Daging ayam dan telur adalah pangan asal hewan merupakan sumber protein hewani yang memiliki kandungan asam amino esensial penting untuk pertumbuhan sel-sel tubuh, juga berfungsi untuk menggantikan sel tubuh yang rusak dan mati, serta mengatur proses metabolisme tubuh lainnya. Ketersediaannya mencukupi bahkan cenderung surplus, mudah didapat, harga terjangkau dan mudah diolah.
Peningkatan konsumsi produk unggas tidak bisa dilakukan secara terpisah, harus dilakukan secara serentak dan dibutuhkan partisipasi secara aktif dari setiap lapisan masyarakat.
Upaya peningkatan konsumsi produk perunggasan memang tidak bisa lepas dari sosialisasi ke masyarakat tentang pentingnya konsumsi pangan bergizi seimbang, serta intervensi gizi bagi masyarakat yang kurang mampu atau memang membutuhkan. Terlebih lagi produk perunggasan bisa menjadi salah satu solusi untuk pengentasan masalah stunting di Indonesia. Bahkan menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menargetkan prevalensi stunting Indonesia di tahun 2023 menjadi 17 persen. Pada 2022 angka stunting Indonesia yakni 21,6 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru. Bila target ini tercapai, maka target di 2024 yakni 14 persen untuk kasus stunting di RI bisa terwujud.
Upaya pengentasan stunting salah satunya dengan sosialisasi kepada ibu hamil, menyusui dan anak – anak balita. Peningkatan konsumsi akan produk protein hewani termasuk produk unggas di dalamnya biasanya diiringi dengan edukasi masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang dalam setiap porsi makanan, terlepas dari tingkat pendapatan itu sendiri. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Astri Mutiar, dosen Maternitas STIKep PPNI Jabar saat diwawancarai lewat sambungan telepon, Senin (17/4). Astri menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat terkait dengan pentingnya gizi seimbang dalam setiap porsi makanan masih menjadi tantangan tersendiri, maka dari itu tim tenaga kesehatan salah satunya di bidang keperawatan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Kami di keperawatan itu lebih berfokus ke preventif, jadi dari kami pencegahan dimulai dari pencegahan primer, tersier dan sekunder. Pencegahan Primer itu gambarannya bagaimana kami membuat orang yang memang sudah sehat menjadi semakin sehat dan tidak sakit. Langkah yang biasanya kami lakukan ke masyarakat ibu hamil dan infant itu biasanya kami langsung turun ke lapangan untuk memberikan pemahaman terkait gizi seimbang,” papar Astri.
Dalam memberikan edukasi kepada masyarakat menurut Astri memang tidak mudah, perlu upaya ekstra supaya penyampaian informasi tersebut bisa tepat sasaran dan aplikatif bagi masyarakat. Biasanya untuk menghadapi perbedaan tingkat pemahaman dan edukasi masyarakat terhadap informasi yang akan diberikan, tim dari keperawatan mencoba memahami kultur masyarakat tersebut, lalu mengubah stigma yang beredar di masyarakat terkait dengan menu seimbang.
“Langkah pertama dalam mengedukasi masyarakat berdasarkan pengalaman kami yaitu bagaimana mengubah stigma dan literasi masyarakat. Tantangannya itu lebih ke stigma dan literasi masyarakat terhadap pengetahuan tersebut. Jadi terkadang kami juga berusaha tidak hanya sekedar memberi tahu, tetapi bagaimana masyarakat yang sudah kami berikan edukasi mau mencari tahu sendiri dengan informasi yang sudah kami sampaikan.”
Sedangkan terkait isu stunting, Astri mengaku bahwa memang disebabkan oleh berbagai faktor, akan tetapi asupan nutrisi berpengaruh besar terhadap kejadian kasus Stunting di masyarakat dimana faktor nutrisi memiliki proporsi yang cukup besar dibandingkan faktor lainnya.
“Terkait dengan isu stunting, memang tidak terlepas dari asupan nutrisi yang didapat dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita itu sendiri. Memang, penyebab dari stunting bukan hanya dari aspek nutrisi saja, tetapi faktor asupan nutrisi berkontribusi cukup besar sebagai penyebab permasalahan stunting. Jadi, masyarakat harus paham betul apa saja nutrisi yang dibutuhkan dalam seporsi makanan supaya nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh bisa tercukupi untuk menghindari permasalahan malnutrisi,” jelasnya.
