POULTRY INDONESIA, Jakarta – Ayam sehat memiliki kemampuan untuk mengkonversi pakan menjadi daging secara optimal. Sedang ayam dengan infeksi bakteri yang resisten akan mengalami konversi yang tidak optimal. Hal ini seperti disampaikan oleh drh.Rama Prima Syahti Fauzi, MSi, Koordinator Pengendalian Penyakit, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Kemenko PMK), dalam studium generale yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan( FKH) IPB University yang bekerjasama dengan AFKHI dan FAO yang berlangsung secara online via Zoom dan Youtube pada, Sabtu (12/3).
Baca juga : Menghindari Resistensi Antibiotik dengan Menjaga Kesehatan Saluran Cerna
Menurutnya ayam dengan infeksi bakteri yang resisten akan mempengaruhi Feed Convertion Rate ( FCR) dengan rentang selisih antara 0,12 – 0,40,” Yang berarti untuk memproduksi daging sebanyak satu kilogram, memerlukan pakan lebih banyak 0,12 -0,40,” tegasnya.
Rama menjelaskan terjadinya resistensi antimikroba pada rantai produksi pangan akan menyebabkan terjadinya inefisiensi produksi, sedang disisi lain ketahanan pangan perlu terus ditingkatkan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Oleh karena itu, menurutnya perlu strategi untuk pengendalian resistensi antibiotik seperti : Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pengendalian resistensi antimikroba melalui komunikasi,pendidikan dan pelatihan. Meningkatkan pengetahuan dan bukti ilmiah melalui surveilans dan bukti penelitian. Mengurangi kejadian infeksi melalui tindakan sanitasi,hygiene,serta pencegahan dan pengendalian infeksi.
lebih lanjut menurutnya adalah optimalisasi dan pengawasan serta penerapan sanksi tindak lanjut terhadap pelanggaran peredaran dan penggunaan antimikroba yang tidak sesuai standar, pada manusia, hewan, ikan dan tanaman. Meningkatkan investasi untuk menemukan tata cara pengobatan, metode diagnostik, dan vaksin baru dalam upaya mengurangi berkembangnya masalah resistensi antimikroba.
” Membangun tata kelola dan koordinasi terpadu dalam rangka pengendalian resistensi antimikroba,” pungkasnya.