POULTRYINDONESIA, Jakarta – Faktor penyakit selalu menjadi tantangan tersendiri bagi usaha budi daya broiler. Terlebih apabila berbicara tentang serangan penyakit oleh virus, yang merupakan sebuah mimpi buruk bagi para peternak. Hal ini dikarenakan penyakit yang disebabkan oleh virus tidak dapat disembuhkan dengan pemberian obat maupun antibiotik. Selain itu, potensi kerugian yang diakibatkan oleh serangan virus terhadap ternak juga bisa dikatakan sangat besar, mengingat jika ternak sudah terkena virus, maka produktivitas akan menurun sangat jauh bahkan berpotensi harus cepat dilakukan apkir dini.
Dari fenomena tersebut, perlu adanya program vaksinasi yang baik pada pemeliharaan broiler. Program vaksinasi yang baik adalah program vaksinasi yang disusun berdasarkan kondisi lapangan suatu peternakan. Berangkat dari hal ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry TechniClass seri ke-8 bertemakan, “Program Vaksinasi Tepat, Produktivitas Broiler Meningkat” secara virtual via Zoom, Rabu (28/9).
Tema ini menjadi bahasan yang menarik, mengingat kecocokan strain dari vaksin dan virus di lapangan akan membuat proteksi semakin kuat sehingga dapat menghalangi agen penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh ayam. Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), Prof. Wayan T Wibawan mengenai landasan vaksinasi pada broiler. Ia mengatakan, broiler komersil adalah ayam modern yang memiliki potensi genetik pertumbuhan yang sangat cepat. Potensi genetik inilah yang kemudian disebut sebagai stres intrinsik.
“Stres instrinsik merupakan stres yang sudah pasti diterima karena genetik pertumbuhan yang sangat cepat, ini harus kita terima mau tidak mau. Oleh sebab itu, kita harus fokus pada manajemen stres ekstrinsik seperti vaksinasi, kepadatan, suhu kelembapan, amoniak, dan lain-lain yang bisa kita lakukan sebagai intervensi terhadapnya,” paparnya.
Kemudian, dirinya menambahkan bahwa kegagalan vaksinasi semata-mata bukan disebabkan oleh rendahnya kualitas vaksin. Melainkan terdapat predisposisi yang menyebabkan ayam tidak dapat merespon vaksin. Fenomena ini sering ditemui ketika terdapat immunosupressor. Penyediaan bahan baku yang kurang tepat seperti adanya aflatoksin sangat memengaruhi respon ayam terhadap sistem imun.
Baca Juga: Stabilisasi Harga, NFA Genjot Penyerapan LB oleh Perusahaan Swasta dan BUMN
“Hal terkait kegagalan vaksinasi ini perlu diperhatikan. Immunosupressor pada peternakan broiler yang paling sering ditampakkan ialah terkait aflatoksin pada bahan pakan. Kurangnya respon imun terhadap vaksin juga disebabkan oleh cekaman panas, ini menjadi tantangan bagi peternak yang masih menerapkan sistem kandang open house,”
Jika terdapat indikasi immunosupressor, disarankan untuk menambahkan feed supplement pada pakan. Feed supplement tersebut harus bersifat antioksidan seperti vitamin E dan selenium. Penambahan selenium pada pakan berfungsi untuk merangsang produksi antibodi, serta mampu meningkatkan daya tahan secara non-spesifik terhadap berbagai macam mikroba. Selain itu, selenium juga dapat meningkatkan respon atau titer antibodi yang terbentuk.
Sementara itu, drh. Titis Wahyudianto, selaku Technical Service Manager West Area, PT Boehringer Ingelhem Indonesia memperkenalkan produk yang dinamakan BDA BLEN. Sebuah produk vaksin live IBD ‘Antigen-antibody complex’, yang berupa vaksin kering beku dalam sediaan botol vial penyimpanan 2-7°C. Produk tersebut diklaim merupakan keseimbangan yang sempurna antara strain virus vaksin IBD live dan antibodi virus IBD poliklonal. 
“BDA Blen Antigen-Antibody complex tidak dinetralkan oleh MAB IBD seperti layaknya vaksin IBD tradisional. Melainkan mulai bekerja saat MAB IBD melemah untuk selanjutnya menggertak kekebalan adaftif terhadap IBD, sehingga terbukti dapat melindungi terhadap serangan virus lapang seperti IBD klasik, IBD virulen dan IBD sangat virulen,” ujar drh. Titis.
Dalam kesempatan yang sama, Technical Service Manager East Area, PT Boehringer Ingelhem Indonesia drh. Hadi Wahjudi memperkenalkan alat-alat yang berkecimpung di dunia vaksinasi dalam materinya yang berjudul “Vaccination Technologies and Services (TVS)”. Selain terdapat alat-alat yang aplikatif, TVS juga memberikan pelayanan yang istimewa untuk memudahkan para peternak dalam mengoperasikan dan pemeliharaannya.
“Tim dari Vaccination Technologies and Services ini memiliki paket lengkap yang meliputi evaluasi fasilitas peralatan vaksinasinya. Dari evaluasi tersebut, kami dapat membantu peternak untuk perihal pengiriman dan pemasangan alat tersebut. Lalu kami terdapat pelatihan operator agar vaksinasi dapat dilakukan dengan optimal. Kami juga memiliki layanan kunjungan regular, yang meliputi audit dan pemeliharaan alat-alat yang preventif,” katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa TVS meluncurkan alat-alat vaksinasi yang dapat diterapkan untuk di hatchery dan farm. Pada hatchery sendiri, terdapat alat yang dipakai untuk metode in-ovo, subkutan injeksi, dan spray. Kemudian pada farm, TVS juga memiliki alat yang dapat diaplikasikan secara injeksi dan spray.
“Terdapat 3 alat untuk vaksinasi di hatchery yaitu, Zootec Double II, Spravac, Field Spravac. Kemudian untuk di farm terdapat 4 alat yakni Ulvavac dan Solovac III, sedangkan Spravac dan Field Spravac dapat dilakukan di hatchery maupun pada farm,” tutur Yudi.