Mengapa kedelai menjadi salah satu komoditas tDerpenting bagi kehidupan manusia?
Di seluruh dunia, ada peningkatan permintaan akan kedelai yang dikenal sebagai “raja kacang”. Kedelai adalah komoditas yang diperdagangkan secara global yang diproduksi di daerah beriklim sedang dan tropis serta berfungsi sebagai sumber utama protein juga minyak nabati.

Namun, budidaya kedelai lebih banyak berkembang di daerah beriklim sedang yang sejuk dan hangat karena beberapa alasan. Pertumbuhan kedelai optimal pada suhu antara 20 dan 25 celsius. Di negara- negara tropis, suhu siang hari rata-rata sepanjang tahun adalah antara 28 dan 30 derajat Celsius. Kedelai juga sensitif terhadap curah hujan yang berlebihan. Daerah iklim tropis menerima sekitar 80-180 inci curah hujan setiap tahun, yang jauh lebih tinggi daripada yang diterima oleh negara-negara beriklim sedang sekitar 30-60 inci sepanjang tahun.

Kedelai telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Kedelai tidak hanya dibuat menjadi produk pangan seperti tempe, tahu, susu kedelai, kecap, dan substitusi daging, tetapi masyarakat juga mengonsumsinya dalam bentuk minyak kedelai dan bungkil kedelai. Bungkil kedelai banyak digunakan sebagai pakan ternak dan perikanan budidaya, jadi manusia juga mengkonsumsi kedelai secara tidak langsung melalui daging, susu, dan hasil perikanan budidaya. Kedelai juga kadang tersaji di meja makan kita sebagai minyak—yang mewakili sekitar 27% dari produksi minyak nabati dunia. Kedelai juga semakin banyak digunakan untuk produksi biodiesel untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak.

Pola perdagangan kedelai global

Ekspor kedelai global adalah bisnis raksasa yang bernilai lebih dari US$60 miliar di tahun 2019, dengan tambahan US$26,8 miliar untuk bungkil kedelai dan US$8,8 miliar untuk minyak kedelai. Untuk perbandingan, perdagangan beras pada tahun yang sama mencapai nilai US$20,9 miliar, sedangkan untuk perdagangan gandum perkiraan nilai perputaran ekonomis sebesar US$44 miliar. Gandum bernilai sekitar dua kali lipat dari beras, akan tetapi nilainya masih sekitar 16 miliar lebih sedikit dibandingkan dengan perdagangan internasional kedelai (http://www.fao.org/faostat/en/#data/TCL).
Secara geografis, arus perdagangan internasional kedelai saat ini terkonsentrasi secara besar-besaran di sekitar dua kutub utama. Di satu sisi, benua Amerika sebagai eksportir (dan produsen), dengan sebagian besar kedelai yang diperdagangkan secara internasional berasal dari Amerika Serikat (AS), Brasil dan Argentina.
AS dulunya adalah produsen kedelai terbesar di dunia, tetapi Brasil mengambil alih posisi ini pada tahun 2018 berkat ekspansi lahan panen dan peningkatan produktivitas yang terlihat sejak tahun 2012 di negara tersebut (Grafik 1). Brasil telah mencatat pertumbuhan area panen sebesar 6,4% per tahun selama 2,5 dekade terakhir. Di sisi lain, petani kedelai AS berhasil meningkatkan produksi kedelai secara konsisten dengan praktik pertanian yang intensif dan lebih berkelanjutan, seperti yang ditunjukkan oleh pertumbuhan luas panen yang jauh lebih rendah sebesar 2% per tahun pada periode yang sama. Budidaya kedelai di AS sangat didukung oleh praktek pertanian berkelanjutan, kemajuan teknologi benih, mekanisasi pertanian, penggunaan produk perlindungan tanaman seperti pestisida dan herbisida secara tepat guna/tepat dosis, kegiatan konservasi lahan seperti pertanian tanpa membajak tanah, dan mengalokasikan 10% dari lahan pertanian AS untuk melindungi area sensitif yang biasanya ditumbuhi tanaman penutup seperti rumput asli, pohon, atau tanaman penutup lainnya yang bermanfaat mencegah erosi unsur hara tanah.

Di sisi lain, benua Asia adalah importir (konsumen) kedelai terbesar dengan nilai sekitar 80% dari total impor kedelai global pada tahun 2017, dengan porsi impor terbesar yaitu China (Grafik 2). Produksi kedelai China stagnan dalam dua dekade terakhir, sementara tingkat konsumsinya terus meningkat pada periode yang sama. Hal ini memberikan peluang kepada negara-negara eksportir di benua Amerika untuk menutup defisit kedelai di China.