Maka dari itu, Astri menyampaikan bahwa edukasi yang dilakukan di lapangan oleh tenaga kesehatan keperawatan biasanya sampai ke hal teknis seperti bahan pangan apa saja yang bisa diolah dalam seporsi makanan. Seperti contoh, untuk asupan nutrisi protein, bisa didapat dari pangan asal hewani seperti daging ayam, telur, dan bahan pangan hewani lainnya.
“Kalau berbicara tentang apa saja asupan nutrien yang diperlukan dalam seporsi makanan dan terkandung dalam bahan pangan apa saja biasanya kami akan memberikan beberapa contoh bahan makanan yang tersedia. Asupan nutrisi dalam setiap porsi makanan sebenarnya tidak mesti didatangkan dari bahan pangan yang harganya mahal. Contohnya, untuk pemenuhan sumber protein harian dan di dalamnya juga terkandung berbagai macam asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh, masyarakat bisa mengonsumsi makanan yang bersumber dari protein hewani semisal daging ayam dan telur, dan bahan pangan lainnya. Dan untuk ibu hamil memang berdasarkan beberapa riset disarankan untuk mengonsumsi lebih banyak protein hewani dibandingkan protein nabati. Memang protein nabati juga bisa memberikan asupan protein harian, akan tetapi tidak sebaik protein yang didapat dari pangan asal hewan,” pungkas Astri.
Hal senada juga disampaikan oleh Dr.(HC). dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG.(K)., Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam sebuah acara webinar Rabu, (19/4). Menurutnya, Presiden Jokowi menaruh perhatian besar kepada pembangunan kualitas SDM, untuk itu BKKBN memiliki target untuk menurunkan angka stunting di akhir tahun 2024 menjadi 14 %.
“Stunting sangat merugikan kualitas SDM. Yang pasti dari fisik, stunting pasti pendek dan tidak ideal. Selain itu, kemampuan intelektualnya kurang sehingga kurang bisa bersaing secara akademik. Kemudian orang stunting dalam umur yang belum terlalu tua akan gampang sakit-sakitan, biasanya ketika umur 40 tahunan akan terserang darah tinggi dan kencing manis atau dalam kata lain punya problem kesehatan. Kesimpulannya orang stunting tidak bisa bersaing secara fisik dan akademik dan sisi kesehatan,” jelas Hasto.
Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan stunting, bisa dilakukan dengan menambah konsumsi protein hewani. Hasto juga menyampaikan bahwa pada saat 1.000 hari kehidupan pertama, terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat. Setelah itu otak sudah tidak lagi begitu berkembang. Dan dalam perkembangannya tersebut, otak membutuhkan asupan protein yang cukup, dan ternyata protein yang dibutuhkan lebih ke asam amino yang ada di produk hewani.
“Oleh karena itu seandainya kita menginginkan anak kita terhindar dari stunting dan cerdas, maka setelah 6 bulan ke atas sudah harus disediakan sumber protein hewani pada makanan pendamping ASI, bisa berupa telur, daging maupun ikan,” ungkap Hasto.
Selain edukasi, Hasto juga menyampaikan bahwa saat ini Badan Pangan Nasional telah memberikan supply telur, ayam dan beras kepada lebih dari 1 juta keluarga dalam upaya pengentasan stunting. Maka, Hasto berharap dengan hal ini dapat menjadi pemicu dan selanjutnya masyarakat dapat lebih sering membeli dan mengonsumsi protein hewani, terlebih produk lokal.
“Jadi masing – masing wilayah dapat menyiapkan produk telur dan ayam untuk konsumsi masyarakat. Selain itu, di beberapa wilayah juga terdapat program makan 2 butir telur sehari kepada anak – anak,” terangnya.
Selain itu Hasto juga memiliki sebuah program bagi anak – anak yang kurang mampu secara ekonomi yaitu program bapak asuh stunting, yang turut membantu menyediakan gizi yang cukup bagi anak – anak yang kurang mampu tersebut.
