POULTRYINDONESIA, Jakarta – Metode autentikasi halal sangatlah penting dalam memastikan barang konsumsi Indonesia, seperti makanan, minuman, kosmetik, dan pakaian memenuhi standar halal. Hal ini diharapkan dapat mendorong perkembangan industri halal yang maju dan berkelanjutan di Indonesia dan di tingkat internasional. Dalam mengembangkan ekosistem halal ini, Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Shimadzu Asia Pacific mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi Halal Asia yang pertama secara hybrid, yakni secara luring di Auditorium Algoritma, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya dan daring melalui aplikasi Zoom Meeting, Selasa (23/5).
Pada sambutannya, Dave Chua, selaku Senior General Manager Shimadzu Asia Pacific, mengatakan bahwa dalam KTT ini akan dibahas bagaimana kita dapat mengembangkan ekosistem halal yang melibatkan seluruh pihak, serta sosialisasi metode autentikasi halal, kecerdasan buatan, dan teknologi digital yang ada untuk mendukung ekosistem halal.
“Dalam beberapa tahun terakhir, penentuan kehalalan atau autentikasi kehalalan telah berkembang dengan pendekatan saintifik. Transformasi ini melibatkan teknik dan metode saintifik untuk menentukan standar halal barang konsumsi yang sesuai dengan hukum Islam. Uji kehalalan ini meliputi 3 aspek, yakni halalan (halal), thayyiban (baik), dan etika. Halalan dan thayyiban ini lebih dari sekadar keamanan pangan, akan tetapi juga ketahanan pangan dan kami menawarkan solusi menyeluruh untuk keamanan pangan,” jelasnya.
Turut hadir untuk memberikan sambutan, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., PhD.Med.Sc, selaku Rektor Universitas Brawijaya, yang menyampaikan bahwa Universitas Brawijaya memiliki sejarah panjang dalam penelitian halal. Menurutnya, kehalalan di Indonesia telah berkembang dan beradaptasi dengan regulasi yang ada.
“Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, kami memiliki kepedulian dalam mengembangkan ekosistem halal, terutama dari segi pengembangan deteksi atau autentikasinya. Kami juga telah menaruh banyak dana untuk membangun fasilitas untuk para peneliti kami. Saya harap acara ini dapat menjadi tempat berbagi mengenai kehalalan dan ekosistem halal,” ujarnya.
Pada sesi pleno pertama, Dr. Subandriyah, MM, mewakili Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag), memaparkan materinya mengenai sistem regulasi halal untuk memperkuat ekosistem halal di Indonesia, salah satunya melalui otomasi proses sertifikasi halal menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Baca Juga: CPI Menyiapkan Berbagai Strategi untuk Menghadapi 2023
“Tujuan penerapan Al pada proses Sertifikasi Halal adalah untuk membuat perangkat lunak yang dapat membantu manusia dalam rutinitas sehari-hari untuk melakukan verifikasi dan validasi secara otomatis. Manfaat penerapan Al pada proses Sertifikasi Halal adalah Al tidak memihak dan proses verifikasi dan validasi yang dilakukan adalah benar, serta Al dapat  digunakan berulang kali dan bekerja terus menerus tanpa mengenal lelah,” jelasnya.
Pada sesi pleno kedua, Jackie, Ph.D., selaku Asisten Product Manager, dan Max Kosok, Ph.D., selaku Senior Product Specialist dari Shimadzu Asia Pacific juga turut memaparkan presentasinya mengenai solusi yang ditawarkan dari Shimadzu untuk keamanan dan ketahanan pangan, serta peralatan yang dapat digunakan untuk uji kehalalan guna mempermudah dan mempercepat proses autentikasi kehalalan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pleno ketiga dengan pembicara pertama Dr. Ir. Joni Kusnadi, M.Si, selaku Ketua LPH (Lembaga Pemeriksa Halal) Universitas Brawijaya, yang membahas mengani metode autentikasi halal berdasarkan asam nukleatnya. Menurutnya, autentikasi sangat penting untuk mendukung proses sertifikasi halal, akan tetapi atentikasi halal juga membutuhkan proses pemeriksaan dan pengujian laboratorium.
“Ada banyak metode uji laboratorium untuk otentikasi halal, salah satu yang akurat, terstandar, dan banyak digunakan adalah uji berbasis asam nukleat. PCR real-time adalah metode tradisional yang paling sering direkomendasikan dan digunakan untuk autentikasi halal. Namun, penelitian dan pengembangan metode alternatif sederhana tentu diperlukan untuk autentikasi halal yang lebih mudah, cepat, dan akurat di masa mendatang,” terangnya.
Ass. Prof. Dr. Rodziah Atan, selaku Kepala Laboratorium Halal Policy and Management University Putra Malaysia, menambahkan pendapatnya dari segi tantangan dan peluang digitalisasi dan Big Data dalam ekosistem halal. Pertama, aliran informasi yang tidak koheren dapat meningkatkan biaya, waktu, dan risiko. Kedua, kurangnya transparansi berisiko akan penipuan, tindakan non-etis, dan kerugian. Ketiga, data yang tidak memadai dan tidak dapat dipercaya kurangnya visibilitas untuk analisis dan menimbulkan kesulitan dalam meningkatkan efisiensi.
“Solusi dari ketiga tantangan tersebut dapat berupa digitalisasi dan analisis dokumen untuk menyediakan data yang dapat dipercaya serta alur informasi bisnis yang mulus, sehingga menghemat biaya, waktu, dan mengurangi resiko. Kedua, pemanfaatan teknologi blockchain yang memungkinkan berbagi informasi secara transparan dalam jaringan bisnis juga dapat meningkatkan transparansi dan kepercayaan. Ketiga, ketertelusuran atau traceability yang juga dapat memprediksi dan mengidentifikasi masalah, sehingga dapat mengantisipasi risiko yang ada,” jelasnya.
Pembicara ketiga, Prof. Wayan Firdaus Mahmudy, S.Si., M.T., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, memaparkan materinya mengenai peluang AI untuk autentikasi kehalalan. Ia mengatakan bahwa teknologi AI dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan bahan baku secara lebih efisien dan memungkinkan identifikasi konten serta kualitasnya secara akurat.
“Penerapan computer vision memiliki beberapa keunggulan dari segi waktu dan biaya. Al dapat mendeteksi kontaminasi pada produk dengan tingkat ketepatan yang lebih tinggi. Selain itu, Al juga bisa berkontribusi dalam memantau pasar dan merekomendasikan restoran yang halal. Dalam hal verifikasi sertifikasi halal, AI juga dapat memafisilitasinya dengan mempercepat dan mempermudah proses validasi bagi produk dan produsen yang telah mendapatkan sertifikasi halal,” pungkasnya.