Gambar 1. Tren Produksi kedelai di Negara Produsen Utama

Lebih lanjut mengenai China, negara ini hanya menyumbang 5,5% dari impor kedelai global pada tahun 1997. Dua dekade kemudian, China – yang bergabung dengan WTO pada tahun 2001 – mewakili 64% dari pasar impor kedelai dunia, dengan negara pengimpor terbesar kedua dan ketiga. – Meksiko dan negara-negara anggota UE – secara bersama-sama hanya menyumbang 12% dari total impor pada tahun 2020 (Grafik 2).


Gambar 2. Impor Kedelai oleh China dan Rest of the World

Dinamika pasokan dan permintaan kedelai global

Dinamika pasokan kedelai ditentukan oleh kondisi produksi kedelai di negara-negara produsen utama yaitu Amerika Serikat, Brazil dan Argentina. Cuaca menjadi salah satu faktor utama yang menentukan volume produksi tahunan kedelai di negara-negara tersebut. Kekeringan yang melanda Amerika Serikat berdampak pada penurunan produksi kedelai sebesar 6 juta ton di tahun 2012. Kekeringan yang dialami oleh Argentina di tahun 2018 mengakibatkan penurunan produksi kedelai di negara tersebut sebesar 17 juta ton. Tidak hanya kekeringan, curah hujan yang tinggi juga berdampak pada produksi kedelai. Misalnya, curah hujan yang tinggi mengakibatkan mundurnya penanaman kedelai Amerika di tahun 2019, sehingga tidak semua ladang kedelai dapat ditanami. Penurunan area tanam kedelai berdampak pada penurunan produksi kedelai sebesar 23 juta ton di tahun tersebut.

Selain produksi, distribusi kedelai dari ladang ke Pelabuhan ekspor lalu ke Pelabuhan negara tujuan juga mempengaruhi pasokan kedelai. Unjuk rasa 14.000 pekerja Pelabuhan selama hampir 9 bulan mengakibatkan terganggunya proses bongkar muat di 29 pelabuhan di pantai barat Amerika di tahun 2015. Sekitar 30% kedelai Amerika di ekspor melalui Pelabuhan- Pelabuhan di Pantai Barat. Argentina juga belum lama ini mengalami unjuk rasa pekerja di Pelabuhan Rosario terkait dengan lambatnya program vaksinasi COVID-19 untuk pekerja Pelabuhan. Lebih dari 80% produk pertanian Argentina seperti kedelai, jagung, bungkil kedelai dan gandum di ekspor melalui Pelabuhan ini. Mengingat Argentina adalah salah satu eksportir utama bungkil kedelai, unjuk rasa tersebut mengakibatkan keterlambatan pengiriman bungkil kedelai dari negara tersebut ke Kawasan Asia.

Secara umum, gangguan pasokan kedelai memicu kenaikan harga kedelai di pasar global. Penurunan produksi kedelai Amerika akibat kekeringan memicu kenaikan harga dari US$13.4/bushel di akhir tahun 2011 menjadi US$15.9/bushel di bulan September 2012. Menariknya, penurunan produksi kedelai Amerika di tahun 2019 tidak berdampak pada kenaikan harga. Hal ini terjadi karena stok kedelai Amerika melimpah dan permintaan kedelai dari China mengalami penurunan tajam karena beberapa hal yaitu perang dagang, konsumsi bungkil kedelai China yang mengalami penurunan akibat populasi babi yang berkurang secara drastis akibat merebaknya wabah ASF. Perlu diketahui bahwa China adalah importir kedelai terbesar di dunia dengan volume impor sebesar 85-100 juta ton per tahun. Ironisnya, Ketika produksi kedelai Amerika dan Brazil meningkat di tahun 2020, harga kedelai mengalami kenaikan secara gradual dari US$9/bushel di akhir tahun 2020 hingga mencapai level tertinggi di US$16/bushel di tahun 2021. Hal ini terjadi karena kenaikan produksi kedelai global relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan permintaan kedelai oleh China. Faktor lainnya adalah menipisnya stok kedelai di Amerika Serikat yang baru akan memasuki periode panen kedelai di bulan September 2021. Program re-populasi besar-besaran peternakan babi di China pasca terkendalinya wabah ASF meningkatkan kebutuhan bungkil kedelai secara signifikan. Konsekuensinya, China harus mengimpor lebih banyak kedelai untuk digiling menjadi minyak dan bungkil kedelai.

