Ayam yang dipelihara dengan sistem umbar (sumber gambar: https://www.indiamart.com/)
Oleh : Muhammad Sandi Dwiyanto, S.Pt*
Pertama, pakan dapat dikatakan mempunyai kualitas yang baik apabila secara kandungan gizi mampu memenuhi kebutuhan ternak. Rekomendasi kebutuhan pada ayam petelur didasarkan atas kebutuhan harian, sehingga ketika ayam berproduksi, maka kandungan gizi ransum akan berbeda pula setiap harinya. Dalam praktiknya di lapangan, membuat formulasi pakan setiap hari merupakan hal yang tidak efisien, maka dari itu kandungan gizi dalam pakan dibagi menjadi beberapa kategori tergantung dari fase pemeliharaan ayam tersebut. Kebutuhan gizi yang menjadi pertimbangan pertama yang harus terpenuhi adalah kebutuhan energi metabolis. Kebutuhan energi ditentukan berdasarkan berat badan ayam dan produksi telur yang dihitung dari massa telur. Setelah itu juga harus dikoreksi dengan perbedaan suhu dimana ayam tersebut dipelihara.
“Ayam petelur yang dipelihara di daerah yang bersuhu dingin akan membutuhkan energi yang lebih banyak dibandingkan dengan ayam yang dipelihara di tempat yang bersuhu lebih panas,” terang Fajar.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa pakan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan ayam. Ketika pakan tidak memenuhi standar gizi yang dibutuhkan, maka akan mengakibatkan produksi yang tidak maksimal, sedangkan ketika pakan kelebihan gizi dari yang dibutuhkan oleh ayam itu sendiri justru akan berakibat buruk bagi ayam. Contoh kasus, pakan tinggi energi akan mengakibatkan panas dalam tubuh makin tinggi juga, sehingga ayam akan mudah terkena heat stress. Kemudian, ketika pakan terlalu tinggi protein maka akan mengakibatkan kadar amonia dalam feses tinggi, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi telur.
Baca Juga: Meningkatkan Efisien Layer Melalui Formulasi Pakan
Kedua, kualitas pakan yang baik harus didukung dengan program pemberian pakan yang tepat. Program pemberian pakan fase produksi dapat dimulai saat ayam berumur 18 minggu atau ketika fase ayam mulai bertelur. Fase ini merupakan fase transisi di mana akan dilakukan perubahan ransum dari pakan grower menuju pakan produksi. Sejatinya perubahan ransum berpatokan pada pencapaian target bobot badan ayam, bukan berdasarkan umur ayam. Oleh karena itu, penentuan waktu pergantian jenis ransum sebaiknya didasari dari data monitoring bobot badan. “Biasanya sekitar 18 minggu, ayam mulai diberi pakan fase produksi. Namun apabila bobot badan belum mencukupi, peternak harus memperpanjang pemberian pakan fase grower,” jelas Fajar. 
Fajar menyarankan sebaiknya peternak melakukan pergantian ransum secara bertahap dan menghindari pergantian ransum dalam waktu singkat. Hal ini untuk mencegah terjadinya penurunan konsumsi pakan pada ayam. Selain itu, frekuensi pemberiannya pun akan berbeda pada setiap fasenya. Untuk ayam fase produksi, pakan diberikan sebanyak 2 kali sehari dengan waktu atau jam yang konsisten atau tetap. Pemberian pakan pada waktu yang tetap bertujuan untuk menghindari ayam stres ketika ransum telat diberikan.
Ketiga, manajemen program pemeliharaan lain seperti keseragaman bobot badan, pencahayaan dan pemberian air juga sangat berpengaruh terhadap manajemen pakan pada ayam petelur produksi. Keseragaman pada ayam petelur fase produksi diusahakan di atas 80 persen. Bobot badan ayam saat awal fase produksi di angka 1.500 gram dan pada puncak produksi 1.800 gram. Ayam yang bobot badannya tidak memenuhi standar pada awal fase produksi, maka akan membuat cadangan energinya habis. Hal ini akan berpengaruh pada produksi telurnya.
Kemudian, program pencahayaan juga sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan pada ayam. Jumlah pakan yang dikonsumsi ayam tergantung dari panjang pencahayaan. Perubahan panjang pencahayaan dalam satu jam akan mengubah konsumsi pakan kira-kira 1,5 sampai 2 gram karena durasi sinar matahari berkisar antara 11 sampai 13 jam. Untuk itu, pengaturan pencahayaan yang baik, terutama di malam hari, sangat berguna untuk merangsang aktivitas makan. Terakhir pemberian air minum yang berkualitas baik pada ayam harus secara adlibitum. Konsumsi air minum berbanding lurus dengan konsumsi pakan, apabila air minum tidak tercukupi, maka konsumsi pakan juga akan rendah. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2020 dengan judul “Manajemen Pakan Ayam Petelur Fase Produksi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153