“Program ini telah berkembang di Yogyakarta dengan menjadikan masyarakat sebagai donatur bagi anak – anak yang kurang mampu. Dengan ini saya juga berharap juga dapat memperbaiki pemasaran pada telur. Selain itu saat ini dibeberapa daerah juga sudah ada “Dapur Sehat Atasi Stunting” yang dapat menjadi media untuk belajar menu – menu lokal untuk atasi stunting,” kata Hasto.
Untuk meningkatkan konsumsi masyarakat akan produk daging ayam dan telur, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menyalurkan bantuan pangan bagi masyarakat berupa telur dan daging ayam yang ditujukan kepada masyarakat berisiko stunting. Bantuan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo dalam rangka menjaga daya beli masyarakat sekaligus menyerap produksi peternak. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi dalam acara penyaluran perdana bantuan pangan telur dan daging ayam di Kantor Pos Bekasi, Sabtu (15/4).
“Penyaluran bantuan telur dan daging ayam hari ini sudah mulai didistribusikan ke kelompok sasaran yaitu keluarga berisiko stunting secara by name by address. Bantuan telur dan daging ayam ini akan disalurkan selama tiga bulan ke depan mulai April, Mei, dan Juni 2023, dengan sasaran penerima sebanyak 1,4 juta Keluarga Berisiko Stunting (KRS) berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),” jelasnya secara tertulis kepada awak media.
Dirinya menyebutkan bahwa bantuan yang disalurkan terdiri dari daging ayam ukuran 1 ekor karkas atau sekitar 0,9-1,1 kilogram dan 1 tray telur ayam atau sebanyak 10 butir. Untuk tahap awal sebelum Idulfitri ini bantuan akan disalurkan kepada 78 ribu KRS yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Jawa Barat. Secara keseluruhan, total bantuan sendiri akan didistribusikan di 7 provinsi dengan 3 provinsi lainnya yaitu Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Barat.
Sementara itu, untuk tahap pertama ini penyaluran di Provinsi Jawa Tengah akan dilakukan kepada sekitar 68 ribu KRS yang berada di Kabupaten Kebumen, Banyumas, dan Banjarnegara. Sedangkan di Provinsi Jawa Timur akan disalurkan kepada sekitar 6 ribu KRS yang berlokasi di Mojokerto, di Provinsi Banten akan disalurkan kepada sekitar 2 ribu KRS yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan, dan di Provinsi Jawa Barat akan disalurkan kepada sekitar 2 ribu KRS yang berlokasi di Cirebon, Bekasi, dan Bogor.
“Kami mulai distribusikan hari ini mengingat momentum lebaran sebentar lagi tiba dan masyarakat tentunya sangat membutuhkan bantuan tersebut. Bantuan ini diharapkan dapat menekan lonjakan inflasi di tengah naiknya permintaan bahan pangan menjelang lebaran,” tambahnya.
Lebih lanjut, Arief mengatakan bahwa bantuan pangan berupa telur dan daging ayam ini merupakan upaya menurunkan kerawanan pangan dan gizi akibat kurangnya asupan protein bagi masyarakat khususnya masyarakat berpendapatan rendah. Selain itu, telur juga diketahui sangat baik bagi pertumbuhan dan mencegah terjadinya stunting pada anak.
Dengan ini, Arief melanjutkan pihaknya optimis dapat terbangun ekosistem pangan yang terintegrasi di mana sinergi hulu-hilir dapat terjaga. Di sisi hulu hasil produksi petani peternak dan nelayan dapat terserap melalui peran BUMN Pangan sebagai offtaker, sementara di hilirnya berbagai program pemerintah seperti pengentasan stunting dan pengentasan daerah rentan rawan pangan dapat tereksekusi dengan baik.
“Dengan terselenggaranya program bantuan ini kita berharap dapat turut membantu sedulur-sedulur peternak di hulu dan membantu masyarakat kurang protein di hilir,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, Arief mengaku bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi yang baik antar pihak. Dimana dalam penyediaan produk telur dan daging ayam telah dioptimalkan BUMN Holding Pangan ID FOOD. Sedangkan untuk pendistribusiannya melalui PT Pos Indonesia. Kemudian untuk pengawasan di lapangan kita selalu bersama satgas pangan. Dirinya berpesan untuk semua pihak dapat melapor, apabila dalam pelaksanaannya ditemukan hal-hal yang menyimpang.
