Seminar pra-ILDEX menghadirkan tiga pakar internasional yang mengulas pendekatan baru dalam nutrisi pakan, metabolisme lipid, dan peran hati sebagai pusat efisiensi fisiologis unggas.

Di tengah semangat industri pakan unggas yang terus beradaptasi dengan perubahan global, Lachance kembali memperkenalkan gagasan baru melalui seminar bertajuk “New Feed Nutrition Path Exploration: Optimizing Lipid Absorption and Hepatic Wellness – Better Lipid, Healthier Liver”. 

Acara yang digelar pada Selasa, (16/9) di Hotel Mercure, Tangerang, BSD City ini merupakan seminar Pre-ILDEX, menghadirkan tiga pembicara utama: Prof. Seksom, pakar nutrisi unggas dari Thailand; Mrs. Tracy dari Lachance; serta Dr. Lyu, pakar nutrisi dan efisiensi produksi dari Tiongkok. Ketiganya membahas keterkaitan antara genetik, nutrisi, dan manajemen dalam produksi unggas.

Adaptasi Genetik dan Manajemen yang Holistik

Prof. Seksom, pakar nutrisi unggas asal Thailand, membuka sesi dengan menyoroti perubahan pesat dalam genetik ayam modern. Dalam 50 tahun terakhir, waktu panen ayam broiler turun dari delapan minggu menjadi kurang dari 30 hari untuk mencapai bobot dua kilogram. Namun, percepatan ini tidak selalu diimbangi oleh penyesuaian nutrisi dan manajemen yang memadai.

“Pertumbuhan genetik terus berkembang, tapi seringkali nutrisi dan manajemen tertinggal. Akibatnya muncul stres jantung, obesitas, hingga kelainan kaki,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa dunia peternakan kini memasuki era *VUCA* (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) di mana industri harus siap beradaptasi terhadap perubahan iklim, harga bahan baku, hingga regulasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan semua aspek — mulai dari nutrisi, lingkungan, kesehatan, hingga sumber daya manusia.

“Kita tidak bisa hanya memperbaiki satu sisi, misalnya nutrisi, lalu berharap semuanya akan membaik. Semua faktor harus berjalan selaras,” tegasnya.

 

Sebagai contoh, ia menyoroti pentingnya ventilasi kandang tertutup. Kekurangan oksigen dapat menurunkan produksi energi (ATP) secara drastis dan menghambat pertumbuhan. Di akhir sesi, Prof. Seksom mengingatkan bahwa genetik, nutrisi, penyakit, dan pasar terus berubah setiap tahun. “Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal,” ujarnya.

 

BIOACID: Inovasi Aditif untuk Kesehatan Hati

Sesi kedua diisi oleh Mrs. Tracy, Poultry Technical Manager Lachance Group. Ia memperkenalkan BIOACID, aditif pakan berbasis senyawa alami hasil metabolisme kolesterol yang berfungsi mendukung metabolisme lipid dan menjaga kesehatan hati unggas.

“BIOACID membantu proses emulsifikasi, pencernaan, dan absorpsi lemak, serta meningkatkan aktivitas lipase pankreas sehingga penyerapan lemak lebih optimal,” jelas Tracy.Hasil uji menunjukkan bahwa penambahan BIOACID memperbaiki efisiensi pakan, mempercepat pertumbuhan broiler, dan meningkatkan fungsi hati. “Setelah ditambahkan BIOACID, warna hati ayam berubah dari kuning menjadi merah kecoklatan, menandakan peningkatan sintesis trigliserida yang lebih efisien,” paparnya.

Selain mendukung kinerja fisiologis unggas, Lachance juga berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Perusahaan yang berdiri sejak 2004 ini menginvestasikan sekitar lima juta yuan untuk fasilitas pengolahan air dan gas limbah. Pada 2023, Lachance diakui oleh Kementerian Pertanian China sebagai *National Bioacid Standard Center*.

“Kami berharap BIOACID bisa berkembang dari functional feed additive menjadi essential feed additive, karena tujuan kami bukan hanya menjual produk, tapi memberikan solusi teknis bagi industri,” tambahnya.

 

Tren Nutrisi dan Efisiensi Produksi di Tiongkok

Sebagai penutup, Dr. Lyu memaparkan perkembangan industri perunggasan Tiongkok yang memproduksi sekitar 26 juta ton daging ayam per tahun dari total produksi daging nasional 96 juta ton. Ia menjelaskan bahwa modernisasi sistem kandang tertutup kini sangat masif, namun juga membawa tantangan baru seperti pengelolaan air, ventilasi, dan limbah.

“Setiap kandang berisi 30 ribu ayam dapat mengonsumsi hingga 12 ton air per hari. Tanpa sistem drainase dan ventilasi yang baik, penyakit dan bau sulit dikendalikan,” ujarnya.

Dalam hal nutrisi, Lyu menyoroti penerapan enzim dan postbiotik berbasis nasi fermentasi yang terbukti menurunkan FCR hingga 0,03 poin dan mengurangi bau kotoran. Beberapa riset juga menunjukkan penurunan FCR dari 1,5 menjadi 1,1 disertai peningkatan aktivitas enzim lipid.

Ia juga memperkenalkan strategi sex-separated rearin, yakni pemeliharaan broiler jantan dan betina secara terpisah untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi dan waktu panen. “Dengan sistem ini, hasil panen lebih seragam dan performa produksi meningkat hingga 44 kg per meter persegi,” jelasnya.

Menutup sesi, Dr. Lyu menekankan pentingnya komunikasi lintas bidang di dunia profesional. “Jika berbicara dengan tim finansial, gunakan bahasa finansial; jika dengan manajemen, sampaikan manfaat dalam bentuk ROI,” ujarnya. Ia juga mendorong generasi muda di industri untuk berani berbagi gagasan dan hasil kerja.

“Menjadi pakar bukan hanya soal sains, tapi juga tentang bagaimana memberi nilai bagi perusahaan dan orang-orang di sekitar kita,” tutupnya.

Seminar pra-ILDEX ini menjadi bukti komitmen Lachance untuk terus menghadirkan inovasi berbasis riset dalam nutrisi unggas modern. Melalui kolaborasi lintas disiplin dan pengembangan teknologi seperti BIOACID, Lachance berupaya mewujudkan industri perunggasan yang lebih efisien, sehat, dan berkelanjutan.