POULTRYINDONESIA, Jakarta – Vaksinasi adalah tindakan pemberian vaksin atau infeksi buatan yang terkendali untuk menstimulasi pembentukan antibodi yang protektif dan seragam, sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Berfungsi merangsang pembentukan kekebalan (antibodi) pada ternak sehingga dapat mencegah infeksi penyakit, prinisp vaksinasi adalah, “vaksinasi diberikan terlebih dahulu sebelum terjadinya infeksi lapangan,” kata Head of Region DIY & Central Java BroilerX drh. Lucky Yudhistira dalam Indonesia Livestock Club (ILC) Edisi 32 yang mengangkat tema “Vaksinasi Unggas”, Sabtu (25/11).
Keberhasilan suatu metode vaksinasi di lapangan ditentukan oleh faktor 4M, yakni Materi, yakni ayam dan vaksinnya; Metode beserta lingkungannya; dan Manusianya. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar terhindar dari kegalaman program vaksinasi yakni pertama, persiapan dan penanganan vaksinasi yang tidak maksimal. Ketepatan jadwal vaksinasi tidak boleh terlupakan dari bagian evaluasi ini. Perhatikan juga peralatan vaksinasi yang rusak atau tidak steril. Pemakaian alat suntik terutama jarum saat vaksinasi suntik yang tidak steril atau berkarat dapat menyebabkan peradangan pada area bekas penyuntikan.Dosis yang tidak tepat dapat pula menyebabkan kegagalan vaksinasi.
“Dosis vaksin aktif maupun inaktif yang tidak tepat per ekornya akan memicu ketidak seragaman pembentukan antibodi, sehingga dapat terjadi kasus ‘rolling reaction’, yaitu reaksi post vaksinasi yang berkepanjangan,” kata Lucky Yudhistira.
Demikian juga aplikasi vaksinasi yang tidak sesuai dengan target organ, bisa menyebabkan vaksin yang diberikan tidak maksimal dalam merangsang pembentukan antibodi. Kualitas air minum atau pelarut juga harus diperhatikan. Kondisi air dengan pH terlalu asam atau terlalu basa, air yang terkontaminasi bahan kimia atau logam berat, dapat mempengaruhi potensi vaksin atau bahkan merusak virus dalam vaksin.
Ketika melakukan aplikasi vaksinasi, tidak perlu dilakukan dengan tergesa-gesar atau bahkan kasar, yang bisa berakibat fatal yang mungkin terjadi. Pelaksanaan vaksinasi yang kasar dapat menyebabkan hal negatif seperti ayam menjadi stres sehingga kematian tinggi pasca penyutikan, leher terpuntir, terjadinya abses (kebengkakan) pada leher atau kelumpuhan kaki.
Terdapat dua jenis vaksin, yakni vaksin aktif dan inaktif. Vaksin aktif yakni merupakan vaksin yang mengandung virus hidup yang dilemahkan oleh keganasanya. Vaksin aktif berbentuk kering beku dan harus dilarutkan dengan pelarut tertentu (diluent). Adapun vaksin inaktif merupakan jenis vaksin mengandung virus yang sudah dimatikan dengan suhu panas, radiasi, atau bahan kimia. Vaksin iniaktif berbentuk emulsi cair serta mengandung antigen dan oil adjuvant (pelarut) untuk perpanjangan durasi immunitasnya.
Agar aplikasi vaksinasi dan dilakukan dengan tepat sehingga hasilnya optimal, maka harus memperhatikan dua hal utama, yakni jenis vaksinasi yang digunakan, dan umur ayam saat divaksinasi. Untuk sediaan vaksin aktif berbentuk kering beku, sehingga pada aplikasi atau pemakaiannya harus dilarutkan dahulu menggunakan pelarut: dapat berupa larutan dapar, air biasa (minum) atau aquades (Aqua Destilata Steril). Setelah itu, dapat diberikan via tetes mata atau hidung atau mulut, air minum, spray atau tusuk sayap.
Vaksin aktif juga dapat diberikan melalui suntikan, caranya adalah dengan terlebih dahulu dilarutkan dalam aquades 500ml aquades, sedangkan vaksin 500 dosis dilarutkan dalm 250ml aquades, dan demikian seterusnya. Sedangkan vaksin inaktif aplikasinya hanya secara injeksi/suntikan. Dalam menentukan dosis vaksin aktif maupun inaktif yang disuntikan, hal itu dilakukan dengan memperhatikan dengan umur ayam, misalnya 0,5ml untuk ayam dewasa dan 0,2ml untuk anak ayam.
Aplikasi dengan cara suntikan subkutan, yakni di bawah kulit leher bagian belakang pada anak ayam. Sedangkan pada ayam dewasa dapat melalui intramuskuker, yakni tembus otot daging dada ayam bagian kanan atau otot paha, maupun subkutan. oleh karena itu, umur ayam bisa menjadi pertimbangan dalam memilih metode vaksinasi yang tepat dan efektif.
Tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam memvaksin ayam yakni, vaksin harus habis dalam waktu 2 jam untuk vaksin aktif, dan kurang dari 24 jam untuk vaksin inaktif. Kedua, vaksin akan lebih baik dilakukan jauh dari pemanas; ketiga, pada tiga hari sebelum dan sesudah vaksinasi, ayam bisa diberikan vitamin seteri ‘anti sres’ atau elektrolit. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan fungsi sistem kekebalan dan daya tabah tubuh optimalnya.










