Broiler yang dipelihara di kandang closed house
Oleh: drh. Dewi Prabuwati*
Peternak dapat mengurangi penggunaan antibiotik di peternakan dengan memodifikasi kandang. Tujuan modifikasi kandang adalah menciptakan lingkungan dengan sirkulasi udara yang baik. Sistem ventilasi kandang perlu dijaga untuk mencegah terjadinya heat stress yang memicu terjadinya penyakit khususnya penyakit pernapasan seperti CRD. Ventilasi yang baik juga akan mengurangi kadar amonia kandang yang merupakan faktor predisposisi infeksi saluran pernapasan. Beberapa ahli merekomendasikan penggunaan kandang tertutup karena ventilasi lebih bagus, lebih mudah mencegah infeksi penyakit yang ditularkan oleh vektor (serangga, unggas liar, dan tikus), serta memiliki suhu serta kelembapan yang terjaga. Beberapa ahli juga menyimpulkan jika pemakaian kandang tertutup memiliki hasil yang lebih bagus dibandingkan kandang terbuka.
Baca Juga : Maksimalkan Produksi Perhatikan Kepadatan Kandang
Penelitian yang dilakukan oleh Susanti et al. (2017) yang berjudul Perbandingan Produktivitas Ayam Broiler terhadap Sistem Kandang Terbuka (Open House) dan Kandang Tertutup (Closed House) di UD. Sumber Makmur Kecamatan Sumberejo Kabupaten Bojonegoro menyimpulkan bahwa pemeliharaan ayam broiler dengan kandang closed house menghasilkan berat akhir, tingkat kematian, Feed Conversion Ratio (FCR), dan Index Performance (IP) yang lebih baik daripada kandang open house. Kendala pembangunan kandang tertutup adalah modal yang besar, membutuhkan tenaga ahli, dan biaya listrik yang lebih besar. Peternak-peternak yang belum mampu mengimplementasikan teknologi ini dapat juga memodifikasi kandang terbukanya dengan sistem ventilasi tekanan positif. Sistem ini bertujuan untuk mengalirkan udara dari dalam ke luar kandang dengan kipas yang ditempatkan di dalam kandang. Kipas dapat dikombinasikan dengan alat pengembun air untuk menurunkan suhu di dalam kandang. Teknologi ini dinilai sederhana dan terjangkau untuk meningkatkan hasil produksi dan menurunkan risiko kejadian penyakit pada ayam.
Penerapan biosekuriti
Pemakaian antibiotik pada ternak sebenarnya bisa ditekan dengan mencegah terjadinya penyakit. Pencegahan penyakit di kandang dapat dilakukan dengan penerapan sistem biosekuriti. Secara definisi, biosekuriti adalah usaha untuk menurunkan risiko kejadian dan penularan penyakit pada hewan. Tiga prinsip biosekuriti adalah isolasi, pengendalian lalu lintas, dan sanitasi. Isolasi dapat dilakukan dengan menjaga jarak minimum antarpeternakan, serta membuat dinding pemisah antara ayam dengan vektor penyakit. Pengendalian lalu lintas dapat dilakukan dengan membatasi manusia dan kendaraan yang masuk ke area peternakan, serta pengendalian hama di peternakan. Sanitasi dapat dilakukan dengan pembersihan dan desinfeksi secara tepat (terutama sebelum ayam masuk) dan teratur, menyemprot kendaraan yang akan masuk dengan desinfektan, serta mencelup kaki dan tangan sebelum masuk kandang.
Penerapan biosekuriti menurut Fasina et al. (2012) dalam tulisannya yang berjudul ‘The Cost-Benefit of Biosecurity Measures on Infectious Diseases in the Egyptian Household Poultry’ menyebutkan bahwa penerapan biosekuriti yang ketat di peternakan merupakan strategi yang baik untuk mengurangi kasus penyakit berulang di peternakan broiler Mesir. Penerapan biosekuriti yang baik memerlukan kedisiplinan dari berbagai pihak yang berhubungan dengan peternakan. Tak dipungkiri awalnya akan sulit mengimplementasikan sistem ini tetapi dengan ketegasan dan ketelatenan lama kelamaan semua orang akan terbiasa melaksanakan sistem biosekuriti yang ketat.
Ayo kurangi penggunaan antibiotik
Para stakeholder sebenarnya bisa menerima tantangan pengurangan penggunaan antibiotik di peternakan broiler. Hal ini mungkin terasa berat dan sulit, tetapi jika diimplementasikan secara bertahap dan bersama-sama bukan tidak mungkin cita-cita ini dapat dicapai. Hal-hal di atas merupakan sedikit dari banyak alternatif-alternatif untuk mengurangi penggunaan antibiotik. Penelitian tentang alternatif-alternatif ini juga harus diperdalam. Masih banyak lagi alternatif-alternatif lain yang dapat dilakukan untuk meminimalkan penggunaan antibiotik. Peneliti dan perusahaan obat hewan sebenarnya sudah berinovasi menciptakan produk-produk untuk mengurangi penggunaan antibiotik seperti meneliti serta memproduksi produk herbal, prebiotik, probiotik, acidifier, dan lain-lain.
Promosi produk-produk ini sebaiknya digencarkan agar peternak semakin percaya dengan potensi produk-produk ini. Pemerintah sebaiknya memberikan regulasi yang secara bertahap mengurangi konsumsi antibiotik untuk peternakan. Kerja sama peternak dengan peneliti dapat dicapai dengan cara menemukan inovasi baru yang mudah diimplementasikan serta sesuai dengan kebutuhan peternak. Peternak juga harus selalu up to date dengan informasi manajemen unggas dan secara bertahap mengimplementasikannya sehingga hasil produksi bisa tetap tinggi walau penggunaan antibiotik sudah dikurangi. Pengurangan penggunaan antibiotik di peternakan layak diperjuangkan karena erat hubungannya dengan kesehatan manusia. Wabah COVID-19, walaupun tidak disebabkan oleh resistensi antibiotik, seharusnya sudah cukup menjadi pelajaran kita semua untuk mencegah terjadinya wabah-wabah lain. Jika kita dapat mengurangi penggunaan antibiotik pada peternakan, maka kita turut berperan untuk mencegah terjadinya wabah bakteri yang resisten di masa depan.*Dokter hewan di salah satu perusahaan obat hewan
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi November 2020 dengan judul “Alasan Solusi dan Manfaat Pembatasan Penggunaan Antibiotik”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153