POULTRYINDONESIA, Blitar – Di tengah dinamika industri perunggasan nasional yang terus bergerak cepat, peternak rakyat masih dihadapkan pada berbagai tantangan klasik. Keterbatasan akses terhadap sarana produksi peternakan (sapronak), fluktuasi harga jual yang sulit diprediksi, hingga lemahnya posisi tawar di pasar menjadi persoalan yang kerap menekan keberlanjutan usaha di lapangan. Kondisi ini menegaskan pentingnya kehadiran sebuah lembaga kolektif yang mampu menaungi, melindungi, sekaligus memperjuangkan kepentingan peternak secara bersama-sama.
Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Eti Marlina, selaku Ketua Koperasi Bina Peternak Karya Bersama (BPKB). Ia menjelaskan bahwa koperasi BPKB didirikan sebagai upaya menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi peternak rakyat, melalui pendekatan kelembagaan yang terstruktur dan berlandaskan semangat gotong royong. Koperasi ini hadir untuk memperkuat ekonomi peternak sekaligus mendorong terciptanya sistem usaha peternakan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
“Koperasi BPKB merupakan koperasi yang bergerak di bidang peternakan, khususnya sebagai wadah penguatan ekonomi peternak melalui prinsip kebersamaan, profesionalisme, dan keberlanjutan. Koperasi ini dibentuk sebagai sarana peningkatan kesejahteraan anggota dengan mengedepankan tata kelola yang amanah dan transparan. Koperasi BPKB berperan sebagai penghubung antara peternak dengan akses sarana produksi, informasi, serta kemitraan dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Kami berkomitmen untuk menjadi lembaga ekonomi yang kuat, mandiri, dan berdaya saing,” jelas Eti saat berbincang dengan Poultry Indonesia, Jumat (16/1).
Dalam praktiknya, koperasi BPKB menjalankan berbagai kegiatan usaha yang berorientasi langsung pada kebutuhan dan kepentingan anggota. Bidang usaha utama koperasi meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi peternakan, seperti pakan. Selain itu, koperasi juga berperan dalam koordinasi produksi dan pemasaran hasil peternakan, pendampingan manajemen usaha anggota, serta penyediaan informasi dan komunikasi terkait kebijakan maupun program pemerintah di sektor peternakan.
Eti menambahkan, koperasi BPKB berdiri pada 22 Desember dengan jumlah awal 9 anggota. Seiring waktu, kepercayaan peternak terus tumbuh dan saat ini jumlah anggota telah mencapai 51 orang. Namun demikian, koperasi menerapkan seleksi yang cukup ketat dalam menerima anggota baru.
“Kami cukup selektif dalam memfilter anggota, benar-benar yang ingin maju dan berkembang bersama. Koperasi ini juga merupakan binaan provinsi, sehingga anggota kami tersebar di Blitar, Kediri, dan Tulungagung. Ke depan, kami berharap koperasi ini bisa terus berkembang dan semakin mampu mengakomodasi kepentingan anggota,” ujarnya.

Saat ini, koperasi BPKB dikelola dengan prinsip amanah dan transparan, sehingga setiap kegiatan dan keputusan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota. Pengurus koperasi berkomitmen menjalankan visi dan misi demi kepentingan bersama. Selain itu, BPKB juga telah menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait, yang menjadi nilai tambah dalam mendukung keberlanjutan program dan pengembangan usaha peternakan anggota.
“Tantangan ke depan tentu tidak lebih mudah. Namun kami percaya, dengan bersatu serta menerapkan tata kelola yang baik dan terbuka, koperasi ini bisa tetap bertahan dan berkembang. Dengan catatan, pemerintah juga terus memberikan perlindungan dan kebijakan yang berpihak pada peternak kecil dan mikro seperti kami,” tutup Eti. PI
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.