POULTRYINDONESIA, Kota Cianjur – Kunci kesuksesan dalam memelihara ayam ras petelur tentu datang dari berbagai faktor, salah satu faktor yang menentukan keberhasilan diantaranya adalah bagaimana para peternak menerapkan manajemen pemeliharaan yang biasanya dicantumkan dalam buku guideline dari masing –masing strain. Maka dari itu, PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) bekerja sama dengan PT Hy-Line Indonesia (Hy-Line) menggelar sebuah acara seminar dengan tema ‘Seminar Teknis Layer, Hy-Line Brown Max Advantage & Success Worldwide’ yang terselenggara di Hotel Gino Feriucci Kota Cianjur, Jumat (19/5).
Menurut I Santana Dewa Made, Hy-Line Technical Specialist South East Asian untuk mencapai performance yang optimal, maka yang harus dijaga adalah pencapaian bobot badan mingguan. Lalu masih menurut Santana, pada fase 0-6 minggu merupakan fase yang terpenting bagi pertumbuhan ayam karena pada fase tersebut merupakan periode pertumbuhan sistem imun dan pencernaan ayam yang merupakan pondasi awal bagi tumbuh kembang ayam.
“Fase brooding merupakan fase untuk perkembangan saluran pencernaan dan sistem imun, tetapi ketika pertumbuhan dalam periode tersebut tidak optimal, maka potensi ternak untuk mengalami gangguan kesehatan akan meningkat,” ungkap Santana.
Selanjutnya menurut Princess Cortez selaku Technical Services Specialist and Nutrition Hy-Line International menjelaskan bahwa manajemen pakan juga sangat berpengaruh terhadap produksi dari layer.
Baca Juga: Pengusaha Agrobisnis di Cianjur Dukung Peningkatan Produksi Pangan Siap Ekspor
“Untuk mencapai target bobot badan yang pas banyak hal yang bisa dilakukan oleh para pternak. Salah satu hal simpel dan aplikatif untuk diterapkan diantaranya sebelum DOC datang sebaiknya menaruh pakan di atas kertas supaya ketika ayam datang ke kandang, bisa langsung makan dan menstimulasi ayam lainnya untuk makan,” ungkap Princess.
Masih dalam acara yang sama, menurut Charles Siregar selaku Key Account Manager dari Phibro Animal Health menjelaskan bahwa di Indonesia tantangan penyakit sudah sangat bervariatif dan bisa ditemui dimana – mana. Bahkan menurut Charles berbagai penyakit tersebut tidak hanya tersebar di Indonesia, melainkan di berbagai penjuru dunia.
“Untuk beberapa virus seperti gumboro itu sangat resisten di lapangan dan hanya bisa dihilangkan dengan beberapa disinfektan saja. Maka dari itu penting untuk melakukan proses cuci kandang dengan benar dan melakukan upaya preventif berupa vaksinasi gumboro,” jelas Charles.
Lebih lanjut menurut Susanto selaku Animal Health Product Manager menjelaskan bahwa jika melihat karakteristik geografis di Indonesia maka tantangan yang sering dihadapi oleh para peternak adalah kecaman panas atau heat stress. Susanto menjelaskan bahwa cekaman panas merupakan sebuah kondisi dimana panas lingkungan lebih tinggi dari panas ayam. Apalagi dengan iklim tropis yang ada di Indonesia, menyebabkan kejadian cekaman panas lebih sering terjadi.
“Salah satu langkah aplikatif yang bisa dilakukan adalah menghindari pemberian pakan di waktu pagi seperti jam 9 – 12 siang, selain itu bisa juga menambahkan suplementasi yang larut air karena ketika ayam terkena cekaman panas, ayam cenderung meningkatkan konsumsi air minum daripada pakan,” papar Susanto.