Oleh:  drh. Dahliatul Qosimah, M.Kes*
Kumbang ulat bambu (lesser mealworms atau litter beetle) atau yang selama ini dikenal sebagai kutu frengki memiliki nama ilmiah Alphitobius diaperinus. Kutu frengki merupakan hama serangga yang saat ini menjadi momok bagi para peternak unggas. Serangga ini muncul di waktu malam hari, sehingga disebut sebagai hama nokturnal (Dinev et al., 2013). Berasal dari daerah sub-Sahara, kutu frengki menyebar di seluruh dunia lewat perdagangan internasional bahan makanan seperti beras dan sereal (Renault dan Colinet, 2021).

Ancaman bahaya kutu frengki di dalam kandang tak boleh dianggap remeh oleh peternak. Biosekuriti dengan manajemen pengelolaan kandang dan lingkungan unggas yang baik melalui sanitasi di tiap siklus pertumbuhan ayam harus dilakukan.

Di dalam kandang, kutu frengki sering dijumpai pada alas kandang yang lembap dan berdebu. Larva kutu frengki dapat memadatkan tanah alas kandang hingga kedalaman 80 cm. Kutu frengki juga biasa dijumpai di dekat air minum, pakan, maupun fasilitas gudang yang berbahan kayu, yang mana kutu ini dapat menyebabkan kerusakan bangunan dengan membuat terowongan di celah-celah lantai dan dinding sebagai tempat metamorfosis larva untuk menjadi pupa (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Larva kutu ini memakan kayu, kertas, feses, unggas mati, pecahan kulit telur, dan kutu yang lebih kecil.
Suhu dan kelembapan udara yang tinggi, kondisi kandang yang gelap, serta tersedianya makanan menyebabkan naiknya jumlah populasi kutu frengki di lingkungan. Sifatnya yang mudah beradaptasi di lingkungan membuat kutu ini dapat berkembang biak dengan cepat dan jumlahnya yang tinggi pada kandang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi, hingga 67% karena menyebabkan kerusakan infrastruktur kandang (Arena et al., 2020). Selain merusak kandang, kutu ini juga dapat mengkontaminasi bahan baku pakan, seperti tepung, sereal, dan biji-bijian, seperti gandum, beras, dan kedelai (Dinev et al., 2013).
Karakteristik dan siklus hidup
Karakteristik kutu frengki berbeda tiap fase kehidupannya. Tahap hidup  kutu frengki adalah telur, larva, pupa, kemudian dewasa. Telur kutu frengki berbentuk lonjong, berwarna terang, dan melingkar dengan panjang 1 mm. Sedangkan larvanya berbentuk memanjang dengan panjang sekitar 12–19 mm, ujung perut lancip dan licin, serta eksoskeleton yang mengkilap tanpa rambut atau duri yang jelas.
Larva kutu frengki memiliki kepala, sepasang mata imatur, antena, bagian mulut, dan tiga pasang toraks, yakni prothorax, mesothorax, dan metathorax untuk bergerak. Bagian abdomennya bersegmen dan dilengkapi dengan kaki dan spina. Larva baru memiliki warna putih dan berubah menjadi cokelat dengan area kuning-cokelat muda setelah delapan kali ganti kulit. Pupa kutu frengki berwarna putih krem hingga cokelat terang dan tidak memiliki kemampuan bergerak. Kutu frengki dewasa berbentuk oval, agak cembung, berwarna cokelat tua atau hitam mengkilap dengan panjang sekitar 5,5–8 mm dan lebar 2,5–3,2 mm, serta rambut kuning pendek (Rumbos et al., 2018).
Kutu frengki dewasa memiliki kepala, mata, antena pendek, mulut, dengan bagian thoraks pronotum dan prosternum yang berbulu dan terletak sepanjang hypomeron. Kutu frengki dewasa juga memiliki thoracic legs yang termasuk bagian femur, tibia, dan tarsus. Selain itu, kutu frengki dewasa juga memiliki elytral suture pada bagian perutnya, sayap belakang, dan ventrites di bagian sternum yang terlihat dari luar (Soares et al., 2018).
Pada kutu frengki betina, terdapat mesothoracic tibial spurs atau bulu pendek, tebal, dan berbentuk pasak yang sejajar satu sama lain di sepanjang sumbu longitudinal tibia. Sedangkan mesothoracic tibial spurs pada kutu frengki jantan tidak sejajar satu sama lain. Kutu frengki betina juga memiliki urogomphus atau struktur yang tumbuh dari segmen tubuh terakhir dan menonjol keluar, serta pygopod di dekat celah dubur yang menonjol. Sedangkan kutu frengki jantan hanya memiliki urogomphus dan tidak memiliki pygopod (Esquivel et al., 2012).
Siklus hidup kutu frengki berkisar antara 3 hingga 12 bulan. Kutu dewasa bertelur pada alas kandang, celah kandang, feses, sekam, dan di bawah saluran pakan dan air  minum (Dinev et al., 2013). Kutu betina bertelur sekitar 6 hingga 10 hari setelah kawin.  Kutu frengki betina menelurkan setidaknya 1000-1800 butir sepanjang hidupnya.  Telur  yang menetas akan menjadi larva dalam waktu 3 hingga 10 hari pada suhu berkisar 15-38°C. Tahapan larva berlangsung selama 1 hingga 3 bulan dimana larva melewati 6 hingga 11 kali pergantian kulit, tergantung pada suhu dan makanan yang ada.
Larva selanjutnya berpindah ke tempat kering dan hangat dengan membuat terowongan di bawah tanah, alas kandang, dan insulasi  bangunan, serta celah-celah dinding bangunan untuk membentuk rongga. Selanjutnya larva akan berkembang menjadi pupa. Tahapan dari pupa hingga menjadi kutu frengki dewasa berlangsung selama 4 hingga 14 hari, tergantung suhu lingkungan (Rumbos et al., 2018).
Untuk berkembangbiak, kutu frengki membutuhkan suhu 30-33°С dan kelembapan udara sekitar 90%. Total  siklus hidup kutu frengki dari telur hingga dewasa adalah 89 hari pada suhu 22°С dan 26 hari pada 31°С. Inilah yang menyebabkan mengapa kutu frengki betah hidup dalam kandang unggas, karena tempatnya ideal untuk berkembangbiak (Dinev et al., 2013). *Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com