidak hanya bersifat humoral, tetapi juga menghasilkan kekebalan lokal atau “cellular immunity”. Respon kekebalan terhadap Vectormune ND® dapat di deteksi menggunakan “Haemagglutination inhibition” (HI) test ataupun dengan test ND “F” Elisa.
Duration of Immunity
Kesinambungan kekebalan yang dihasilkan oleh Vectormune ND® sangat mengesankan. Dengan menggunakan satu injeksi Vectormune ND® di hatchery, ayam layer dapat terproteksi penuh terhadap gejala klinis, mortalitas dan drop produksi sampai dengan umur 72 hari (Palya et al, 2012). Keunggulan ini tidak dapat dimiliki oleh jenis vaksin lain yang ada saat ini, yang mana program vaksinasi ayam layer saat ini membutuhkan 2-4 kali vaksin killed dan 5-8 kali vaksin live yang dibutuhkan dalam satu siklus layer untuk menghasilkan proteksi yang diharapkan.
Vectormune ND® terbukti memberikan proteksi dengan spektrum luas.
Sudah banyak studi yang dilakukan untuk mendemostrasikan proteksi Vectormune ND® yang di uji tantang dengan variasi strain virus ND dosis tinggi, termasuk uji tantang dengan keragaman genotypes. Termasuk genotype VII yang ditemukan di beberapa daerah Indonesia. Hasilnya, sebanyak 30 studi dengan menggunakan uji tantang isolat genotype VII (83 challenges) dapat menghasilkan perlindungan sebesar 95-100% terhadap ayam broiler dan ayam layer (Paniago et al, 2016).
Perbaikan performa produksi peternakan broiler
Berikut adalah data terbaru di Indonesia yang dikumpulkan oleh tim Ceva Animal Health Indonesia, yang membandingkan performa farm yang sebelumnya menggunakan vaksin ND killed diganti menjadi Vectormune ND®.
Dengan menggunakan aplikasi CevaFIT, kami dapat menghitung return of investment (ROI) farm yang sebelumnya menggunakan ND killed, periode selanjutnya menggunakan Vectormune ND® .

Sebanyak 1.584.782 ekor ayam broiler yang dimonitor, terbagi menjadi 2 grup. Grup pertama menggunakan vaksin ND killed dan grup kedua menggunakan Vectormune ND® di farm yang sama dilakukan di farm closed house dengan kondisi manajemen kandang dan pakan yang sama. Hanya dilakukan perubahan vaksinasi dan perbaikan manajement kandang.
Jika membandingkan dari data tersebut, maka diperoleh data bahwa setiap 1000 ekor ayam dengan menggunakan vaksin Vectormune ND® dibandingkan dengan ND killed, mampu memberikan selisih keuntungan sebanyak Rp. 1.217.020 / 1000 ekor ayam. Jika angka tersebut dikalikan dengan jumlah populasi ayam broiler sebelumnya yang menggunakan vaksin ND killed, seharusnya bisa didapatkan keuntungan sebanyak Rp. 963.879.840 jika menggunakan Vectormune ND® .
Selama beberapa tahun, pelanggan Ceva Animal Health Indonesia yang menggunakan Vectormune ND® telah mendapatkan hasil yang positif, sekaligus membuktikan “superiority” dari vektor vaksin Ceva. Hasil tersebut tentunya sangat diperngaruhi oleh banyak faktor dan perbaikan disemua fase.
Dengan memberikan perlindungan maksimal tanpa efek samping, kombinasi Vectormune ND® dengan aplikasi vaksin yang terkontrol memberikan solusi lengkap untuk mengendalikan penyakit ND di farm, memberikan profit serta kenyamanan di industri perunggasan. Dengan kombinasi kontrol aplikasi vaksin di hatchery melalui “Ceva Hatchery immunisation Control Keys” (C.H.I.C.K) program yang bertujuan untuk mengawasi aplikasi vaksin yang sesuai standar di hatchery dan monitoring di farm melalui “Global Protection Service” (GPS) oleh dokter hewan terampil dengan mengawasi “vaccine take” dan respon serologi kekebalan terhadap ND.
Vectormune ND® mampu untuk menekan shedding virus ND lapangan
Dari data yang dikumpulkan oleh tim Ceva Animal Health Indonesia di kantong-kantong peternakan broiler dan layer di Indonesia, tahun 2018 sampai dengan tahun 2021, penyakit ND selalu menduduki peringkat utama penyakit yang paling sering menyerang broiler dan layer. Setelah diperkenalkan teknologi terbaru vaksinasi ND yaitu Vectormune ND®, penyakit ND turun ke peringkat 4 yaitu sekitar 10,5 % dari total penyakit unggas yang ditemukan di sepanjang tahun 2021. Penurunan penyakit ND tersebut sangat erat kaitannya dengan penggunaan vaksin Vectormune ND® di farm broiler dan layer yang memiliki tantangan penyakit ND tinggi di populasi padat. Vectormune ND® mampu untuk menekan “shedding” virus ND lapangan dan kemampuan ini tidak dimiliki oleh vaksin ND konvensional.

