Keberadaan lalat dalam sebuah peternakan ayam merupakan sebuah tantangan tersendiri dan memerlukan langkah antisipasi. Pasalnya, lalat dapat mengganggu aktivitas ayam yang mengakibatkan stres, sehingga menurunkan konsumsi pakan pada ayam. Hal ini secara langsung berimplikasi terhadap penurunan performa produktivitas pada ayam.

Pengendalian lalat di kandang merupakan hal yang harus menjadi perhatian serius bagi para peternak. Pasalnya, keberadaan serangga ini bukan hanya dapat mengganggu performa produksi, namun juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar.

Selain itu lalat juga merupakan vektor yang dapat menularkan banyak penyakit. Terlebih, celakanya lalat ini juga membawa agen patogen tersebut bersamanya, sehingga menjadi sebuah ‘double trouble’ yang tidak hanya berbahaya bagi ternak saja, namun juga peternak maupun masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hal ini dalam lingkup yang lebih besar, juga akan berpotensi menimbulkan konflik sosial dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kandang.
Biasanya, lalat paling banyak ditemukan di kandang saat musim hujan. Dimana, curah hujan yang tinggi menyebabkan kelembaban meningkat, sehingga jumlah lalat juga semakin banyak. Hal ini senada dengan penuturan Agung Puji Haryanto, DVM selaku Customer Care and Veterinary Service Manager PT Farmsco Feed Indonesia. Dalam sebuah webinar tentang penanganan lalat, Rabu (29/6), dirinya menyampaikan bahwa musim pancaroba merupakan kondisi yang sulit, mengingat keberadaan lalat dapat melonjak. Apabila hal demikian terjadi, maka keberadaannya dapat mendatangkan petaka bagi peternak mengingat lalat merupakan salah satu sumber penyebaran penyakit.
“Mengenai kondisi sekarang yakni saat musim pancaroba yang mana lalat merupakan faktor dari masuknya bibit penyakit, sehingga kaitannya dengan biosekuriti adalah sangat tepat. Dengan begitu, peternak harus memahami bagaimana cara pengendalian keberadaan lalat ini sebagai langkah mitigasi penyebaran penyakit,” katanya.
Pengendalian lalat di kandang
Bak peribahasa ‘ada gula, ada semut’ mungkin begitulah kita menggambarkan keberadaan lalat setiap kali ada makanan. Mengaca dari hal tersebut, maka tak mengagetkan bila kandang merupakan tempat yang sangat ideal untuk kehidupan serangga yang satu ini. Dimana di kandang banyak adanya pakan yang mengandung banyak nutrisi, kotoran dan belum lagi apabila suhu dan kelembaban tidak diatur dengan baik.
Hal ini diamini oleh, drh. Arya Bagaskara Putra selaku Customer Care and Veterinary Service PT Farmsco Feed Indonesia. Dalam acara yang sama, dirinya menyampaikan bahwa faktor yang dapat dijadikan tempat perkembangan lalat adalah kelembaban dan temperatur. Realitanya, kandang merupakan tempat yang ideal untuk perkembangan lalat karena terdapat banyak media tumbuh bagi lalat.
Baca Juga: Konsep Sistem Kandang Cage Free
“Di kandang banyak terdapat bahan organik seperti pakan dan kotoran merupakan makanan bagi lalat. Lalat sebagai serangga memiliki siklus reproduksi yang dimulai dengan lalat dewasa yang menghasilkan telur lalat. Media penetasan telur yang dianggap cocok untuk lalat adalah media yang memiliki kelembapan kisaran 70-90% dan di suhu idealnya yakni 25-27 derajat celcius. Fakta di lapangan adalah kotoran ayam sangat cocok untuk perkembangan lalat dengan persentase kelembaban 75-80%,” papar Arya.
Kemudian Arya menerangkan, terdapat 3 poin kunci bahwa lalat dapat memberikan dampak negatif bagi peternak. Dampak negatif tersebut adalah sebagai vektor penyakit, penurunan produksi dan mengganggu kesehatan manusia serta lingkungan. Oleh karena itu, keberadaan lalat yang berlebihan dapat dikatakan berbahaya dan perlu diwaspadai.
“Lalat sebagai vektor penyakit dapat membawa bibit penyakit pada ayam, sehingga dapat menyebabkan kematian secara tidak langsung. Dengan sifatnya yang menempel pada kotoran dan memakan sisa-sisa makanan, tentu akan mudah sekali membawa penyakit-penyakit baik bersifat bakteri (E.coli, Staphylococcus, Salmonella dll), virus (ND, AI, dll) dan parasit (telur cacing). Dalam jumlah yang besar, kasus yang sering ditemukan di kandang adalah cacingan (helmintiasis). Hal ini biasanya ditemukan pada unggas dengan masa pemeliharaan yang panjang, mengingat siklus hidup cacing yang juga dapat dikatakan cukup lama. Kejadian helminthiasis ini dapat menurunkan bobot badan maupun produksi telur,” terangnya.
Arya melanjutkan bahwa lalat juga dapat menyebabkan penurunan produksi dengan cara meningkatkan stres pada unggas yang memicu penurunan produksi dan kekebalan tubuh unggas. Disisi lain, lalat juga dapat mengganggu kesehatan manusia. Hal ini dikarenakan lalat juga bisa membawa penyakit pada manusia seperti Salmonella, Campylobacter, E. coli dan masih banyak lainnya. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 1997, lalat dapat mentransmisikan beberapa penyakit pada manusia seperti disentri, diare, tipes kolera, dan beberapa jenis helminthiasis pada saluran pencernaan. Penyakit lain yang dapat ditularkan lewat lalat yaitu infeksi pada mata seperti konjungtivitis, poliomyelitis, serta infeksi pada kulit berupa mikosis dan leprosy. Agen penyakit yang dibawa oleh lalat tersebut diantaranya Salmonella sp., Escherichia coli, Campylobacter, dan Listeria sp.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153