Adapun dalam acara tersebut Direktur Komersial ID Food, Adriansyah Chaniago mengatakan bahwa ID FOOD telah berkolaborasi dengan produsen di hulu untuk menyerap komoditas telur daging ayam dari para peternak, Dimana jumlah peternak layer yang menjadi mitra sekitar 42 peternak, sedangkan peternak broiler sekitar 25 peternak. Dirinya juga menyebutkan bahwa pihaknya menjamin kualitas bantuan pangan telur dan daging ayam ini yang dibagikan kepada sasaran penerima manfaat.
“Kami jamin telur daging ayam yang disalurkan dalam bantuan ini kualitasnya baik. Packaging-nya dalam bentuk frozen untuk memudahkan penerima membawa barang dalam kondisi yang segar,” ujarnya.
Masih dalam acara yang sama, hal senada diungkapkan oleh Direktur Utama PT Pos Indonesia, Faizal R. Djoemadi. Pada kesempatannya, Faizal menegaskan kesiapan pihaknya dalam penyaluran bantuan pangan tersebut.
“Ada sekitar 15 ribu insan pos karyawan dan mitra yang akan membantu penyaluran bantuan ini, dan itu dilakukan secara serentak. Hari ini kami siap untuk menyalurkan bantuan telur daging ayam ini. Untuk tahap awal kita salurkan secara bertahap ke 78 ribu KRS di 4 provinsi hingga 19 April nanti,” ujar Faizal.
Intervensi perbaikan mutu pangan berupa bantuan pangan kepada masyarakat yang kurang mampu sekaligus meningkatkan konsumsi protein hewani juga dilakukan oleh pihak Pemprov DKI Jakarta melalui dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP). Menurut Suharini Eliawati selaku Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta melalui pesan tertulis, Selasa (18/4) menyampaikan bahwa pihak Pemprov DKI memiliki beberapa program diantaranya program penyediaan dan pendistribusian pangan dengan harga murah bagi masyarakat tertentu.
“Penerima program tersebut diantaranya penerima kartu Jakarta Pintar dan Kartu Anak Jakarta, PJLP maksimal 1,1 UMP, Buruh maksimal 1,1 UMP, Tenaga pendidik non {NS maksimal 1,1 UMP, Penghuni Rumah Susun Pemprov DKI Jakarta, warga lansia dan disabilitas yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar, Kader PKK yang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar.”
Bantuan yang diberikan, menurut Suharini berupa subsidi harga untuk komoditas bapokting kepada masyarakat tersebut. Pendistribusian dari bantuan tersebut berada di 336 lokasi di 5 kota administrasi DKI Jakarta, dan 1 Kabupaten Administrasi.
“Dalam pemenuhan kebutuhan bahan pokok untuk target penerima bantuan, Pemprov DKI melalui PD Pasar Jaya. Bantuannya berupa subsidi harga bahan pokok yang berada jauh di bawah harga pasar. Bahan pangan yang disubsidi diantaranya Daging Sapi Rp.35.000,00 per kilogram, Daging Ayam Rp.8.000,00 per kilogram, telur ayam Rp.10.000,00 per kilogram, beras Rp.30.000,00 per 5 kilogram, ikan Rp.30.000,00 per kilogram, dan khusus penerima KJP ditambahkan susu Rp.30.000,00 per 24 kotak kemasan 200ml. Total harga Rp. 126.000,00 untuk paket lengkap,” jelas Eliawati.
Untuk upaya peningkatan konsumsi produk perunggasan memang tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memang harus dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat dari mulai hulu yaitu pihak produsen , hingga ke hilir sampai ke masyarakat konsumen produk perunggasan itu sendiri. Jika sinergi antar lapisan masyarakat dapat terjalin dengan erat dan menjadi sebuah kesatuan dalam kerangka yang sama yaitu ketercukupan gizi maupun peningkatan gizi masyarakat, maka konsumsi produk unggas yang memiliki nilai gizi yang tinggi tentu akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...