Untuk mengetahui kemampuan Vectormune® ND mengurangi transmisi virus ND dilakukan pada ayam broiler dengan kekebalan asal induk ND yang tinggi yaitu titer HI 5,5 log2. Perlakukan dibagi menjadi dua grup berbeda:
– Grup 1 : divaksin Vectormune® ND (rute SQ) (Seeder group 20 ekor dan 20 ekor sebagai contact group)
– Grup 2 : Tidak divaksin (Seeder group 20 ekor dan 20 ekor sebagai contact group)
Tantangan dilakukan pada usia 42 hari dengan isolat virus ND Genotipe VII. Seeder group ditantang dengan dosis 5,0 logELD50 / ekor melalui rute intranasal. Contact grup dimasukkan ke dalam kandang yang sama pada seeder group setelah 8 jam post infeksi. Observasi dilakukan sampai 14 hari.

Tidak ada gejala klinis atau kematian yang disebabkan oleh infeksi NDV velogenik pada grup yang divaksinasi Vectormune ND® selama periode observasi. Sebaliknya, semua ayam yang tidak divaksinasi pada tantangan tersebut menunjukkan perubahan klinis. Tanda klinis pada seeder group yang tidak divaksin muncul pada 4-6 hari setelah ditantang dan mortalitas diikuti antara 6-9 hari. Tanda klinis pada contact group terlihat antara 6-9 diikuti oleh kematian antara 8-13 hari setelah ditantang. Secara keseluruhan tiga ekor ayam menunjukkan gejala tortikolis
Oro-nasal dan kloaka swab dilakukan setiap hari selama 14 hari pasca-tantangan dan jumlah virus ND Velogenic dihitung dengan RT-qPCR. Kelompok seeder group yang divaksinasi vectormune ND melepaskan lebih sedikit virus secara signifikan dibandingkan kelompok yang tidak divaksinasi baik secara oro-nasal dan melalui kloaka. Pada contact group, efek pengurangan transmisi virus secara signifikan dari ayam yang divaksinasi Vectormune ND® dibandingkan dengan ayam yang tidak divaksinasi.
Vaksin Vectormune ND® mampu secara nyata mengurangi transmisi atau penyebaran infeksi ND Velogenic Genotype VII. Vaksin ini cocok untuk digunakan pada program vaksinasi untuk menghilangkan ND dari populasi ayam dan mencegah kejadian outbreak. Selain itu, keuntungan penggunaan Vectormune ND® antara lain memberikan perlindungan lebih cepat dibandingkan ND inaktif dikarenakan tidak adanya interferensi kekebalan asal induk dan perlindungan bersifat sangat jangka panjang. Adv