Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Penggunaan kandang closed house menjadi sebuah standar baru dalam kegiatan budi daya baik untuk ayam pedaging maupun ayam petelur. Penggunaan kandang closed house untuk kegiatan budi daya telah terbukti memberikan banyak manfaat bagi kelangsungan usaha para peterenak. Hal tersebut dikarenakan secara genetik ayam modern saat ini sangat rentan terhadap tingkat stres sehingga dengan menggunakan kandang tertutup para peternak dimudahkan untuk mengatur berbagai faktor penyebab stres.
Tipe kandang closed house yang umumnya digunakan di Indonesia adalah tipe dengan tunnel system di mana sirkulasi udara ditarik oleh exhaust fan dari inlet yang berada di sisi depan kandang.
Dalam mengatasi itu semua, penggunaan kandang closed house yang sifatnya tertutup mampu mengisolasi keadaan lingkungan dalam kandang sehingga tidak terpengaruh dengan suhu di luar kandang. Selain itu, dengan penggunaan closed house gangguan lain seperti kontaminasi penyakit dari hewan yang hidup di luar kandang dapat diminimalkan.
Salah satu kunci untuk mencapai performa unggas yang maksimal adalah dengan melihat seberapa bagus kualitas kadar oksigen yang ada di dalam kandang tersebut. Oksigen merupakan unsur terpenting yang harus dipenuhi dalam proses budi daya. Ketika kebutuhan akan oksigen terpenuhi, maka organ-organ lainnya akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sebelum ternak melakukan berbagai aktivitas seperti bergerak, makan, minum, dan lainnya, harus ada rangsangan dari otak sebagai pusat koordinasi dari organ lainnya yang ada di tubuh ayam. Oksigen dibutuhkan oleh otak untuk dapat bekerja dengan baik, sehingga ketika suplai oksigen ke otak ayam sudah terpenuhi, maka otak akan memerintahkan organ lainnya untuk dapat bergerak melakukan berbagai aktivitas seperti makan, minum, tidur, dan lain sebagainya.
Oksigen yang ada di dalam kandang juga harus dipastikan berada di tingkat di mana ayam itu hidup, yaitu pada sekitar 20-30 cm dari alas kandang. Oleh karenanya, arah udara yang bergerak di dalam kandang harus lah dapat dikontrol semaksimal mungkin agar setiap ekor ayam yang ada di dalam kandang mendapatkan oksigen yang sama antara satu dengan lainnya. Hal itu berlaku baik ayam yang berada di dekat inlet atau di posisi paling depan, di tengah kandang yang dekat dengan pintu masuk tengah, maupun ternak yang berada di paling ujung belakang seperti dekat exhaust fan.
Baca Juga: Pentingnya Memahami Kualitas Udara di Kandang Ayam
Penurunan kualitas oksigen di dalam kandang bisa terjadi karena salah satu hal seperti tercemarnya udara di kandang akibat adanya unsur lain akibat pergerakan dan pertukaran udara yang kurang baik. Secara fisiologis, ayam menghirup Oksigen (O2) dan melepaskan Karbon dioksida (CO2) dan Uap air (H2O). Karbon Dioksida memiliki massa partikel yang lebih berat dari oksigen, sehingga CO2 cenderung berada di daerah alas kandang atau berada di tempat di mana ayam itu hidup. Selain itu kandungan amonia (NH3) juga perlu diwaspadai karena memiliki massa yang lebih ringan daripada oksigen (lihat Tabel 1).
Tabel 1 : Standar kualitas udara yang baik di kandang
No |
Parameter |
Ukuran Standar |
1 |
Oksigen |
≥ 19,6% |
2 |
Karbon dioksida |
≤ 0.3% |
3 |
Karbon monoksida |
≤ 10 ppm |
4 |
Amonia |
≤ 10 ppm |
5 |
Kelembapan Relatif (RH) |
45 – 65% |
6 |
Kecepatan angin setelah 28 hari (Air Velocity) |
350 – 500 FPM (Feet per Minute) |