Pasokan dan permintaan kedelai di Indonesia

Produksi kedelai lokal Indonesia stagnan di angka kurang dari setengah juta metrik ton per tahun. Kebanyakan petani memilih menanam tanaman yang lebih menguntungkan seperti jagung dan padi dan mereka biasanya menanam kedelai sebagai bagian dari rotasi tanaman untuk meningkatkan kualitas tanah sebagai salah satu bagian dari siklus tanam tiga musim. Sebagai tanaman sekunder bagi sebagian besar petani, kedelai biasanya ditanam dengan input minimal, menghasilkan hasil yang rendah, kurang dari 1,3 ton per hektar.

Mayoritas kedelai yang ditanam dan diimpor diolah menjadi tempe dan tahu yang merupakan makanan pokok di Indonesia. Hampir semua tempe dan tahu diproduksi oleh produsen `lokal berskala kecil, sering kali berbasis industri rumahan yang menggunakan halaman belakang rumah sebagai tempat produksi. Dalam porsi yang lebih kecil, kedelai juga digunakan oleh usaha mikro dan kecil yang memproduksi kecap, tauco dan minuman sari kedelai.

Lebih lanjut mengenai tempe dan tahu, Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) terbaru menunjukkan tren positif konsumsi makanan berbasis kedelai di kalangan masyarakat Indonesia. Konsumsi tempe, menyumbang 71% dari total konsumsi makanan berbasis kedelai, mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 1,4% dalam periode 2013-2018. Tahu, konsumsi kedelai terbesar kedua, menunjukkan pertumbuhan konsumsi tahunan yang

lebih tinggi yaitu sebesar 3,2% pada periode yang sama. SUSENAS juga menunjukkan wilayah Sulawesi dan Kalimantan yang berpenduduk 35 juta orang, berpotensi menjadi sentra pertumbuhan baru dalam hal konsumsi pangan berbasis kedelai di Indonesia. Kedua pulau ini mencatat angka pertumbuhan konsumsi tempe dan tahu tertinggi di Indonesia. Tempe dan tahu bukan hanya sumber protein utama karena menyumbang 11,4% dari asupan protein harian, tetapi juga kedua produk tersebut dikonsumsi oleh semua tingkat pendapatan. Data SUSENAS menunjukkan 20% rumah tangga termiskin dan 20% rumah tangga terkaya masing-masing mendapatkan 8,7% dan 7,1% protein harian mereka dari tempe dan tahu.

Selain penggunaan di sektor pangan, sektor pakan Indonesia terus memanfaatkan kedelai untuk produksi kedelai penuh lemak atau full fat soyabean (FFS). Penggunaan FFS cenderung meningkat pada saat pasokan jagung lokal terbatas. Produksi FFS tahunan berkisar antara 180.000 metrik ton dan 200.000 metrik ton.

Dengan konsumsi kedelai domestik tahunan sekitar 3 juta metrik ton, saat ini Indonesia tidak memiliki pilihan lain selain mengimpor kedelai dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat ini. Indonesia rata-rata mengimpor 2,5 juta metrik ton kedelai setiap tahun, di mana lebih dari 95% diimpor dari Amerika Serikat. Menurut statistik USDA, Indonesia termasuk dalam 10 besar importir kedelai terbesar di dunia. Dalam konteks ini, Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting bagi industri kedelai AS, selain China, Meksiko, dan kawasan Uni Eropa.

Kedelai AS dan pengguna kedelai Indonesia: hubungan ekonomi timbal balik
Ke depan, pasokan kedelai AS yang berkelanjutan ke Indonesia tidak hanya akan menghasilkan manfaat ekonomi yang dinikmati oleh industri kedelai AS, tetapi juga akan mendukung peningkatan pendapatan bagi produsen tempe dan tahu skala kecil di Indonesia. Selain itu, pasokan kedelai AS juga memiliki peran yang strategis dalam penyediaan sumber protein yang terjangkau bagi penduduk Indonesia, sekaligus mendukung dalam upaya melestarikan tempe sebagai warisan budaya Indonesia. Tempe dan tahu yang dibuat dari kedelai AS dan ditanam secara berkelanjutan juga merupakan makanan masa depan karena sumber protein nabati ini berkontribusi pada kesehatan planet bumi, selain memberikan manfaat kesehatan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Adv